When Eats Meets Sweets, Welcome the Sugarush!

4 komentar

Sudah tidak asing lagi jika menelusuri daerah Braga, Bandung kesan klasik dan tempo dulu pasti menelusup kedalam pikiran kita. Deretan rumah dan toko-toko jaman dahulu masih menghiasi daerah yang kini semakin diremajakan dengan bergabungnya beberapa resto dan kafe-kafe bergaya modern-klasik. Tengoklah sebuah resto bernuansa modern klasik di ujung  Jalan Braga yang kental dengan nuansa merahnya. Ya, Sugarush, sebuah nama resto yang membuat setiap orang pasti memikirkan kata ‘gula’ saat pertama kali mengeja namanya. Nama yang manis itu ternyata membuat resto yang baru berdiri tujuh bulan lalu ini laris manis bak kacang goreng, terlihat dari antrian waiting list panjang saat saya datang kesini di hari Sabtu. 

Warna merah di bagian depan ternyata sedikit dikurangi dengan dominan warna dinding hitam dan cream di bagian dalam. Dinding-dindingnya dipercantik dengan beberapa tulisan dari kapur tulis dan lukisan orang yang menyerupai bayangan yang membuat saya terkagum-kagum. Kesan klasik Braga dibawa Sugarush dalam deretan lampu-lampu gantung klasik dengan beragam model di langit-langitnya dan juga beberapa lemari berisi patung-patung abstrak dan guci-guci klasik. Kesan modern ditampilkan Sugarush dalam bar yang diletakkan di bagian tengah ruangan dan beberapa lampu gantung di bagian ujung ruangan yang mirip seperti bunga kecubung. 

Sugarush boleh menampilkan kesan klasik dalam dekorasinya, namun tidak pada menunya. Menu-menu western, Italian, internasional dan Indonesian siap menggugah selera kita. Tengoklah beberapa menu pasta, salad, baked rice, atau sugarush beat untuk main course atau maniskan hari dengan beberapa pilihan cake juara disini seperti Red Velvet dan Rainbow Cake, pancake, waffles, atau churros, si snack khas Spanyol. 

Harga yang ditawarkan disini juga masih cocok dengan kantong anak muda. Untuk makanan, Sugarush menawarkan harga mulai dari Rp18.000 – 45.000, sedangkan minuman  mulai dari Rp13.000 – 20.000. Untuk aneka cake, Sugarush juga masih ramah dengan range rata-rata Rp25.000 per slice. 

Pilihan saya jatuh pada main course yang jadi favorit disini Loin Pasta (39K). Fettucinne dengan cream sauce dan beef slice. The penne went well into my stomach, unfortunately cream sauce-nya terlalu rich namun tidak gurih. Agak sedikit ‘enough’ di suapan saya yang terakhir karena cream sauce yang sangat ‘plain’ itu. Untungnya, saus lada hitam pada potongan dagingnya masih bisa menolong rasa si Loin Pasta ini.

Hamburg Rice (45K) menjadi pilihan saya selanjutnya. Tampilannya sangat unik, mirip seperti jamur raksasa. Namun jangan salah, ternyata ini tumpukan nasi putih yang diatasnya ditutup dengan daging cincang yang dipadatkan dan potongan wortel, jagung dan buncis. Pujian saya mungkin datang pada si daging cincangnya yang soft dan tasty. Bumbunya pas, perpaduan lada hitam dan bolognese taste membuat daging cincangnya terasa rich dan melengkapi si nasi yang mirip dengan nasi lemak itu.

Rainbow Cake (25K) menjadi salah satu cake yang di puja-puja disini. Sayangnya, saat saya mencicipinya entah mengapa saya kurang setuju dengan pendapat banyak orang. Again, this is my own opinion, lho. But for sure, tekstur cakenya kurang moist, cenderung mirip dengan bolu biasa dan mendekati chiffon cake. Manisnya kurang, cream cheesenya juga tidak pekat dan anehnya saya masih bisa merasakan rasa sweet cream yang biasa dipakai untuk birthday cake biasa.

 

Untuk minumannya, saya mencicipi Blueberry Smoothies (20K). Lagi-lagi agak kecewa karena si minuman ini sepertinya kebanyakan air dan kekurangan blueberry. Rasa blueberrynya tidak terlalu terasa, jadi mirip jus blueberry yang dikasih es kemudian mencair, jadi cuma sisa-sisa airnya yang terasa.

Overall, Sugarush boleh jadi sudah berhasil menampilkan kepiawaiannya dalam menjaring pecinta kuliner di Bandung dan sekitarnya, hanya saja perlu sedikit banyak pengembangan disana-sini terutama dari sisi menu. By the way, Sugarush sepertinya juga perlu memperhatikan kondisi ruangan disaat crowd lagi penuh-penuhnya. Ruangan yang cantik namun penuh sesak orang hingga AC-pun tidak terasa dan saya sampai keringetan itu jadi nilai minus yang fatal banget buat saya. Makan nggak enak, duduk pun gak tenang. Mudah-mudahan orang lain nggak begitu complain seperti saya hihihi.


The Sugarush

Jalan Braga No. 83
Bandung
@sugarush_bdg

 
  • Eating Until Die © 2012 | Designed by Rumah Dijual, in collaboration with Web Hosting , Blogger Templates and WP Themes