Omah Selat : Cara Seru Makan Steak a la Solo

2 komentar

Satu-satunya alasan saya mau datang ke Solo adalah masih banyak restoran yang menjunjung tinggi nuansa tradisional dan homey-nya rumah di perkampungan Solo dalam interior ataupun eksterior restorannya, salah satunya adalah Omah Selat. Mulsi dari area bagian depannya saja sudah disuguhkan suasana rumah tempo dulu dengan deretan kursi dan dinding dari kayu jati dihiasi dengan perlengkapan rumah tangga jaman dulu mulai dari nampan corak bunga dari besi yang sudah berkarat, piring-piring kaca, juga lampu petromak yang dimodifikasi.


Masuk ke bagian dalam nuansa tradisional semakin terasa dengan dinding kayu berukiran khas Solo dan penerangan redup yang menghasilkan cahaya kuning di segala sisinya. Ada beberapa area di ruangan ini, area pertama merupakan area lesehan yang di beberapa sudutnya terdapat deretan teko-teko alumunium tua, lemari tua berukiran Jepara dan beberapa pajangan keris gantung.


Masuk ke bagian tengah terdapat satu set meja makan. Dindingnya  kental dengan beragam ukiran dan hiasan piring-piring keramik dan oh ada satu yang lucu ada frame berisikan foto gadis a la 50-an, tipikal foto-fotonya Andy Warhol. Ada juga pajangan berupa rantang jaman dulu dengan corak hijau army-nya. Lampu gantungnya juga unik, tipikal lampu pada rumah gaya Jawa dan Betawi tempo dulu. Masuk ke bagian agak dalam, atau paling belakang terdapat dua ruangan, ruangan sebelah kiri pertama memiliki dua sofa besar yang bisa ditidurin yey! Di seberangnya terdapat dertan setrikaan sangat kuno yang jaman dulul masih menggunakan arang, tapi lucunya ada TV LCD 29 inch di gantung ditengan dinding. Tak lupa deretan toples usang di bagian samping dan foto-foto pemilik restoran ini. Ruangan sebelahnya terkesan agak private karena sangat tertutup dan memiliki set meja makan yang lebih bagus mirip seperti kursi makan di keraton Solo. Di bagian luarnya terdapat pajangan termos-termos tua dan rantang.


Ah rasanya masuk ke restoran ini seperti dibawa kembali ke Solo beratus tahun silam dan tidak sampai disini, saya juga dimanjakan dengan kuliner khas Solo yang jadi jualan utama restoran ini, Selat Solo. Mungkin sedikit asing bagi yang belum pernah mendengarnya, saya pun begitu, ternyata selat merupakan makanan yang terbuat dari daging sama seperti steak hanya saja penyajiannya ya a la tradisional. 

Coba tengok Selat Segar (12.5K) yang saya pesan ini. Selatnya berupa rolade daging yang disiram dengan kuah kecap yang cair disajikan dengan kentang goreng, potongan wortel, telur rebus, kacang polong, selada, dan keripik kentang. Mirip sekali seperti penyajian steak hanya saja steak Solo ini direndam di kuah hihihi... Rasanya? Sama persisi seperti makan beef steak. Daging roladenya empuk, dengan bumbu kecap dan sedikit rempah yang cukup menyengat di lidah. Agak sedikit kemanisan sih buat saya, but so far it's okay. I just enjoy something new dari sebuah kekayaan kuliner Indonesia ;-)


Berbeda dengan selat segar, Selat Iga Bakar (20K) yang ini disajikan sebagaimana steak pada umumnya. Potongan iga sapi yang dibakar dan disajikan dengan potongan wortel, buncis, ubi ungu, kentang goreng dan mayonnaise. Lucunya di atas iga yang dibakar ada lelehan kejunya wuoooh makin ngiler saya! Iganya dibakar well-done, dagingnya empuk sekali, dan bumbunya meresap sampai kedalamnya sedangkan sausnya mirip saus bolognese untuk pasta hanya sedikit pedas manis.


Soup Lapis Galantin (12.5K) lebih unik lagi, sup ini berisikan selat yang merupakan campuran daging sapi dan ayam ditambah dengan potongan wortel, kacang polong, jamur kuping putih, keripik kentang dan sosis sapi. Kuah supnya gurih dan asinnya pas. Sisanya sih menurut saya seperti menyantap sop pada umumnya saja. 


Overall, lagi-lagi saya menikmati apapun yang unik disini, lagipula nggak perlu merogoh kocek terlalu dalam juga tiap kali makan di Solo. Disini seporsi selat yang notabenenya sudah bermodel steak mahal saja range harganya masih dikisaran Rp20.000 - 25.000, selat segar dan sop malah hanya Rp12.500. Hmm...nggak salah saya memilih jelajah kulineran disini, selain suasana homey yang saya cari, makanan dengan harga 'terlalu' masuk akal pun bisa saya dapatkan. I'm gonna miss this city for sure!


Omah Selat & Gallery

Jl. Gotong Royong No. 13
Jagalan, Solo
0271.656205

Sate Kere Yu Rebi

1 komentar

Tenang aja, kamu nggak akan 'kere' kok cuma karena makan sate ini hihi...sate kere ini memang salah satu makanan khas Solo yang wajib dimakan saat berkunjung disini. Kenapa dinamakan 'kere' karena katanya orang Solo nggak sanggup pesan satu porsi dengan beragam jenis, jadinya dijadiin satu porsi isi macam-macam daging mulai dari daging, babat, ati ampela, gajih, ginjal, sampai torpedo! Tapi sebenarnya 'kere' itu merupakan nama lain dari tempe gembus atau ampas sisa pembuatan tempe. Kere ini diolah lagi sehingga bisa dimakan, deh. 

Salah satu gerai sate kere ternama di Solo adalah Sate Kere Yu Rebi. Sudah bertahun-tahun Yu Rebi berjualan disini dengan rumah makan yang semuanya di cat berwarna oranye. Rumah makannya cukup luas berkapasitas kira-kira 80 orang. Di salah satu dindingnya kita bisa melihat foto Yu Rebi dan suaminya lengkap dengan kebaya dan beskapnya. Di bagian depan rumah makan, saya bisa melihat etalase berisi daging-daging yang sudah ditusukkan ke tusuk sate dan sebuah panggangan sate yang selalu mengepul.

Yu Rebi menjajakan aneka jenis sate yang rata-rata jerohan sapi, that's why nama rumah makan ini sebenarnya sudah berubah menjadi Sate Jerohan Sapi Yu Rebi. Sate daging, ginjal, babat, ati, torpedo merupakan pilihan bagi para penikmat jerohan. Seporsi sate tersebut berisi 10 tusuk. Saya memilih sate campur yang berisikan kesemua daging tersebut plus sate kere karena penasaran seperti apa tempe gembus itu.

Seporsi sate disini disajikan dengan lontong ataupun nasi. Saya memilih lontong. Lontong dan satenya sama-sama disiram dengan bumbu kacang yang agak sedikit pedas. Bumbunya sangat kental dan rasa kacangnya pun begitu pekat bahkan saya masih melihat potongan kacang kecil-kecil di bumbunya.



Sate campur sendiri isinya daging, ati, ampela, babat, gajih, ginjal, dan torpedo. Buat saya ketika semua daging ini dimakan bersamaan dengan bumbunya rasanya sama hehehe...Yang membedakan hanyalah tekstur tiap dagingnya saja dan ada ciri khas rasa tertentunya, seperti ati dan torpedo, kenyalnya beda dengan daging biasa. Anyway, walaupun terlihat tidak pedas, after taste bumbu kacang Yu Rebi ini dahsyat, pedasnya baru berasa di tenggorokan dan perut setelah makan! Nggak membayangkan orang yang menambahkan cabe dan bawang merah tambahan yang juga disodorkan Yu Rebi hihihi...


Sedangkan si sate kere alis si tempe gembus di bentuk kotak panjang dan ditusukkan ke sate. Sama seperti sate lainnya, si kere ini juga di bakar terlebih dahulu hingga kecokelatan. Teksturnya lembut sekali dan sedikit puffy dan terasa sedikit berampas ketika dikunyah. Rasanya gurih, sedikit mirip seperti makan adonan tempe dan tahu yang diblender halus.

 

Soal harga, kalau kata orang Solo yang sudah lama tahu Yu Rebi, harga disini semakin hari semakin mahal, mungkin karena Yu Rebi sudah punya 'nama'. Seporsi sate rata-rata dibanderol dengan harga Rp.22.000. Selain sate, Yu Rebi juga menyajikan sop buntut dan gado-gado komplit atau biasa dengan harga Rp10.000 untuk gado-gado dan Rp22.000 untuk sop buntut. Minuman murah aja rata-rata Rp2.000 - 3.500.

Yah, walaupun mahal berkunjung ke kedainya Yu Rebi nggak akan jadi kere juga kok. Kalau saya sih sangat terobati dengan si sate kere tersebut. Kulineran di kota yang masih kental makanan aslinya itu nggak akan pernah rugi. Hayoo siapa lagi yang mau mampir ke Solo. Share your stories here, eaters!



Sate Kere Yu Rebi (Sate Jerohan Sapi Yu Rebi)

Jl. Kebangkitan Nasional Kios No. 1-2
Sriwedari, Solo
Telp. 0271-739839

Bestik Jawa : Steak a la orang Kampung

0 komentar

Ketika lagi ingin makan steak, teman saya mengajak saya berpetualang menikmati sajian steak yang lain daripada biasanya, yah di kota Solo tempat saya backpacking ini memang selalu saja ada kuliner Indonesia yang tak lazim saya temui sebelumnya. Kali ini saya tidak mampir ke restoran steak melainkan ke sebuah rumah makan yang menyediakan bistik Jawa atau bestik kata orang Solo. Di sebuah rumah makan di pinggir jalan Honggowoso, Solo, bestik ini dijajakan. Rumah makannya memiliki dua area, satu tenda pinggir jalan, satu lagi di dalam ruko. Malam itu saya bisa melihat rumah makan ini begitu ramai dikunjungi, aroma daging dengan kecap menyeruak dimana-mana dan menusuk-nusuk hidung saya. Area tenda terlihat tidak terlalu bersih menurut saya ditambah dengan asap yang mengepul dari gerobak tukang masaknya. 

Akhirnya, saya memilih area ruko dengan jejeran bangku dan kursi kayu sederhana dan penerangan yang sedikit redup. Menu andalan disini pastinya bestik, mulai dari bestik daging, bestik ayam, bestik lidah, bestik, jerohan, dll. Ada juga aneka bakmi, mie goreng, nasi goreng, fu yung hai, dan paklai. Saya penasaran dengan Bestik Daging-nya (18K). Dan ketika sampai di meja, saya terbengong-bengong. Lho ini toh bistiknya? kirain salah pesanan hehehe...ya, yang datang di meja saya bukanlah bistik berupa daging berpotongan besar yang di panggang melainkan potongan daging cincang yang disiram kuah kecap lengkap dengan potongan wortel dan kentang serta selada. Wuih, inilah bestik Jawa yang dikenal dikota ini. Mungkin aneh buat saya karena sebelumnya memang belum pernah makan bistik Jawa dimanapun hehehe...

Kalau dari segi rasa saya acungi jempol, sama saja seperti saya makan steak potong, bedanya ini dicincang. Dagingnya dicincang halus, kuah kecapnya mirip saus teriyaki dan menguarkan roma daging sapi panggang yang kuat. 



Sebagai tambahan, saya coba mencicipi Nasi Goreng Daging (14K) dengan tambahan telur dadar isi daging. Nasi gorengnya kurang bersahabat dengan selera saya, karena rasanya sedikit hambar dan terasa seperti makan nasi gosong. Telur dadarnya cukup enak dengan pottongan daging yang empuk dan gurih. 


Untuk menyegarkan tenggorokan, Es Coklat (3,5K) menjadi pilihan saya. Sepertinya ini memang hanya cokelat bubuk biasa yang diberi tambahan gula dan es. Cokelatnya cukup pekat, manisnya pas, dan segar buat menetralisir makanan berkuah kental yang saya makan sebelumnya.  


Overall, nggak pernah ada kata menyesal jika mencicipi kuliner Nusantara, kalaupun itu nggak enak, ya itu semata-mata hanya perbedaan lidah tiap orang kan. Makan di rumah makan sederhana ini juga tak perlu merogoh kocek terlalu dalam, cukup dengan Rp11.000 - 22.000 kamu bisa mencicipi aneka bestik khas Solo dan Rp 2.500 - 3.000 saja untuk minumannya. Makan di Solo, selalu masuk akal, bukan!


Sumber Bestik Pak Darmo

Jl. Honggowongso, Panularan
Solo
Telp. 0271-712415

Ngeteh Cantik di Rumah Ndoro Donker

0 komentar

Apa yang nikmat dari jalan-jalan ke daerah pegunungan yang sejuk kemudian hujan deras dan badan kedinginan? Minum yang hangat-hangat kalau buat saya. Nggak heran ketika terjebak hujan deras di daerah Kemuning, Karanganyar, Solo, saya dan teman-teman memutuskan berteduh sambil ngeteh cantik di sebuah rumah teh bernama Ndoro Donker. Rumah teh yang memiliki nama sepintas seperti nama orang Belanda ini sebenarnya memang dimiliki oleh seorang lelaki berkebangsaan Belanda bernama Donker yang juga memiliki perkebunan teh di daerah Desa Kemuning ini. Rumah teh ini berdiri cantik di tengah-tengah perkebunan teh yang asri. Dengan konsep gaya Belanda, saya disuguhkan suasana homey mulai dari pelataran parkir rumah ini. Di bagian dalamnya terdapat dua area, area indoor dan outdoor. Di outdoor terdapat set meja makan kayu dan beberapa ada yang dipayungi oleh payung pantai cantik berwarna merah. Suasana taman dan pegunungan sangat terasa jika makan di area outdoor ini. Jika ingin merasakan suasana rumah Belanda, coba tengoklah ke bagian indoornya. Ada deretan pigura-pigura foto tempo dulu di dindingnya yang putih dan furnitur jaman dulu lengkap dengan karung berisi rempah-rempah di salah satu sudutnya. Kita juga bisa melihat rak berisikan kotak-kotak teh siap minum hasil dari perkebunan teh ini. 

Karena saya dan teman-teman mau menikmati suasana dinginnya pegunungan dan hijaunya kebun teh, maka area outdoor lah yang dipilih. Makanan yang ditawarkan disini juga beragam, rata-rata sih masakan Indonesia yang namanya diubah dengan nama Belanda hehe...Minuman yang jadi jualan utama sih pastinya teh, mereka punya varian teh diantaranya Teh Hijau Kemuning, Teh Oolong, Teh Hitam Donker, Teh Aroma 63, Teh Aroma Inggris dengan pilihan earl grey, passion fruit, lady grey, dll), dan Teh Herbal. Semuanya disajikan baik dalam ukuran cangkir ataupun teko.

Passion Fruit Tea dan Teh Aroma 63 Mint menjadi pilihan kami. Untuk yang mint rasanya dingin ketika masuk di tenggorokan walaupuun disajikan panas dan tidak terlalu pahit. Oya, untuk pemanisnya disini juga disuguhkan gula jawa lho. Jadi, lebih mantap rasa dan aroma tehnya. Sedangkan, Passion Fruit malah terasa sangat pahit di lidah saya, jadi mesti banyak-banyak makan gula jawa deh hehehe....


Untuk menu pembuka, saya dan teman-teman memilih beragam snack karena perut belum terlalu lapar. Holand Aardapel, kentang yang disiram dengan bumbu khas Belanda menjadi awalan cemilan kami. Saya terkejut dengan tampilan luarnya, kentang panggang di potong kubik kemudian disiram dengan bumbu kuning dan ditaburi parutan keju yang buanyaaak banget! Sayangnya, tampilan dalamnya tidak seenak luarnya, kentangnya mungkin well-baked hanya saja bumbu kentalnya itu rasanya kurang cocok dengan kentang yang plain. Bumbunya manis dengan after taste seperti kuah soto dan tercium aroma bawang yang sangat kuat. Ah perpaduannya yang kurang pas buat saya, bahkan kejunya pun malah membuat semuanya eneg.


Gebakken Cassave atau Ubi Goreng khas Donker ini mengembalikan selera saya, ubi manis yang sepintas mirip kroket ini dibalut dengan tepung yang crunchy dan dicocol dengan mayonnaise. Manis ubinya pas dan tidak membuat saya eneg walaupun dicocol di mayonnaise yang asam.


Begitupun dengan Zoete Aardappelen, ketela goreng potong kubik yang dilumuri madu dan wijen menjadi cemilan manis yang menggugah selera saya. Ketelanya empuk dan madunya juga nggak terlalu manis. Enak deh seperti kesukaan saya jaman kecil, makan gorengan dicocol dengan lelehan gula jawa hehehe...


Gegrilde Banana juga cemilan yang cukup asik dimakan di dinginnya udara pegunungan. Pisang goreng yang dipotong kipas ini disiram dengan lelehan cokelat dan taburan keju. Pisangnya tidak terlalu lembek dan terigunya juga tidak terlalu pekat. Everything just well for my belly.


Masuk ke main course, pilihan menyantap Soup Iga Donker yang masih hangat sangatlah tepat. Aroma gurih iga langsung menjilat indera penciuman saya bahkan saat mangkuknya agak jauh dari hadapan saya. Kuahnya super gurih dengan taburan bawang goreng dan potongan daun bawang serta seledri. Iganya juga lembut dan mudah dipotong. Segar sekali disantap di siang yang dingin ini.


Iga Bakar Donker tak kalah juaranya, disajikan dengan nasi putih yanng dibentuk hati, iga bakar ini dibakar dengan kematangan yang pas dan bumbu kacang dan kecapnya meresap sampai kedalamnya. Potongannya juga kecil-kecil sehingga mudah untuk memotong dagingnya kembali.Sambal merahnya juga tidak terlalu pedas, masih normal untuk lidah saya yang bukan pecinta pedas. 



Wah, rasanya perut saya puas banget bisa ngeteh cantik sambil menikmati lezatnya menu-menu Indonesia disini plus ngobrolin traveling dengan sesama backpacker. Coba suasana seperti ini bisa didapatkan tidak jauh dari Jakarta ya, pasti saya akan sering-sering kesini. Anyway eaters, buat kamu yang akan mampir ke daerah Kemuning, Solo, coba deh sempatkan mampir kesini. Harga makanan mereka juga masuk akal kok. Untuk appetizer mulai dari Rp5.000 - 12.500; main course Rp15.000 - 30.000; minuman Rp6.000 - 25.000.  Happy tea hunting, eaters!



Rumah Teh Ndoro Donker

Jl. Afdeling Kemuning No. 18
Karanganyar, Surakarta
Solo
www.ndorodonker.com

Soto Kwali Mbak Eny

0 komentar

Kalau kulineran di Jogja atau Solo jangan pernah heran jika menemukan makanan enak tapi murah, seperti saya yang pagi ini terkaget-kaget menemukan semangku Soto Kwali hanya Rp3.500 saja!

Di sebuah rumah makan Soto Kwali di Mojosongo, saya menikmati soto yang dimasak di dalam kuali ini semurah itu. Sebenarnya ini seperti soto daging biasa, isinya pun hanya nasi, potongan daging, dan kuah soto bening yang gurih. Soto ini disajikan dalam mangku kecil, ya wajar sih kalau harganya juga murah hihihi...cuma buat saya semangkuk kecil dengan nasi dan disantap hangat-hangat langsung mengenyangkan perut saya.

 

Soto Kwali ini dapat ditemui hampir disemua sudut kota Solo. Kata temen saya yang asli Solo sih belum ada tempat yang punya Soto Kwali enak banget, ya mungkin karena soto ini hanya penganan sehari-hari orang Solo. Tapi setidaknya makan sot Kwali di Mojosongo ini nyaman, soalnya dia bukan warung tenda kecil. Tempatnya luas, dengan bangku dan kursi-kursi plastik cukup untuk kurang lebih 50 orang. Suasananya juga homey dan adem. Sangat worth it dengan uang Rp3.500 bisa dapet makanan enak plus tempat makan yang nyaman pula, kan!

 


Soto Kwali Mbak Eny
Jl. Jayawijaya 68
Mojosongo, Solo

Cabuk Rambak

0 komentar

Sehabis saya menikmati Dawet Telasih di Pasar Gede, saya berjalan ke arah pintu keluar pasar dan menemukan penjual Cabuk Rambak. Seorang ibu muda yang menggelar dagangannya di lantai hanya dengan sebuah bakul berisi beberapa ikat ketupat dan  cabuk rambak. Jadi cabuk rambak itu berupa bumbu pelengkap, seperti bumbu kacang pada gado-gado atau ketoprak, yang terbuat dari wijen dan ketan yang kemudian diencerkan dengan air dan disiram di atas potongan ketupat. Simple, isn’t it? Sama seperti harganya juga yang membuat saya tercengang-cengang, kalau kemarin saya menemukan Soto Kwali seharga Rp3.500, ini sebungkus cabuk rambak seharga Rp2.000 saja! Oh Solo, bukan Cuma kotanya yang ramah bahkan harga makanan pun sangat sangat ramah disini hehehe…



Segarnya Dawet Telasih Bu Dermi

2 komentar

Kalau ada kesempatan mampir ke Pasar Gede, Solo, coba masuk lebih dalam ke area Blok Ayam Goreng. Di seberang jejeran pedagang buah, kita bisa melihat spanduk hijau besar bertuliskan Dawet Telasih Bu Dermi. Ya, disinilah salah satu dawet Solo yang tersohor di kota ini. Tempatnya memang hanya kedai kecil di tengah-tengah pasar yang ramai dan bau. Tapi saya menemukan kenikmatan asli makan dawet bersama riuhnya suasana pasar pagi itu.

 
Dawet Telasih atau dawet selasih merupakan salah satu pengembangan dari dawet ayu yang normalnya berisi cendol. Biasanya beda daerah, beda juga penyajiannya meskipun namanya sama-sama dawet. Dawet Solo ini isinya berupa jenang sumsum, ketan hitam, cendol, tape hijau, dan biji selasih. Kuahnya seperti biasa gula jawa dicampur nangka dan santan. I love jackfruit! Makanya pas menyeruput es ini saya seperti dibawa ke surga haha lebay...wangi pandan dan nangkanya bikin minuman ini segar banget dan manisnya ga berlebihan. Ah rasanya semangkuk dawet telasih ini ga cukup buat saya, tapi berhubung saya tidak suka bau khas pasar, ya cukup satu sajalah untuk mengobati rasa penasaran akan es dawet ini.

Harganya juga murah banget cuma Rp6.000 saja semangkuk. Minuman enak, ditambah suasana riuhnya pasar dengan keramahan orang-orang Solo, ah rasanya saya gak salah memilih memanjakan perut di kota ini!

Sop Buntut Bu Ugi: Aromanya Nggak Bisa Bohong!

0 komentar

Hari kedua backpacking ke Solo kali ini saya menyempatkan main ke daerah Tawangmangu setelah dikomporin sama teman saya kalau disana ada sop buntut paling enak se-Solo. Tanpai dikomandoi lagi, saya meluncur kesana dengan berbekal mobil sewaan karena seharian hujan dan nggak bisa touring pakai motor. Singkatnya, saya terdampar di daerah pegunungannya Solo, Tawangmangu yang sejuk dan dingin banget dan keputusan nyobain makanan yang hangat seperti sup itu memang pilihan tepat. Sop Buntut dan Pecel Bu Ugi-lah pilihan saya. Rumah makan ini terletak di pinggir Jalan Raya Solo-Tawangmangu, tepatnya disebelah timur pasar Tawangmangu. Posisinya di sebelah kanan dan berada di jalur penanjakan menuju Tawangmangu. Kalau kata teman saya sih, kalaupun kita kesulitan mencari rumah makan ini, cukup bilang Bu Ugi saja semua orang Tawangmangu pasti tau. Soalnya dengar-dengar rumah makan yang awalnya terkenal dengan Nasi Pecelnya ini sudah berdiri sejak tahun 1930 dan merambah ke sop buntut pada tahun 1980-an.

Rumah makannya cukup besar dan nyaman dengan kapasitas kira-kira 50 orang. Baru duduk saja saya sudah bisa mencium aroma sop buntut yang wangi sekali dan membuat perut saya benar-benar bergejolak. Nggak sampai 10 menit setelah order, sop buntut itu datang ke meja saya dan lagi-lagi aroma gurih dan bau daging sapinya itu lho, kok bisaaaa menggoda banget yah hihihi...

Saya terkejut pas melihat seporsi sop buntut Bu Ugi ini, beda dengan sajian sop buntut yang biasa saya makan di Jakarta. Semangkuk sop buntut Bu Ugi ini disajikan dengan potongan kentang dan wortel yang besar dan taburan daun bawang. Dagingnya pun gak hanya buntut tapi ada beberapa potongan daging sapi lengkap dengan tulangnya. Plus perkedel dan gorengan tempe yang bisa jadi pelengkap sop. 


Jangan tanya seperti apa reaksi saya setelah menyeruput kuah sopnya. Yang bisa saya bilang hanya 'Ya Oloh rasa kuahnya mirip sama wanginya!' It's perfect! Saya bisa merasakan rasa daging sapi yang kuat dan gurih bahkan hanya menyeruput kuahnya yang kental itu. Ini jarang-jarang banget lho terjadi pada sop bening yang biasa saya makan. Biasanya cuma wanginya aja, rasanya pasti beda, tapi Bu Ugi make it right! Potongan buntut dan dagingnya pun lembut dan mudah dikunyah. Kalau suka pedas, Bu Ugi menyediakan saus kecap yang sudah ditambah irisan cabai. Kalau buat saya sebenarnya agak failed pas kuahnya diberi kecap pedas, soalnya udah nggak berasa gurih lagi. Percayalah, kuah originalnya itu lebih mantaaaap! Dijamin ketagihan!


Seporsi sop buntut ini dihagai Rp17.500 saja. Harga yang sangat murah melihat harga daging sekarang sangat mahal. Nah, lagi-lagi saya nggak nyesel jauh-jauh ke Tawangmangu hanya untuk nyicipin sopnya si Bu Ugi ini, selain suasana pegunungan yang begitu lekat di sekitar saya, mencicipi lezatnya sop ini juga benar-benar memanjakan perut saya. Indahnya bisa menikmati kuliner Indonesia seperti ini. Sampai ketemu di jelajah kuliner Solo saya selanjutnya, eaters!


Sop Buntut & Nasi Pecel Bu Ugi

Jl. Raya Solo-Tawangmangu
Sebelah timur Pasar Tawangmangu,
Karanganyar, Solo

Nasi Liwet Yu Sani

0 komentar

Malam pertama di Solo saya habiskan dengan mencari kuliner yang lekat dengan cirinya yang muncul di malam hari, Nasi Liwet atau Sego Liwet salah satunya. Sebenarnya saya nggak terlalu tertarik dengan Nasi Liwet ini melihat beberapa kali saya mencicipi di Jakarta rasanya ya seperti makan nasi biasa dengan lauk pauk malah kadang nasi yang harusnya kental dengan santan itu terasa seperti makan nasi biasa. Tapi lagi-lagi karena ini di Solo, darah dimana si Nasi Liwet aslinya berada, saya wajib mencicipinya. 

Saya menelusuri daerah Solo Baru, sebuah kota mandiri di Solo yang dikembangkan secara modern dengan deretan pertokoan, mal dan apartemen yang beberapa masih dalam pembangunan. Di sekitar area ini, kalau malam hari berderet warung tenda dna angkringan yang menjajakan makanan khas Solo, salah satunya Nasi Liwet Yu Sani. Nasi Liwet Yu Sani ini berada di paling ujung, di dean pertokoan Solo Baru. Seperti biasanya, karena warung tenda ini sudah terkenal, rata-rata orang Solo pasti sudah hapal dimana posisi Nasi Liwet Yu Sani ini. Beruntungnya saya kesini sebelum pukul 8 malam, karena katanya nasi liwet ini cepat habis kalau sudah di atas jam 8. 

Warung tendanya cukup luas dan bersih, ada area lesehan dan area dengan kursi panjang. Saya bisa menghirup aroma santan yang kuat dari nasi liwet yang masih mengepul di pancinya. Deretan makanan pelengkap nasi liwet yang terhidang di meja seperti ati, ampela, ayam sayur, gudeg, sayur labu langsung memangil-manggil perut saya. Saya memilih memesan nasi liwet dengan ati ampela, sedangkan teman saya dengan ayam sayur kuning.


Tak perlu menunggu lama, nasi liwet datang kehadapan saya disajikan dengan piring yang beralaskan daun pisang. Hmmm...belum saya makan saja, aroma kental santannya lagi-lagi menggoda saya. Nasi liwet memang dibuat dari campuran nasi dan santan kelapa encer sehingga menghasilkan tekstur nasi yang pulen, agak basah, dan wangi. Rasanya perpaduan gurih dan manis. Nasi liwet ini sangat enak dinikmati selagi hangat ditambah dengan sayur labu dan areh, gumpalan santan yang jadi ciri khas pelengkap nasi liwet ini. Ati ampela atau ayam sayur, keduanya sama enaknya. Dagingnya empuk dan cocok dimakan dengan si nasi liwet. Intinya, santan dengan nasi belum pernah seenak ini buat saya!


Makan seporsi nasi liwet ini nggak perlu mikirin harga, cukup dengan Rp7.000 saya sudah bisa menikmatinya atau kalau mau porsi lengkap cukup tambah Rp2.000 saja. Ah, rasanya ingin menambah satu piring lagi, tapi cukuplah malam ini perut saya berkeliling Solo. Masih ada esok dan kuliner menggoda lainnya yang siap dinikmati perut saya yang sudah membuncit ini hehehe...


Nasi Liwet Yu Sani

Jl. Raya Solo Baru (depan pertokoan)
Telp: 08122975311, 081578485657
Buka : 17.30-23.00

Wedang Dongo Keprabon

0 komentar

Main ke daerah Jawa Tengah belum lengkap rasanya bila belum mencicipi minuman khasnya, wedang. Wedang di beberapa daerah di Jawa Tengah memiliki nama dan jenis yang berbeda-beda. Yang paling terkenal ya wedang jahe atau wedang ronde, namun di Solo namanya Wedang Dongo. Wedang Dongo di Solo tersebar hamper di tiap sudut kota ini. Namun, wedang yang terkenal enaknya dan bahkan sudah pernah masuk ke beberapa liputan media, ada di daerah Keprabon. Saya menelusuri daerah Keprabon kearah selatan Jalan Teuku Umar, disana terdapat deretan warung tenda nasi liwet dan wedangan, yang saya cari ada di sudut jalan sebelah kanan tepatnya sebelum Optik Atlas, Wedang Dongo Keprabon, namanya. Jika bingung mencarinya, yang membedakan warung ini dengan yang lain adalah tendanya, jika rata-rata bertenda satu, waarung ini memiliki dua tenda dengan warna merah putih menyolok bertuliskan Wedang Dongo Keprabon dan ada cap Wisata Kuliner Telkomsel-nya. 



Warung wedang ini sudah berdiri 20 tahun dan sekarang sudah dipegang oleh generasi kedua. Si pemilik, kebetulan ibunya teman saya, bernama ibu Naniek Yulianti. Bu Naniek yang terlihat berusia kepala empat ini terlihat masih segar dan ramah melayani kami. Ada dua meja panjang di tiap tenda, yang satu dijadikan tempat untuk meletakkan wadah dan toples berisi bahan-bahan campuran wedang. Wedang yang ditawarkan disini ada wedang dongo, wedang asle, wedang kacang putih, dan kacang hijau, wedang sekoteng dan  es klengkeng. Saya pun langsung memesan minuman andalan disini, wedang dongo, wedang kacang putih, dan es klengkeng. 


Wedang dongo ini berupa ronde kacang, kacang sangrai, dan kolang-kaling yang di siram air gula hangat. Hmmm…sudah pasti tau kan lezat dan hangatnya minuman ini. Manisnya pas dan rondenya juga lembut. Pas banget diminum di udara malam Solo yang sedang dingin. Bedanya dengan wedang dongo, Wedang Kacang Putih dipakaikan ketan putih dan warna putih airnya itu karena telah dicampur kacang putih yang sebelumnya dikukus dengan daun pandan hingga warnanya menjadi sanngat putih. Rasanya manis seperti minum bubur ketan dengan santan hehehe….


Sedangkan, si Es Klengkeng ini sebenarnya sangat simple pembuatannya, si ibu malah menggunakan buah klengkeng kalengan kemudian dicampur dengan air gula dan es batu. Rasanya yam anis dan segar. I love this one, soalnya air gula home made bu Naniek ini manisnya nggak membuat saya eneg. Harga aneka minuman yang ditawarkan disini juga murah banget, rata-rata semua wedang dibanderol Rp7.000 saja. Nah, pernah nyobain wedang yang lebih enak dari ini, eaters? Monggo di share disini pengalamannya…


Wedang Dongo Keprabon

Jl. Teuku Umar Keprabon
Solo Kota/Banjarsari
Sebelah Tenggara Keraton Mangkunegaran

 
  • Eating Until Die © 2012 | Designed by Rumah Dijual, in collaboration with Web Hosting , Blogger Templates and WP Themes