Tapas Movida : A Spanish Heritage

0 komentar

Sudah lama sekali mendengar tentang restoran Spanyol yang jadi bahan pembicaraan diantara teman-teman food blogger ini, akhirnya di suatu malam bersama teman-teman foodies dari Openrice.com, saya berkesempatan mencicipi restoran yang memiliki hidangan otentik Spanyol yang katanya Cuma ada dua resto yang menyajikan otentik di Jakarta, salah satunya si Tapas Movida.

Restoran ini terletak di Cipete Raya No. 66, lokasinya mudah dijangkau dan terletak di pinggir jalan diseberang 711 Cipete. Dari luar sudah terlihat nuansa klasik pada resto yang memiliki logo banteng ini. Restoran ini memiliki dua area indoor dan outdoor, tapi kalau malam sebenarnya kedua area ini tidak ada bedanya karena cahaya lampunya sama-sama temaram.  Di bagian depan, terlihat deretan set meja makan dengan sebuha kursi bar tinggi di bagian tengahnya.  Di salah satu sudutnya terdapat sebuah area untuk live band. Nuansa Spanyol makin terasa engan beberapa lukisan matador dan penari Spanyol di beberapa bagian dindingnya. Masuk ke bagian outdoor, terdapat bangku dan kursi yang terbuat dari semen berhias ukiran a la Spanyol. Sayangnya karena malam hari, jadi semuanya terlihat gelap dan biasa saja tempatnya.

Gathering malam ini dibuka dengan beberapa set menu yang disajikan secara prasmanan. Sesuai dengan namanya, restoran ini memang menyajikan tapas sebagai menu utama. Tapas bagi masyarakat Spanyol seperti cemilan namun biasanya dikonsumsi setiap hari saat makan pagi, siang ataupun malam dan di acara-acara tertentu.  Lagipula di umumnya budaya Spanyol, masyarakat Spanyol memang tidak mengenal appetizer, main course, atau dessert. Mereka makan apapun yang mereka ingin makan saj setiap harinya hihihi…lucu ya!

Tapas pertama yang datang yaitu, Ensalade de Tomato. Ini berupa salad yang berisi potongan tomat segar yang dipotong tipis. Tomat-tomat itu diselimuti dengan olive oil dan garlic. Simpel dengan rasa tomat segar yang sedikit hambar, oily, dan asin.


Selanjutnya, Albondigas, bakso ala Spanyol ini hadir dengan variasi seperti semur daging kalau di Indonesia. Baksonya dibuat kecil-kecil dan ditusuk denga tusuk gigi. Bakso ini dimasak dengan red wine,  onion sauce dan caramel yang menghasilkan rasa gurih berpadu dengan manisnya caramel yang kuat tapi nggak enek. Menurut saya sih memanng seperti bumbu pada semur daging tapi ini lebih enak dan nggak terlalu pedas. Simply love it!.


Tortilla Espanola ini juga menarik hati saya. This is only a Spanish omelette sih, tapi teksturnya lebih padat  karena terbuat dari adonan kentang juga dan saat digigit terasa seperti menggigit cake ketimbang telur hehe…rasanya gurih dengan rasa bawang putih yang sangat tajam dan agak hambar.


Kalau mau coba gorengan a la Spanyol, Croquetas bisa jadi pilihan yang tepat. Ini kroket a la Spanyol yang digoreng dengan tingkat kematangan yang pas dengan tepung panir yang menjadikannya crunchy dan lembut saat digigit. Isinya sendiri berupa telur dan potongan udang.  Gurih seperti umumnya kroket yang biasa saya makan di negeri ini hanya saja adonan kentangnya tidak terlalu padat.


Kalau Italia punya bruschetta, Spanyol juga punya lho. Huevo sobre anchoas con cebolla y pergil merupakan salah satu varian bruschetta garlic mayonnaise egg bertopping anchovies dan parsley. Royti yang dipakainya cukup garing dan lembut. Rasanya agak sedikit asin dan tercium sedikit bau amis.


Sedangkan, Pan con tomate, catalan style bread dengann topping olive oil, tomato, dan garlic. Yang ini toppingnya sedikit ada rasanya di lidah saya. Gurih dan asinnya pas.


Gambas al ajillo semakin membuka selera saya akan hidangan Spanyol. Traditional Spanish prawn ini dimasak dengan white wine sauce, garlic dan olive oil. I love the sauce, asam, manis, gurih yang sulit saya lukiskan enaknya! Udangnya pun lembut dagingnya dan saya yang terkadang alergi udang merasa nggak berdosa banget nyobain menu ini haha!


Championes al ajillo juga menarik buat saya. Jamur yang dimasak dengan white wine dan olive oil ini punya kuah yang sangat pekat dengan bawang putih dan cabe merah. Menjadikannya sedikit pedas namun sedikit terasa creamy.


Nah ini yang ditunggu-tunggu, main course berupa sewajan besar Paella Rice, nasi khas Spanyol. Katanya orang Spanyol kalau makan itu selalu satu keluarga besar, makanya nggak heran kalau porsi Paella disini pun sangat buesaaar bahkan bisa untuk 10 orang! Nasi Paella ini berasnya terbuat dari beras khas Spanyol yang teksturnya hampir mirip dengan beras untuk nasi Briyani India, agak tipis dan panjang, tapi tidka terlalu tajam seperti nasi Briyani. Warna kuning yang mewarnai nasi ini bukan berasal dari kunyit, melainkan dari bunga Saffron yang memang tumbuh di dataran Mediterania dan sering digunakan untuk beberapa masakan khas di beberapa negara Eropa dan India bahkan Antartika. Paella rice ini dimasaknya juga agak setengah matang sehingga saat dimakan masih berasa tekstur berasnya yang sedikit ‘crunchy’dan agak sedikit berair juga hihi…Rasanya gurih dan asin sama seperti makan nasi kuning di sini. Toppingnya berupa potongan ayam, tomat, kacang polong, dan kacang panjang. Semuanya menjadi pelengkap yang pas dan mengenyangkan!


FYI, untuk harga yang ditawarkan juga nggak terlalu mahal kok untuk sekelas masakan otentik. Harga aneka tapasnya berkisar antara Rp17.000 – 70.000 sedangkan main coursenya berkisar antara Rp60.000 – 250.000. Tenang aja, harga yang mahal untuk main course sebanding dengan porsinya yang buesaaar kok! Jadi, saya sarankan kalau mau makan besar disini bareng keluarga pilihlah Paella ricenya yang super besar itu dijamin kenyang dan cukup banget untuk rame-rame.
Overall, saya sangat menikmati adanya resto Spanyol disini. Setidaknya nggak perlu jauh-jauh terbang ke Spanyol untuk mencicipi hidangan asli masyarakat Spanyol. Tapas Movida cermat banget menyajikan menu otentik Spanyol dengan ambience resto yang juga kental dengan nuansa Spanyol dan harga yang masuk akal. Very worth to try! Thanks Openrice and Tapas Movida for inviting. Can't wait to see the opening iin Kelapa Gading!



Tapas Movida

Jl. Cipete Raya No. 66
Cipete, Jakarta Selatan
@TapasMovida

www.tapasmovida.co.id


New Bubble Tea : Chatime

0 komentar

Booming bubble tea emang nggak ada matinya. Dulu saya cuma tau satu merek bubble drink yang terkenal itu. Tapi makin kesini makin banyak bubble drink dengan spesialisasi lebih ke bubble tea. Salah satu yang bikin saya penasaran adalah Chatime. Awalnya nggak tertarik mencobanya secara tiap kali lewat gerainya di mal manapun saya berada apasti penuh dan ngantri banget! Akhirnya karena saking penasarannya kok bisa orang-orang pada doyan banget sama ini minuman, saya bela-belain ngantri juga. 

Saya bingung awalnya mau pesan apa. Jenis minuman yang mereka tawarkan nggak sebatas teh, tapi ada juga milkshake, milktea, coffee, passion fruit, dll. Toppingnya juga tak terbatas bubble, ada grass jelly, pudding, coffee jelly, red bean, dll. Akhirnya setelah milih-milih, saya memilih Greean Tea Red Bean dan Grass Jelly Milk Tea. Oiya, tingkat kemanisan gula disini juga bisa dipesan sesuai pilihan, mau yang standar, sedang, atau manis sekali. 


Green Tea Red Bean ini bahan dasar utamanya sih bubuk green tea dengan susu yang diblended dengan es, gula cair ukuran sedang dan topping red bean. Rasanya buat saya ternyata kemanisan! Karena mungkin susunya sudah banyak dan saya meminta gulanya ukuran sedang. Rasa green teanya cukup pekat, dan red beannya pulen dan manis. Sayangnya, minuman seperti ini sebenarnya nggak menyegarkan tenggorokan, tapi membuat tambah seret hihihi...


Grass Jelly Milk Tea untungnya lebih enak dan nggak terlalu manis. Perpaduan susu dan tehnya mirip teh tarik dengan manis yang pas dan gak bikin eneg. Grass Jelly-nya potongannya juga besar-besar dan kenyal-kenyal asik! Milk tea ini bikin nagih sih buat saya.

Harga minuman ini standar saja, buat ukuran reguler rata-rata dibanderol Rp21.000. Cukup murah dan worth to try! 

7E935BDYEV3Y

Samy's Curry

1 komentar

Minggu lalu gathering dan food tasting invitation mendarat di email saya lagi. Kali ini undangan dari Openrice.com untuk mencicipi masakan India di Samy’s Curry, Pacific Place. Ah kalo ingat masakan India saya langsung ingat pengalaman saya mabok kolesterol di Little India Singapura beberapa waktu lalu. Memang semua makanannya berlemak, tapi ya Tuhan siapa bisa menolak aneka curry dan lam serta prata yang menggoda perut itu hahaha! Jadi, saya lupakan diet #halahdiet, kemudian berkumpul bersama para food blogger dan Openricer sambil ngegossip ria hihihi…

Samy’s Curry merupakan restoran yang menyajikan South India cuisine yang terkenal di Singapura. Konsep restonya sih menurut saya tidak berbau India, mungkin karena berlokasi di area food court Pacific Place yang open space. Jadi, hanya ada beberapa set meja makan modern minimalis di bagian depan dan beberapa di bagian dalam. Meskipun tidak bernuansa India langsung, tapi makanan yang dihadirkan mala mini benar-benar fully Indian! Dalam sekejap semua masakan India itu hadir di meja kami. Sampai bingung menghapal namanya nih hehe…Kalau begitu langsung saja saya ceritain petualangan saya menambah berat badan malam ini yaa hehehe…

Dibuka dengan dengan aneka jenis Prata, saya mencicipi Plain Prata dan Egg Onion Prata terlebih dahulu. Karena dua prata ini makannya dicocol dengan kari India. Kalau sudah pernah makan prata pasti tahu bagaimana tekstur tipisnya roti a la India ini, kan. Yang juara buat saya sih karinya, tidak terlalu pekat dan berminyak dan pedasnya juga normal. Untuk menetralkan rasa kari yang sudah mulai membakar mulut saya, saya memasukkan Bomb Prata ke perut saya. Bomb Prata ini berupa prata manis dengan lumuran mentega yang cukup pekat saat digigit. Cenderung seperti martabak manis namun dengan kulit lebih tipis dan kering. Plus Tissue Prata sebagai penutup appetizer. Tissue Pratanya sangat garing dan rasanya cukup gurih. 


Masuk ke main course Nasi Briyani selalu menjadi menu utama yang tidak boleh dilewatkan. Seperti umumnya nasi khas India, nasi Briyani ala Samy’s Curry ini juga rasanya sama seperti nasi Briyani lainnya hanya tidak terlalu kuat bumbunya. Fish Head Curry yang disajikan dalam semangkuk besar kari membuat saya membelalakkan mata. Gila, itu kepala ikan gede banget dalam hati saya. Ternyata itu kepala ikan kakap putih yang direndam dalam kari yang sangat autentik. Kari yang ini beda dengan kari pada cocolan prata sebelumnya. Karinya lebih hitam, pekat dan after tastenya bukan hanya pedas menggigit lidah tapi pahit merayapi tenggorokan saya. Hmmm…untuk yang ini perut saya agak sedikit tidak bersahabat, soalnya terlalu pekat sih karinya. Daging kepala ikannya juga menurut saya masih sedikit berbau amis.


Masala Chicken juga kental dengan bumbu pedas khas India yang mirip bumbu rendang hanya saja pahit dan pedas dari kunyitnya menambah citarasa India yang khas. Enaknya ada after taste manis setelah mengunyah ayam dengan bumbunya. Begitu juga dengan Chicken Tikka-nya. Daging ayam yang dipotong kubik dibalut dengan kari yang sedikit pedas. A typical Indian cuisine as usual.


Sementara, Mutton Curry menggunakan daging domba bersalut kari berwarna lebih hitam. Rasanya kental dengan citarasa blackpepper namun tidak terlalu pedas. Dagingnya empuk dan tidak berbau. I kinda love this lamb!


Untuk jenis sayurnya, Samy’s Curry memodifikasi kembang kol dengan balutan curry yang lebih kering. Awalnya sih ditujukan untuk anak-anak yang tidak suka sayuran, makanya dibalut kari biar nggak kelihatan kalau ini sayur hehehe…Rasanya sih jadi unik, empuk, pedas di luar gurih di dalam.


Satu lagi yang nggak kalah serunya itu, Cheese Dosai, makanan ini kulitnya hampir sama dengan prata hanya saja agak sedikit basah, diisi dengan parutan keju dan mayonnaise. It’s like finding a treasure, pas memotong kulit dosai yang digulung itu, kemudian menemukan tumpukan keju dan mayonnaise yang menyatu dan menghadirkan rasa asin, manis dan gurih yang heavenly banget! Saya suka banget sama yang satu ini! 


Penutupnya, Mutton Martabak, pancake serupa martabak dengan daging kambing cincang, telur, bawang putih dan merah dan dicocol dengan kari. Teksturnya lembut, dagingnya menyatu sempurna dengan kulitnya. Mirip makan martabak telur tapi ini berisi daging kambing dan lebih padat isinya. Simply love this for closing the dinner.


Oh ya, Lemon Squash bisa jadi pilihan yang tepat untuk menetralkan kari yang sudah masuk bertubi-tubi ke perut saya. Atau yang suka susu dan teh, Teh Tarik juga bisa melengkapi acara makan kari ini. Buat saya, perpaduan teh dan susunya kurang pas, terlalu banyak susu, tehnya tidak terasa bahkan wangi tehnya juga kurang tercium. Jadi, seperti minum susu cokelat manis saja menurut saya.
Untuk masalah harga, Samy’s Curry juga masih terjangkau dengan kantong kita. Harga makanannya mulai dari Rp16.000 – 115.000, sedangkan minuman mulai dari Rp5.000 – 35.000. Soal pelayanan saya nggak bisa menilai, karena ini food tasting jadi makanannay semua tersaji tepat waktu sih, ya mudah-mudahan sih nggak mengecewakan kalau saya kembali kesini.



Anyway, thanks Openrice dan Samy’s Curry for inviting me. Really enjoy the gossiping nite with all crews and members!



Samy's Curry

Pacific Place Mall
5th Floor, Unit 58A
SCBD Sudirman
Jakarta Selatan



Now Rolling: Sushi Den

1 komentar

Mencari tempat makan sushi yang enak di Bandung bagi saya susah, kecuali di tempat sushi terkenal yang ‘you-know-it’ lah. Minggu lalu saya direkomendasikan teman untuk mampir ke sebuah restoran sushi yang berada di bilangan Jalan Hariangbanga, Sushi Den namanya. Pemiliknya kebetulan merangkap sebagai chef disini juga dan dengan ramahnya menyambut saya, kebetulan disaat yang sama saya sedang menghadiri Bandung Culinary Gathering di tempat ini, jadi saya pun bisa mencicipi menu-menu Sushi Den sepuasnya hehehe…


Berada di lokasi yang cukup strategis dan di udara Bandung yang sejuk, Sushi Den mencoba menghadirkan tempat makan yang nyaman dan juga bernuansakan makan a la Jepang dengan meja-meja lesehan dan bantal-bantal empuk yang enak buat duduk-duduk cantik. Ada juga area sushi bar dimana kita bisa melihat langsung para pembuat sushi beraksi dengan tangan-tangan terampilnya. Di bagian dalam restonya terdapat dua area yang cukup luas dan terkesan lebih privat karena semuanya menggunakan sofa, tapi siapa saja boleh duduk disini kok. Beberapa lukisan kartun anime Jepang mempercantik bagian dalam ruangan di Sushi Den ini.

Ngomongin soal menu, pasti tidak jauh-jauh dari sushi. Sushi Den punya banyak menu fushion sushi dengan range harga Rp25.000 – 45.000. Ada juga aneka robatayaki, futomaki, nigiri, temaki, dan makimono. Untuk menu non sushi, ada donburi dan paket bento. 

Ada satu menu baru yang unik yaitu, Corndog Sushi (30K). Sushi ini dibentuk seperti corndog, digulung lonjong panjang kemudian diberi tepung panir dan digoreng. Saya langsung penasaran mencicipinya. Tampilan luarnya begitu menggoda, dua stik corndog itu mirip seperti risoles ukuran besar namun padat. Ketika saya potong, kulit bagian luarnya begitu crunchy dan gurih. Bagian dalamnya tetap sushi yang sudah diberi adonan salmon, tuna, ayam daaaan ada mozzarella meleleh juga di dalamnya! Heaven banget litany! Karena bentuknya sudah bukan normalnya sushi, menurut saya sih saya seperti makan nasi gulung dicampur adonan ikan saja, but it’s all good and fresh for me! Suka banget sama garing kulit luarnya!


Cheese Salmon Sushi (40K) menjadi pilihan kedua saya karena perut ini nggak bisa melihat salmon dan keju hihihi…Sushi Den memberikan ukuran sushi yang cukup besar dengan harga yang minim. Cheese Salmon Sushi ini berisi timun Jepang, kani, salad, alpukat dna diberi toping salmon segar serta lelehan keju mozzarella dan saus teriyaki di piringnya. Nasi sushinya lembut dan tidak mudah hancur saat digigit. Topping dan isinya juga segar dan selalu pas untuk perut saya. Nggak ada yang lebih heaven sih daripada salmon dikasih lelehan keju mozzarella begitu hehehe….


Untuk soal harga nggak perlu takut, selain tempat yang enak dan porsi sushi yang sama besarnya dengan resto sushi ternama ‘itu’, Sushi Den menawarkan harga sekitar Rp25.000 – 45.000 saja untuk sushinya, sedangkan aneka donburi dan bento dapat dinikmati dengan harga Rp22.500 – 45.000. Cicipi juga aneka punch, atau juice segar seperti Sparkling Sunrise atau Forest Volcano mulai dari Rp12.500 – 15.000 saja.


Overall, puas banget makan disini, pelayanannya juga oke banget. Saat saya mau minta sendok saja, si mas-masnya sampai sibuk mencarikan tissue buat saya agar sendoknya datang dengan bersih dan rapi di tangan saya, padahal saya tidak perlu segitu repotnya hihihi….So, bagi kamu pecinta sushi di Bandung, Sushi Den jadi tempat recommended untuk menikmati sushi enak dengan harga reasonable. Punya pengalaman seru nyobain sushi lainnya di Bandung? Don’t hesitate to share your stories here, eaters!


Sushi Den

Jl. Hariangbanga No. 8
Dago, Bandung
@sushidenbdg
sushiden@ymail.com


[Product Testing] Mr. Crunchy: Cara Baru Nyemil Rengginang

0 komentar

Pernah kepikirian nyemil makanan tradisional dengan cara modern? Kalau melihat tren dunia jajanan akhir-akhir ini, kita bisa tengok booming keripik singkong super pedas dengan berbagai merek itu. Pasarnya pasti anak muda yang notabenenya sudah jarang makan cemilan tradisional. Dengan berbagai cara, beragam cemilan tradisional seperti keripik singkong itu di modifikasi dengan berbagai rasa dan dipasarkan dengan kemasan yang sangat menarik. Salah satu yang ikut meramaikan dan menaikkan pamor cemilan tradisional lainnya adalah MR. Crunchy. MR disini bukan hanya disebut 'Mister' melainkan juga singkatan dari mini rengginang. Yes, kalau kalian terlahir dari keluarga di daerah Jawa Barat pasti hapal dengan cemilan ringan nan krenyes-krenyes bernama rengginang atau rangginang. Makanan ringan yang terbuat dari beras ini kalau di daerah asalnya rasanya 'kampung' sekali plain atau asin. Rengginang sudah pasti jarang ditemui di kota-kota besar seperti Jakarta, saya juga jarang melihatnya di jual di toko-toko kue. Paling banyak rengginang memang masih dibuat sendiri sebagai cemilan rumah di beberapa daerah di Jawa Barat seperti kampung saya, Serang - Pandeglang.

Bagi saya sendiri, rengginang itu cemilan yang cukup enak dan mengenyangkan apalagi kalau digoreng sangat garing. Nah, untuk membuat orang-orang makin mengenal cemilan tradisional ini, MR. Crunchy membuat gebrakan baru memodifikasi cemilan 'kampung' ini menjadi lebih punya 'rasa'. Dengan tagline 'The Fun is Yours', cemilan yang berasal dari ide bisnis empat orang mahasiswa Prasetya Mulya Business School ini mengajak anak muda Indonesia untuk lebih fun menikmati cemilan tradisional ini dengan rasa baru. Rasa yang coba ditawarkan oleh MR. Crunchy yaitu rengginang rasa pedas, keju, sapi, cokelat dan yang terbaru rasa rainbow alias rengginang warna-warni dengan rasa yang berbeda di tiap warna.

Lucky me, saya mendapat kesempatan mencicipi cemilan kesukaan saya ini dalam model barunya. MR. Crunchy rasa Rainbow yang pertama kali menggoda saya dengan warna-warninya. Hadir dalam kemasan premium atau di dalam toples, MR. Crunchy Rainbow ini terdiri dari 6 warna dan 6 rasa, yaitu Ungu – Grape, Pink- Strawberry, Biru – Bubble Gum, Hijau – mint, Kuning – lemon, dan Orange – Jeruk. Saat baru pertama membuka toplesnya, harum cokelat aneka rasa itu langsung menguar dan menjilat-jilat hidung saya. Yang paling kuat itu aroma bubble gumnya! Manis kayak marshmallow! Cokelat pada rengginangnya menempel dengan baik, cukup pekat dan rasa buahnya terasa berbeda di setiap warna. Untuk yang bubble gum, mint dan lemon, rasanya sangat mirip dengan saat saya mengunyah permen karet, makan daun mint dan lemon, sedangkan yang lainnya cenderung kuat di aromanya saja dan ketika saya mencoba rasanya hanya manis saja. Rengginangnya juga masih crunchy lho walau sudah bersalut cokelat pekat begitu! Rasanya saya seperti tidak nyemil rengginang lagi kalau begini sih. Enyaak...enyaaaak!


Sedangkan, MR. Crunchy Rasa Sapi hadir dengan family package dalam plastik dan dus serta rasa versi asin dan rasa sapi yang tidak terlalu pekat. Rengginang ini bersalut bumbu rasa sapi yang menurut saya kurang 'greget'. Hanya terasa di awal gigitan pertama, selanjutnya saya mendapati after taste rasa rengginang yang asin seperti normalnya. 


Begitu juga dengan MR. Crunchy Rasa Pedas, bumbu pedasnya menurut saya juga belum terlalu pedas. But it's okay karena mereka belum memiliki tingkatan kepedasan seperti keripik singkong yang terkenal sebelumnya itu. 


Overall, saya suka dengan gebrakan baru ini. Rengginang yang biasa saya makan berukuran besar-besar itu kini hadir dalam bentuk mini dan mudah dimakan. Tekstur yang garing dan rasa yang beragam juga membuat pecinta cemilan seperti saya makin demen nyemil hehehe...Mungkin MR. Crunchy bisa terus mengembangkan rasa rengginangnya dan membuat bumbu-bumbunya lebih pekat sehingga walaupun yang dimakan rengginang, penikmat cemilan ini tetap bisa merasakan sensasi makan rengginang yang tidak biasa. Hmmm...saya berpikir bagaimana kalau saya nyobain rengginang bersalut cokelat dengan rasa durian atau rasa pizza. Sounds good, ya hehehe...


Anyway, thank MR. Crunchy for sending me the sampler. Success for your business dan mari melestarikan cemilan ASLI INDONESIA!

MR.Crunchy team

P : 0818 068 74594
t : @myMRCrunchy 
talktomr.crunchy@yahoo.com

Mie Bakso Bojongloa: Keunikan dalam Semangkuk Bakso

0 komentar

Hujan-hujan yang dingin di Bandung paling enak emang menikmati semangkuk makanan yang hangat. Lucky me, I got an invitation dari seorang teman untuk mencicipi bisnis kulinernya. Wuiih, radar eater saya langsung nyala di tambah perut yang emang udah laper pisan!

Ditemani gerimis kecil, saya menelusuri daerah Kopo mencari-cari dimana letak Toko Ayeuna yang ternyata nyempil di deretan toko di daerah Bojongloa, Kopo. Tepat di depan Toko Ayeuna ini ada sebuah gerobak cukup besar tempat dimana teman saya ini menekuni bisnis kulinernya. Sebut saja Kang Amet, pria bertubuh tambun dan berkepala botak ini meneruskan bisnis keluarganya yang sudah berjualan mie dan bakso ini kurang lebih 40 tahun. Hanya bermodalkan sebuah gerobak dan tempat duduk ala kadarnya, bisnis ini nggak pernah sepi pengunjung. Saya bisa lihat orang-orang hilir mudik datang memanjakan perutnya dengan semangkuk mie yamin, mie ayam, bihun atau bakso disini.

Apa yang membuat warung bakso ini begitu tersohor dan bertahan lama? Rahasianya ada pada cara masaknya. Kang Amet menggunakan kompor arang untuk memasak bakso dan kuahnya. Arang ini dipercaya membuat kuah bakso berbau lebih sedap, gurih, dan beda dari bakso dan kuah yang direbus di kompor gas. Cara tradisional yang unik dan menghasilkan sesuatu yang berbeda.

Keunikan teknik memasaknya itu langsung saya buktikan dengan semangkuk mie yamin bihun dan bakso. Yamin disini disajikan dengan semangkuk bakso kuah, bisa disatukan atau dipisah. Mie-nya sendiri bisa bihun atau mie telor. Saya mencoba bihun yamin dan bakso.


Semangkuk bihun yamin disajikan seperti umumnya mie yamin, kental dengan kecap namun Kang Amet masih memberikan sedikit kuah sehingga agak basah. Saya nggak request apa-apa, biasanya saya rewel kalau makan yamin harus kering dan kecapnya pas. Kang Amet tanpa diminta seolah tahu porsi yang pas untuk saya. Bihunnya lembut dan campuran kecapnya tidak terlalu pekat sehingga tidak membuat saya eneg. 


Sedangkan, semangkuk baksonya berisikan beberapa bakso kecil dan babat serta urat. Kuahnya sedikit keasinan buat lidah saya, harusnya saya memesan garamnya jangan kebanyakan sih ehehe..but overall, kuahnya gurih dan aromanya beda lho! Sedikit berbau arang tapi wangi gitu. Sedangkan baksonya lembut sekali begitu juga dengan babat dan uratnya. Oya, babat disini juga beda dari yang lainnya, kalau biasanya kita melihat babat berkulit hitam, disini Kang Amet membersihkan dan menyingkirkan kulit hitamnya itu sehingga tersisa daging babat yang putih, jadinya tidak menimbulkan bau amis pada kuah baksonya. Pantas awalnya saya pikir ini gajih, pas dimakan kok kenyal dan lembut hihihi...A super perfect idea for Indonesian culinary!


Untuk menikmati semangkuk bakso enak ini, saya nggak perlu merogoh kocek terlalu dalam, cukup dengan Rp12.000 saja saya bisa memanjakan perut di siang yang dingin ini. Kang Amet nggak membuka dagangannya di tempat lain. Jadi, bagi yang penasaran kayak apa bedanya bakso ini dengan lainnya, monggo kalau lagi di Bandung silahkan mampir ke depan Toko Ayeuna di Kopo. Dijamin perut kenyang, hatipun senang!

 

Happy meatball hunting, eaters!

Mie Bakso Bojongloa

Toko Ayeuna
Jl. Kopo No. 4
Bandung

 
  • Eating Until Die © 2012 | Designed by Rumah Dijual, in collaboration with Web Hosting , Blogger Templates and WP Themes