[Product Testing] Sweetoothing My February

2 komentar

Happy February for all of you, anyway terlepas dari bulan ini katanya bulan cinta dan saya bukan pengikut hari Valentine yang mendayu-dayu itu a.k.a pacar di Aceh percuma juga palentinan heee, saya tetap bersyukur kalau bulan ini jadi bulan paling manis secara saya nerima banyak cokelat dari unexpected parties hahaha! Firts, from Nanny’s Pavillon resto. I received this  super cute Valentine’s gift since it is packaged with a wooden cream box with WOOD YOU BE MINE written in front. Omaygat! Isn’t it sweet? It’s so sweet and I wish not Nanny’s who give this to me but my boyfriend #ngarep hahaha!

Yah again, meskipun pacar jauh, tapi kalau ada yang ngasi cokelat seenak Royce saya nggak nolak. The chocolate is supeeer delicious. Ada yang milk and dark chocolate and oh one crispy chocolate. I prefer the dark chocolate though, yang white terlalu manis aja buat saya. Sebelumnya udah pernah nyobain yang Nama Chocolate Au Lait-nya. Ga pernah salah emang nih cokelat Jepang. Foodgasmic!





Other chocolates I received was from Dapur Cokelat & Femina Magazine. They gave me this pink heart block chocolate and oh with the key of course. Isn’t it cute? Nggak kebayang awalnya bagaimana makan ini cokelat, secara gede banget sampai alasnya pun cokelat. Packaging-nya juga cantik banget! Sampai-sampai selama tiga hari saya diemin dikulkas saking nggak tega makannya hehehe…Anyway, the chocolate is quite good. I love the key and the base, it’s more darker than the heart, too sweet dan ternyata meskipun ukurannya sebesar itu, pas dimakan dalamnya kopong a.k.a kosong hahaha...



So, siapa yang dapet cokelat di bulan cinta ini atau ada yang nggak dapet sam sekali. Sabar yaa hehe *justkidding. You can share this month with everyone kok, and don’t forget to share your love for everyone too and believe that love will all come to you…
  
What the world only need is more LOVE and less Paper Work...

Happy Valentine fellas!

xoxo,

Icha Khairisa
Chocolatelover

Ketemu Onta di Al Jazeerah Restaurant

1 komentar

Overview & Venue

Jangan kaget dengan judul post saya kali ini, saya memang benar ketemu onta a.k.a unta hewan khas negeri padang pasir itu lho, tapi tenang ini hanya dagingnya saja kok hehehe...Berawal dari rasa penasaran saya dan teman-teman setelah mendengar cerita teman yang sering makan daging unta di Qatar, kami semua jadi pengen nyobain kayak apa daging unta itu. Setelah tanya rekomendasi resto yang menyajikan menu daging unta dari teman-teman foodies, akhirnya jatuhlah pilihan pada restoran Al Jazeera Resto & Cafe di Raden Saleh.

Dengan rasa penasaran yang sangat tinggi, akhirnya saya bersama empat teman-teman lelaki meluncur ke Al Jazeera setelah pulang kantor. Restoran ber-cuisine Arab dan Timur Tengah ini terletak di daerah Raden Saleh, Cikini, seperti pada umumnya restoran dari negara-negara Timur Tengah, nuansa yang ditampilkan pada interiornya pun sangat 'Arab' sekali. Pas masuk restonya langsung tercium bau aneh yang saya nggak tau itu bau apa, tapi saya teringat akan bau bumbu rempah-rempah yang kental banget kalau makan di daerah Little India, Singapura. Ya, bau-bau orang India gitu lah hehehe...Restonya sendiri punya dua area, smoking dan non smoking. Di area smoking, terdapat set meja makan dengan bangku-bangku beludru tinggi yang terkesan mewah, begitupun di area non smoking, seperti makan di restoran di hotel bintang 5, lantainya berkarpet cokelat dengan set meja makan juga berbahan beludru dan sebagian kain, terlihat mewah dan berkelas. Di sudut-sudut dindingnya ada lampu-lampu gantung khas Mediterania dan lukisan-lukisan berbingkai warna emas. 

Nggak lama waiter mengantarkan buku menu dan langsung saya hajar bertanya apakah daging unta tersedia hari itu, soalnya bisa jadi mereka nggak punya stok daging unta. Tapi syukurlah hari itu mereka punya. Yippie! Sambil menunggu daging untanya datang kami icip-icip beberapa menu lainnya. 

Menu & Makanan

Untuk minumannya, Marocco Tea (55K) disajikan dalam satu teko kuningan bergaya Arab dengan gelas-gelas kaca kecil. Tehnya wangi perpaduan melati dan kayu manis, tapi rasanya pahit banget! ditambahkan gula pun rasanya seperti minum teh hijau yang pahit dan menimbulkan sensasi kesat dilidah dan ditenggorokan. But it's just fine secara penasaran aja teh Maroko kayak apa.


Untungnya datang Korma Juice (35K), yep this is dates a.k.a kurma. Awalnya nggak mau nyobain soalnya saya nggak terlalu suka kurma, tapi pas nyobain jus ini, it's heaven! Manisnya itu enak banget deh! Nggak terlalu manis, ada rasa creamy-creamy-nya juga tapi after taste-nya manis dan segar ditenggorokan.


Then, the dinner was opened with Lamb Sandwich (40K). I dunno whether this is appetizer or main course soalnya it comes in big portion! Sandwichnya memakai kulit serupa kulit untuk roti pita khas Arab tapi lebih keras namun lembut dan mudah dikunyah, sedangkan isiannya berupa daging domba berbalut mayonnaise lengkap dengan potongan tomat dan selada. Simpel-nya it's just like kebab, nothing special from this dish, yang special justru kita keburu kenyang nyicipin ini duluan haha!


And here they are, the most wanted dish tonite, Onta Mugalgal (70K). Seporsi daging onta ini disajikan dengan Arabic Bread (7K) dan saus sambal. Arabic Bread-nya sendiri per porsi berisi 5 slices roti pipih seperti roti pita namun lebih tebal dan empuk seperti umumnya adonan roti bantal. Daging unta-nya sendiri disajikan dalam porsi besar namun yang bikin saya tercengang adalah dagingnya mirip sama daging sapi bentuknya tapi dengan tekstur yang agak alot. Meskipun nggak terlalu susah dikunyah, daging unta ini memiliki bau yang khas dan memang nggak mirip daging sapi atau ayam atau domba. Dagingnya sih dimasak dengan bumbu blackpepper yang cukup pekat dan pedas tapi after taste-nya ada rasa aneh di mulut, mungkin ya bau unta itu sendiri hehe...


Sebagai pelengkap makan unta berhubung Arabic Bread ternyata nggak mengenyangkan, kami memesan Ruz Mandi Lamb (75K) atau Nasi Mandi khas Arab. Nasi-nya sih hampir serupa dengan nasi khas negara-negara UEA lainnya, saya pernah nyobain nasi dari negara Yaman juga mirip seperti ini, atau mirip juga dengan nasi Briyani-nya India yang menggunakan beras khusus (saya lupa namanya) yang teksturnya ringan dan panjang-panjang. Nasinya disajikan dengan potongan daging domba dan kismis, jadinya ada rasa manis dan gurih dalam satu suapan. Perfect for daging unta yang pedas.



For the dessert, we chose Oom Ali (42K). Tenang ini bukan oom-oom Arab yang kita santap, tapi sejenis hidangan penutup khas Arab berupa semangkuk susu sapi creamy yang ditutup dengan sejenis biskuit tapi agak tipis kayak kulit kebab garing. You know saya jadi ingat kesukaan saya masa kecil, nyemil biskuit khong guan plain dengan segelas susu, terus biskuitnya direndam kedalam susu. You know what I mean kan. Ya jadilah si Oom Ali ini hihihi...Tapi manis susunya sih kelewatan, manis banget sampai tiga kali suapan saya nyerah. Eneg!


Harga & Pelayanan

Makanan disini harganya butuh merogoh kocek lumayan dalam, sekitar Rp40.000 - 150.000, tapi tenang aja, porsinya orang Arab itu besar-besar, jadi harga segitu bisa buat sharing kok. Sedangkan minumannya dibanderol mulai dari Rp35.000-40.000. Pelayanan disini ramah banget! Pelayannya pun bisa berbahasa Arab lancar car car, apalagi sama customer yang orang Arab asli. Makanannya pun datang nggak sampai 30  menit di meja kami. Anyway, plus-plusnya makan disini sih, kalo buat cewek-cewek yang demen cowok Arab, wajib makan disini, dijamin ngeliat pemandangan bagus ahahaha #bukanblogberbayar #justforfun...


So, ada yang penasaran ketemu unta juga? Atau ada yang pernah nyobain daging unta di tempat lain. Jangan sungkan sharing di blog ini yaa...

Salam dari Al Jazeera...

Al Jazeerah Resto & Cafe

Jalan Raden Saleh no. 58
Cikini, Jakarta Pusat



Paviljoen Kota

1 komentar

Venue 

Beberapa hari lalu saya tercengang-cengan mampir ke salah satu mal baru di bilangan Kasablanka. Mal-nya guede banget tapi sepi sampai-sampai area yang isinya restoran pun sepi banget. Saking luasnya tuh area khusus resto, saya dan teman-teman juga bingung mau makan dimana. Akhirnya jatuhlah pilihan pada sebuah resto berkonsep Belanda, Paviljoen Kota. Sempat ngobrol sebentar sama waitress-nya, mereka bilang sih ini buan restoran otentik Belanda, hanya percampuran Indonesia-Belanda, makanannya pun sudah hasil modifikasi semua dan citarasa tentunya rasa lidah orang Indonesia. Yah, padahal saya kepengennya nyobain masakan Belanda beneran hehe...

That's just an opening. Restoran yang didominasi warna biru muda ini sekilas memakai nuansa jaman Belanda-Indonesia tempo dulu. Memiliki dua area, area outdoor didominasi oleh sofa-sofa pendek dan sofa kayu berukiran a la ukiran tradisional rumah-rumah Jawa jaman dulu. Di salah satu sudutnya ada sebuha meja panjang yang terbuat dari batang pohon asli dan sebuah standing clock kuno yang sepintas mirip jam Big Ben versi imut-imut hehe..Sementara area indoornya sedikit redup dan terkesan homey dengan set-set meja makan ala Belanda dengan perabotan jaman dulu seperti tempat lilin a la rumah bangsawan jaman dulu, setrikaan arang, sampai gramophono jaman baheula pun ada. Oh plus satu peta Belanda yang unik banget di dinding dan gerobak besar di bagian depan resto. Unik!

Menu & Makanan

Soal makanan, saya menemukan nama-nama Belanda dalam menunya namun semuanya hanya makanan western yang diterjemahkan ke bahasa Belanda sepertinya. Menu-menu pembuka ala Belanda seperti Bitterballen, Poffertjes, Kroket, Risoles semua lengkap disini. Untuk main coursenya mereka punya masakan Indonesia dan Western yang rata-rata berbahan dasar daging dan ikan. Dessertnya tidka terlalu banyak namun ada nama Es Cendol di salah satu menunya. Benar-benar perpaduan Indonesia-Belanda sekali!
Saya sendiri bingung memutuskan karena bahasa Belandanya sebenarnya bikin bingung, akhirnya setelah menilik lebih dalam terjemahan bahasa Inggrisnya, saya dan teman-teman memutuskan mencicipi beberapa makanan berikut ini:

Sebagai pembuka, saya menyegarkan tenggorokan dengan segelas Iced Longan Tea (20K). Longan never goes wrong kalo jadi pelengkap minuman kayak gini. It's refreshing, kadar manisnya juga bisa sesuka hati karena gula cairnya dipisah.


Teh Rempah (20K) juga cukup menyegarkan meski after taste-nya agak sedikit pahit dan kesat ditenggorokan. Suka banget saya teko kacanya. Pengen saya bawa pulang aja hihihi….


Sementara, Lemon Squash (35K) sedikit bitter dan bikin bergidik tapi ngasih after taste yang menyegarkan di tenggorokan. Nothing special sih sisanya, seperti tipikal lemon squash pada umumnya.


Selanjutnya, kami langsung masuk ke main course, karena semuanya sudah kelaparan berat hehehe…
Gegrilde Salmon (Salmon Steak with Butter Lime Sauce) – 150K. It’s a super perfect opening main course for me. Salmon bakarnya di bakar well-done sehingga dagingnya benar-benar matang namun tetap lembut, chewy, dan fresh apalagi ditambah saus lemon yang terasa segar dan tidak terlalu asam.


Boeuf Storaganoff Met Boter Rijst Beef Storaganoff served with butter rice) – 55K, second menu ini juga lumayan menurut saya. Dagingnya empuk plus creamy sauce-nya itu lho aduuh kayak makan saus teriyaki dicampur cream mungkin yah. Kental, manis dan gurih. It’s well done buat saya! Lebih nendang lagi itu Butter Rice-nya, wangi menteganya super harum! Sampai-sampai saya ngabisin nasinya dulu, baru dagingnya hehehe…


Chicken Cordon Bleu – 65K buat saya seperti pada umumnya saja sih, hanya saja potongannya disini kecil-kecil dan bulat. Keju di dalamnya juga tidak terlalu melted. At least kulit bagian luar daging ayamnya cukup crunchy. Semua menu di atas rata-rata disajikan dengan kentang goreng dan potongan wortel. Lobak dan brokoli.


Untuk penutupnya, Bitterballen (30K) menjadi pelengkap yang manis buat dinner kami. Tekstur adonannya cukup garing dan ubinya juga lembut dan manisnya pas. Yang enak itu adalah sausnya, makan ubi manis seperti ini tapi dicocol dengan mayonnaise yang gurih dan asam manis itu perfect closing for me!


Untuk masalah harga, seperti umumnya resto di mal kelas menengah, harganya pun masih masuk akal. Untuk appetizer dibanderol dari harga Rp25.000 – 30.000,  main course mulai dari Rp 40.000 – 150.000, sedangkan dessertnya mulai dari Rp20.000 – 30.000. All beverages dibanderol mulai dari Rp18.500-35.000.

Pelayanannya cukup ramah dan makanannya pun datangnya cukup cepat sekitar 20 menit, mungkin karena sedang sepi ya. Overall, saya menikmati makan di Paviljoen Kota, selain tempatnya yang sepi dan nyaman, makanannya juga membahagiakan perut saya. Oiya all food and beverages are suvjet to 7% service dan 10% government tax. Ah will look forward for another Holland authentic food later! Ciao!


Paviljoen Kota
Kota Kasablanka Mal FS-U29
Jln. Casablanca Raya Kav. 88
Jakarta Selatan
www.paviljoenkota.com


Easy Breezy Beezy Kaffee

0 komentar


Overview & Venue

Ngopi cantik udah jadi istilah buat kalangan muda jaman sekarang yang suka sekali kumpul sambil ngobrol-ngobrol seru dengan teman-teman sambil ngopi atau sekedar minum dan makan-makanan ringan, termasuk saya yang selalu cari tempat nongkrong seru kalau mau ketemuan atau sekedar cari jajanan sore hari. Sama seperti konsep yang diusung Beezy Kaffe, sebuah kafe baru dibilangan Jakarta selatan ini membawa filosofi lebah pada tiga huruf pertama Beezy - Bee yang selalu sibuk dan bergerombol dan kata 'busy' dengan harapan kafe ini selalu sibuk melayani para lebah a.k.a pengunjung yang hilir mudik datang ke kafe ini. Menempati sebuah gedung berlantai 4, Beezy Kaffe membawa nuansa tanah dengan dominasi cokelat pada hampir semua interior kafenya. Ada dua area, indoor dan outdoor. Kapasitas indoornya cukup banyak dengan salah sudutnya bisa dipakai untuk live band. Sofa-sofa empuk dan kursi-kursi malas serta rak buku berisi buku-buku bacaan Jepang membuat suasana kafe ini makiin membuat saya rasanya ingin leyeh-leyeh. Bagian outdoornya tidak terlalu luas, hanya ada beberapa kursi panjang dan meja panjang warna-warni yang cocok untuk menikmati sore hari Jakarta. 

Menu & Makanan

Masalah perut, Beezy Kaffe yang diusung oleh tiga anak muda berjiwa enterprenuer ini tidak usah diragukan, sajian berupa makanan ringan hingga makanan berat disajikan disini. Saya mengintip menu book mereka, mulai dari starter berupa salad dan soup, main course a la Western, Asia, dan aneka pasta sampai dessert dan cake-cake yang sempat hip seperti ombre cake dan rainbow cake menjadi pelengkap duduk-duduk manis saya.

Saya membuka sore saya dengan segelas besar Lychee Iced Tea (32K) yang disajikan dengan gelas yang mirip tabung reaksi. Unik sekali. Rasa manis black tea, sirup leci dan leci-nya pas dengan after taste sedikit pahit ciri khas minuman berleci. Segar sekali rasanya!


Berry Temptation (32K) lebih menggigit lidah lagi dengan sodanya yang sparkling on my tongue dan sirup stroberi yang manis-asam, sedikit bergidik meminumnya namun kesegarannya sangat terasa begitu meluncur di tenggorokan saya.


Fish and Chips (30K) menjadi pembuka selera saya sore menjelang malam ini. Potongan ikan dori dibalut tepung dengan kentang goreng dan creamy tartar sauce cukup menggoda saya. Ikan dori dan kentang sangat crunchy dan saus tartar-nya tidak terlalu asam, cocok untuk pelengkap fish and chips-nya.


Dilanjutkan dengan Fettucini Pasta Les Japonais (38K). Hmmm...dari tampilan luarnya sih agak nggak menarik hati, karena pastanya terlalu lembek dan sausnya kebanyakan, tapi pas saya mengaduknya, aroma mozarella dan tomato sauce langsung keluar. Rasanya pun ternyata pas dilidah saya, perpaduan sempurna antara cream, tomato sauce dan keju mozarella. Creamy-creamy asam manis dan rasa keju yang pekat bikin saya makin suka sama menu yang satu ini. Ditambah crunchy chicken katsu dan garlic bread-nya. Lengkap deh enaknya!


Sayangnya, Fussili Dori Aglio Olio (35K) yang penampilannya lebih cantik malah tidak cocok dengan lidah saya. Entah mengapa tidak ada tipikal Aglio olio disini cenderung mirip makan indomi goreng pedas, dengan cabe yang kebanyakan dan minyak yang berlebihan. Ups, kayaknya perlu ada yang sedikit dikoreksi dari bumbu untuk pasta ini deh, Beezy Kaffe.


Saya sempat mencicipi juga varian menu Western Meals-nya, Beef Rolade (35K). Daging gulung ini merupakan campuran dari daging sapi, telur, wortel dan disiram dengan mushroom sauce beserta potato wedges dan salad. Sayangnya, teksturnya sangat kasar dan sedikit pahit di mulut saya rasa dagingnya. It's better kalau rolade mungkin daging saja kali ya, nggak usah dicampur berbagai macam bahan.


Sebagai penutup, saya menghadiahi diri saya sepotong Ombre Cake (30K) nan cantik berwarna orange. Kue cantik ini berlapis cream cheese dengan kepekatan yang pas dan tekstur kuenya juga cukup moist. Aroma dan rasa jeruk begitu terasa setelah saya pelan-pelan mengunyahnya. Perfect!

  

Again, I made a correction and this is my personal opinion, this Rhumball (30K) buat saya is too sweet dan teksturnya sangat kasar bahkan meninggalkan rasa nggak enak di lidah. Sayang sekali padahal saya berharap banyak dari kue cokelat yang selalu jadi kesukaan saya ini.


Harga

Untuk soal harga masih masuk akal melihat target pasar mereka adalah kalangan mengah ke atas tapi sometimes agak overprice buat kue-kuenya apalagi yang berpotongan mini-mini. Untuk starter dan snacks bisa dinikmati mulai dari Rp28.000 - 35.000, main course mulai dari Rp38.000 - 48.000, dessert mulai dari Rp 28.000 - 30.000. Aneka minuman mulai dari kopi, bubbles and sparkles, variety of cold tea bisa dinikmati mulai dari Rp20.000 - 32.000 dan aneka cake semuanya dibanderol Rp30.000 per piece. 



Overall, saya menikmati duduk-duduk cantik saya disini sama teman-teman ditambah dengan keramahan si pemilik yang bercerita betapa semangatnya mereka dalam menekuni bisnis kuliner ini. Ya, semoga Beezy Kaffee terus belajar dan semakin mendapatkan nama di kalangan pecinta kafe di Jakarta. Thanks anyway buat @BeezyKaffee dan @amrilardi yang sudah mengundang saya di acara launchingnya kemarin. 

Great coffee starting in a great cafe.

Icha Khairisa
Food Traveler

Beezy Kaffee
Wisma EMHA
Jl. Wijaya 1 No.11a
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Telp. 021-41245561
@BeezyKaffee
www.beezykaffee.com

Icip-icip Aneka Bebek 'Gila' di Warung Yu Tien

3 komentar

Pernah membayangkan makan bebek sambil minum jamu beras kencur? Agak aneh memang membayangkannya. Tapi coba kalau sedang melewati daerah Cipete Raya, tengoklah sebuah restoran mungil bernama Warung Yu Tien. Dari luar restoran yang lebih memilih disebut ‘warung’ ini memang terlihat biasa saja, hanya menempati ruko dua lantai, namun ketika saya masuk kedalamnya, saya disambut dengan suasana homey dengan perpaduan nuansa tradisional Jawa dan classic modern yang kental terlihat pada pemilihan set meja makan dan warna dominan cokelat tua pada dinding dan furniturnya yang serba kayu. Patung-patung pewayangan kecil di meja kasir dan beberapa guci-guci rumahan menjadi pemanis yang tepat.  Naik ke lantai atas,  suasanya menjadi lebih terang dan segar karena semburan sinar matahari dari bagian teras. Beberapa set furniture kayu juga melengkapi lantai ini dan pemanis dindingnya berupa pigura-pigura berisikan artikel-artikel liputan di beberapa media massa tentang tersohornya warung ini. 

Warung Yu Tien berawal dari dua pasang sahabat karib yang doyan makan bebek dan ingin menghadirkan sensasi makan bebek dengan cara yang ‘’nyeleneh”. Mengambil nama panggilan dari ibu masing-masing ‘Mbakyu Tien’, Warung menggeret Chef Rendy Kong, yang juga sudah malang-melintang di dunia kuliner Indonesia. Menu yang menjadi jualan utama disini tentunya aneka hidangan bebek hingga gorengan berbahan dasar daging bebek. Chef Rendy menginginkan sesuatu yang beda dari sekedar bebek bakar atau goreng yang empuk seperti pada umumnya di pasaran. Maka terciptalah beberapa menu bebek yang beda dari biasanya plus aneka sambal yang jadi pelengkap segala makanan termasuk untuk cocolan cemilan appetizernya. Warung Yu Tien menghadirkan sambal cocol seperti sambal nanas, mayo, kacang, kecap yang biasa untuk cocolan cemilan seperti Siomay Udang, Baso Bebek, Lumpia Bebek dan sambal siram untuk menu Bebek Yu Tien dengan tiga tingkat kepedasan sambal Small, Medium dan Extra Hot OMG!

Saya menengok jualan utama mereka Bebek Yu Tien (16.5K). Langsung jiper pas melihat Bebek Yu Tien Extra Hot OMG! Sambil nekat-nekat saya cicip sedikit aja sambalnya. Maygat! Pedasnya luar biasa! Daging bebeknya sendiri empuk sekali dengan kulit yang tetap garing meskipun sudah dilumuri sambal.


Saya mencicipi pula Bebek Goreng Crispy (14.5K) dengan kulit crispy yang sangat crunchy! Dagingnya sama lembutnya dan tidak berminyak sama sekali. Saya tertarik mencocolnya dengan sambal mayo-nya dan it’s the best sauce for me! Rasa pedasnya tidak terlalu pekat, mayonnaisenya lembut, tidak terlalu asam dan saya merasakan ada taste lemon yang bikin saus ini tambah segar!


Mau yang lebih menantang lagi? Saya mencicipi jualan mereka yang lebih ‘nyeleneh’ lagi, Bebek Goreng Rempah (16K). It’s spices of course tapi nggak dalam bentuk sambal atau bumbu, melainkan taburan rempah-rempah goreng yang terdiri dari potongan jahe, lengkuas, kunyit, dan lainnya yang menghadirkan rasa very Indonesian! Saya suka sekali dengan wangi rempah-rempahnya dan daging bebeknya juga terasa lebih segar. A great breakthrough in Indonesian culinary!


Selain menu bebek seperti di atas, ada juga beragam menu kombinasi yang semuanya tetap memakai daging bebek sebagai bahan dasarnya. Mari cicipi Nasi Goreng Bebek dengan tambahan telur mata sapi, ati ampela balado dan acar dan temukan suwiran daging bebek di nasi kuning yang kental dengan rasa dan aroma rempah-rempah ini. I love the typical Indonesian taste dari nasinya. Kunyit yang cukup kental jadi ciri khas utama nasi kuning khas Indonesia kan harusnya? Ati ampela sambal balado-nya juga enak, dan sambalnya tidak terlalu pedas.


Sop Asem-Asem Bebek (14K) yang satu ini tambah membuat saya melek. Kuahnya asam namun segar sekali setelah diseruput. Dilengkapi dengan daging bebek yang juga makin empuk karena dicampur kuah. Oiya, jangan lupa masukkin lontong biar makin nyes makannya!


Makanan boleh 'nyeleneh', tapi minuman nggak kalah nyelenehnya. Awalnya ragu-ragu mencicipi Beras Kencur Smoothie (10K) ini, soalnya yang saya ingat hanya rasa jamu beras kencur, namun saat menyeruputnya wah  nggak kerasa kalau saya sedang meminum beras kencur. Beras kencurnya menjadi lebih manis dan creamy dengan tambahan susu. Enak dan segar! Selain Beras Kencur Smoothie, Warung juga punya aneka minuman unik lainnya seperti Kunyit Asem Smoothie, Jeruk Nipis Smoothie, Jlo Ayu yang kesemuanya memanfaatkan minuman kesehatan tradisional Indonesia. 


Aneka dessert-nya pun nggak kalah menariknya, warna-warni seperti Es Pelangi Yu Tien (14K) yang satu ini. Es yang berwarna merah nan cantik ini terdiri dari buah delima, fanta dan susu. Rasa manis susu dan menyengatnya soda bercampur sempurna. Segar dan coock buat menemani makan bebek yang sangat pedas. Sama segarnya dengan Es Buah Naga (18K) yang menggunakan buah naga putih, selasih, sirup merah pandan dan ice cream vanilla di bagian atasnya, es ini jadi pilihan penutup makan siang yang juga tepat. 


Es Pitu (19K) ini juga menarik karena terdiri dari tujuh macam isi a.k.a pitu dalam bahasa Jawa. Isi-nya diantaranya  kelapa muda, alpukat, cincau item, jagung manis, nata de coco, kacang merah dan ditutup dengan es krim vanilla yang membuat semuanya tambah manis. Seru kan! 


Untuk masalah harga, nggak perlu takut merogoh kocek dalam-dalam disini, beragam menu bebek disini harga masing sangat terjangkau! Untuk aneka makanan pembuka seperti pangsit bebek, lumpia bebek, kita bisamenikmati mulai dari Rp9.000 - 12.000/5-6 pcs. Untuk menu utama aneka bebek, sate, sop bisa dinikmati mulai dari Rp14.000 - 16.5000. Aneka minuman mulai dari Rp5.000 - 19.000. Very affordable, kan!

Overall, saya sangat menikmati makan siang disini, suasananya homey, makanannya enak dan terjangkau pelayannya pun luar biasa ramahnya. Baru pertama kali masuk saja, pelayan-pelayannya sudha menyambut saya dengan senyuman, beruntungnya lagi kali ini saya bertemu langsung dengan pemilik Warung Yu Tien, Mbak Vinda dan co-owner Mas Tendi yang sangat ramah menyambut saya sambil mencerikan kesukaan keluarga mereka makan bebek sampai-sampai mendirikan restoran  bebek sendiri. Lebih senang lagi Chef Rendy Kongs, executive chef Warung Yu Tien dengan sabarnya menjelaskan kepada saya ingredients dari setiap menu bebek yang saya tanyakan (maklum saking penasarannya dengan bebek rempah, saya sampai mencecar si chefs hihihi) plus Mbak Liza, marketing executive Warung Yu Tien yang semangat banget memotret saya dan teman-teman blogger yang asik makan hihi. Oiya satu nilai plus lagi, free wi-fi di sini kenceeeeng bangeeets! jadi gampang deh kalo mau upload foto-foto makanan langsung ke socmed haha!

Yuk, pecinta kuliner Indonesia, kalau penasaran kayak apa homey dan enaknya masakan bebek 'nyeleneh' a la Yu Tien, silahkan langsung aja meluncur ke Cipete Raya No. 7. Thanks banget buat @warungyutien, Mbak Vinda, Mbak Liza, Mas Tendi dan Chef Rendy for the warm greetings and for the super exotic food!


Warung Yu Tien
Jl Cipete Raya No. 7 (seberang Jakarta Coffee)
Jakarta 12410
Telp: 021-7591 7471
HP: 0811 977 2630
Email: warungyutien@yahoo.co.idFB Fan Page: Warung Yu Tien
twitter: @WarungYuTien

Opening hours : 10.00 - 22.00

Cilok Goreng a la si Mamang

6 komentar

Masih ingat sama jajanan masa kecil dulu, sagu yang di colok pakai lidi kemudian dicocol saus atau disebut cilok? Mungkin masih ada yang ingat. Nah, kali ini saya menelusuri salah satu sudut kota Bandung untuk mencicipi cilok yang lain daripada yang sudah beredar di pasaran. Kalau biasanya cilok itu berupa bakso rebus atau sagu rebus yang dibentuk bulat dan dicolok, di warung yang satu ini punya gebrakan baru berupa cilok goreng. Ya, tidak salah lagi sagu-nya itu digoreng dan uniknya dicocolnya dengan sambal kacang bukan saus sambal.

Sebut saja Kang Jeje, si pemilik Cilok Mamang yang berlokasi di daerah Jalan Saparua, depan GOR Saparua, Bandung atau jajaran RS Halmahera Jl. Riau ini baru merintis usaha kecilnya ini sekitar sebulan yang lalu. Warung kecil ini memang benar-benar kecil, hanya sebuah bilik bambu kecil yang di depannya terdapat kursi-kursi plastik untuk pengunjung yang ingin makan di tempat. Warung rintisan ini awalnya memang usaha Kang Jeje untuk memasarkan yoghurt handmade-nya, Mimi Yoghurt, setelah sukses makin banyaklah partner yang mengajaknya bekerja sama salah satunya cilok goreng ini. Jadilah Kang Jeje memutuskan mendirikan Cilok Mamang sebagai wadah promosi aneka kuliner handmade hasil karya entrepreneur muda Bandung. Sebut saja Ceciwawa Dessert, Kripik Maicih, Kripik SiJudes, Almon Bakar, Pancake Durian @Cemen_pancake dan Tiramisu @mimiTsu yang bergabung dengan Kang Jeje di Cilok Mamang.

Saya berkesempatan mencicipi jualan utama disini Cilok Goreng. Cilok Goreng disini dijual dalam dua porsi satu dan setengah dengan harga yang sangat murah. Satu porsinya berisi 25 cilok goreng. Penyajiannya pun di sebuah piring bukan dengan plastic kecil kayak di pinggir jalan. Bagi saya, tekstur cilok gorenya sendiri empuk, legit dan lembut banget! Sagunya itu tidak terasa seperti sagu belum matang seperti yang sering saya jumpai di pinggir jalan. Ditambah dengan cocolan sambal kacang yang gurih dan tidak terlalu pedas, makan cilok kali ini rasanya beda sekali. Juara!


Sementara Cilok Kukus-nya (12.5K) juga beda, karena di dalamnya disisipkan potongan daging cincang. Teksturnya pun lembut dan mudah dikunyah. Makin suka deh makan cilok kalau begini!


Selain cilok, saya mencicipi aneka dessertnya salah satunya Mimi Yoghurt Sedang Strawberry. Yoghurtnya mengunakan wadah yang lumayan besar jadi bisa untuk sharing. Teksturnya tidak terlalu pekat juga tidak terlalu encer. Asamnya juga pas dan segar strawberry-nya sangat terasa. 


Tiramisu Mimisu juga nggak kalah juara, apalagi dimakan dalam keadaan beku, seperti makan es krim tiramisu deh! Rasa kopinya juga nggak terlalu pahit cenderung manis dan terasa aroma dan rasa vanilla yang juga pekat. Cocok banget buat cemilan setelah makan sambal cilok yang cukup pedas.


Harga cemilan disini sangat terjangkau, hanya merogoh kocek sekitar Rp7.000-12.000 kita sudah bisa mencicipi cilok goreng atau kukus. Sementara untuk makanan lain berkisar antara Rp10.000-30.000. Minuman seperti yoghurt dapat dinikmati seharga Rp4.000-7.500 saja. Jadi, kalau mau cari sensasi nyemil yang beda di Bandung, silahkan mampir ke Warung Mamang, dijamin Kang Jeje menyambut dengan senyum ramah dan cerita-ceritanya. 


Cilok Mamang

Jalan Saparua No. 2 
Dekat GOR Saparua 
Bandung
@mierJEmukh
@infomamang

 
  • Eating Until Die © 2012 | Designed by Rumah Dijual, in collaboration with Web Hosting , Blogger Templates and WP Themes