Tsurukamedou : When Honest Words Turn Into Flavours

0 komentar

Ramen masih terus datang silih berganti, seperti my latest post, kali ini saya memuaskan rasa penasaran saya akan gerai ramen terbaru dibilangan Taman Ratu, Green Ville, Jakarta Barat. Ramen ini sedang menjadi pembicaraan hangat dikalangan foodies, tidak hanya rasanya yang otentik, namun keramahan dan how low profile the owner-nya pun membuat semua orang ingin kembali kesini. Sambil ditemani hujan deras kala itu, kaki saya melangkah masuk ke sebuah gerai yang dari depannya tidak akan tampak jika kita tidak jeli. Lokasi gerainya ini memang terapit dua ruko yang juga sama-sama kecil disepanjang jalan Taman Ratu. Namun, jika kita jeli, carilah ruko dengan plang bertuliskan huruf Jepang dan kata-kata Tsurukamedou. Disitulah sebuah resto ramen yang baru lahir beberapa bulan dan sudah dibicarakan banyak orang itu.

Saya dan teman-teman langsung disambut hangat oleh sang pemilik yang sangat-sangat low profile dan ramah. Awalnya saya malah tidak tahu kalau ownernya ada diantara kami, karena dia ikut berdiri di depan pintu sambil membantu beres-beres meja juga. Tidak lama kemudian beliau baru menyapa saya dan teman-teman kemudian menceritakan sekilas tentang resto asal Nagoya yang sudah memiliki 8 cabang ini. Kata Tsurukamedou sendiri berasal dari dua pendekar Tsuru dan Kame, Tsuru merupakan pendekar Bangau sedangkan Kame merupakan pendekar kura-kura. Keduanya terinspirasi dari serial Dragon Ball. Resto ini terkenal dengan Hakata Style Super Tonkotsu Ramen-nya yang tidak menyajikan banyak menu hanya pure ramen tradisional dengan beberapa side dish dan aneka topping tambahan. Hal ini dilakukan untuk menjaga citarasa ramennya sampai-sampai kuah ramennya pun harus digodok selama dua hari.

Saya setuju sekali dengan kejujuran si pemilik Tsurukamedou apalagi saya bukan seorang ramen judge hanya seorang penikmat, maka saya menikmati malam itu tanpa harapan apa-apa, karena saya tahu dari sebuah keramahan dan kejujuran, saya pasti yakin ramen disini pun akan berbicara jujur.

Malam itu dibuka dengan segelas ocha hangat yang menghangatkan tubuh saya, disusul dengan sepiring Ebi Gyoza (32K). Cemilan khas gerai ramen ini disajikan enam pieces tiap piringnya. Kita bisa memilih filingnya dan teknik memasaknya, ada yang buta (babi), tori (ayam), dan ebi (udang ebi) baik di fried atau grilled. Ebi Gyoza disini memiliki kulit gyoza yang sangat lunak dan lembut sampai-sampai harus hati-hati memegangnya. Aroma jahe sudah tercium sebelum saya menggigitnya dan semakin kuat saat saya membuka dan mengigit bagian dalamnya. Potongan ayam cincang yang gurih berpadu pas dengan aroma jahenya. I simply love this dish!


Tori Kaarage (32K)

Tori Kaarage juga mencuri perhatian saya, daging paha ayam yang dipotong kecil-kecil dan digoreng dengan tepung hingga garing ini benar-benar cemilan yang menyenangkan. Daging paha ayamnya cukup tebal dan saya tidak menemukan sagu yang saya temukan apda Tori Kaarage di ramen resto sebelumnya. Biasanya sagu didalam kaarage dibuat untuk ‘menggemukkan’ tampilan si kaarage, tapi Tsurukamedou tak perlu tambahan sagu, dagingnya yang tebal dan tepung yang crunchy sudah membuat kaarage ini jadi juara. Tori Kaarage ini disajikan dengan coleslaw dengan dressing asin khas Hakata style. Refreshing!


Tori Katsu (32K)

Chicken Katsu disini juga tidak tebal karena tepung, tapi ayamnya. Dagingnya memang tebal dan empuk dibalut tepung yang digoreng sangat crunchy dan nggak berminyak. Wah, rasa-rasanya saya sanggup menghabiskan cemilan ini sendirian nih!


Tori Ramen (45K)

Berhubung saya tidak mengkonsumsi daging babi, akhirnya saya pilih Tori Ramen. Ramen berkuah ayam ini disajikan dengan potongan ayam, telur setengah matang, nori, jamur dan daun bawang cincang. Saya suka bagaimana mereka memadukan mie ramen yang tipis dengan kuah tidak terlalu pekat namun sangat gurih dan kaya akan kaldu ayam. Saya bahkan sampai menyeruput berkali-kali kuahnya tanpa mie ramennya hahaha! Dibanding kuah ramen otentik Jepang yang saya coba sebelumnya, kuah Tsurukamedou asinnya masih netral dan nggak butuh tambahan kaldu lagi dan yang pasti nggak bikin tenggorokan saya kering dan haus karena ada beberapa kuah ramen yang kandungan MSG-nya tinggi sampai-sampai asinnya bikin haus. Potongan daging ayamnya juga tebal dan lembut. It’s just perfect for non spicy lover!


Spicy Tori Ramen (45K)

Ramen versi pedas ini hampir mirip dengan ramen yang tidak pedas. Hanya saja toppingnya berbeda. Spicy Tori Ramen ini hanya bertopping potongan daging ayam, tauge, dan daun bawang cincang. Kuahnya cukup pekat dan pedasnya menusuk lidah. Wah, ini bukan tipe saya, nggak kuat nyeruput kuahnya hehehe….


Ebi Chahan

Nasi goreng Jepang ini disajikan dengan empat pilihan topping ebi, tori, shinsen dan buta. Saya mencicipi yang Ebi Chahan. Saya suka sekali dengan cara mereka memasak nasi goreng ini hingga tidak berminyak, lembut namun tidak lembek. Nasinya pulen dengan aroma ebi dan rasa ebi yang cukup kuat bercampur rasa gurih dari bumbu rahasia Jepang yang langsung memenuhi mulut saya. Nasi goreng ini juga dicampur dengan telur orak-arik dan potongan daun bawang. Simple yet tasty!


Mango Jelly

Setelah puas nyobain ramen, kami diberikan complimentary Mango Jelly yang kenyal dan rasanya segar. Aroma manga dan rasa mangganya begitu terasa di jellynya. Perfect closing for tonight!


Menikmati ramen disini juga tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Harga semangkuk ramen disini berkisar antara Rp45.000 – 59.000. Untuk aneka snacks seperti gyoza, tori kaarage dan chicken katsu dapat dinikmati dengan harga hampir sama Rp32.000.

Saya merasa seperti punya keluarga disini. Makan bersama teman-teman didampingi dengan owner yang begitu kekeluargaan, dan makanan yang benar-benar jujur apa adanya dan berhasil membuat saya terpesona. Mungkin beginilah seharusnya sebuah authentic restaurant, bukan hanya masakannya yang diutamakan tapi juga bagaimana membuat pengunjung merasa benar-benar ‘dirumah’.  Thanks so much Mas Rudi Halim for treating us like your best friend and family. I believe that Tsurukamedou need neither a fancy place nor a happening area, the honest taste of Tsurukamedou will bring you a loyal customer in the future.

Cheers,

Icha Khairisa, still craving for Tsurukamedou ramen





Tsurukamedou 

Jl. Ratu Kemuning Raya Blok. A2 No. 8A
Taman Ratu, Greenville
Jakarta Barat
(021) 56940711 / 12
@TsurukamedouJak

19th Avenue Kitchen & Bar

1 komentar

Saya teringat percakapan saya dengan beberapa food blogger beberapa hari lalu dan hampir semua setuju kalau kebanyakan restoran baru di Jakarta hanya fokus pada lokasi dan ambience bukan pada signature dishes yang harusnya menjadi ciri khas sebuah restoran. Ya, mungkin ada segelintir saja yang memang fokus pada makanannya dan sayangnya kebanyakan penduduk kota ini lebih mengutamakan urusan ‘tempat’ daripada ‘perut’. Sejak makin mantap di dunia food blogging saya semakin bisa membedakan mana restoran yang memang fokus pada makanannya mana yang fokus menjual tempatnya. Dan baru saja dua hari lalu saya ‘terjebak’lagi dalam restoran yang hanya fokus pada tempat.


Bicara soal pemilihan lokasi, restoran yang menamakan dirinya 19th Avenue Kitchen & Bar ini cukup cerdik memilih daerah Taman Ratu, Green Ville dimana disepanjang jalan ini berdiri beragam restoran dan kafe. Keseluruhan interiornya pun dibuat a la Rustic American di era 20-an. Suasana disini memang sangat nyaman seolah membawa setiap pengunjungnya berada di era Rustic American. Uniknya lagi di setiap meja makan mereka meletakkan sebuah kertas permainan acak kata yang berguna sekali untuk mengisi waktu sambil menungu pesanan datang. Sayangnya, semua kenyamanan dan gemerlapnya abad 20 itu hanya sebuah ilusi di mata tidak untuk di perut saya. Entah mengapa beberapa menu yang saya cicipi berikut ini sama sekali tak sepadan dengan gemerlapnya Rustic American.

Going Nuts Smoothies (20K). Terbuat dari campuran hazelnut, susu, es krim dengan potongan almond dan marshmallow sebagai topping. Untuk pembuka, buat saya minuman ini enak. Perpaduan cokelatnya pas, teksturnya lembut dan creamy namun nggak terlalu manis apalagi ada potongan almond yang sangat saya sukai. But the worst part is teman saya yang juga memesan minuman ini menemukan potongan plastik di dalamnya! How come 19th avenue! I’m just trying to be honest for this part. Secara ini pertama kalinya saya menemui kecerobohan seperti ini. Euw I’m speechless, saat pihak resto mengakui kesalahannya pun saya rasa saya bisa menerimanya tapi masih terheran-heran bagaimana caranya plastik es bisa tak terlihat dan masuk ke dalam gelas sih!


Rise and Shine (20K) ini merupakan campuran dari nanas, stroberi, pisang, jeruk dan yoghurt. There no shine melainkan hanya satu kata. Asam! This is not into me. Campuran buah-buahannya nggak membuat smoothies yang pekat ini segar, hanya asam yang pekat di lidah saya. Mungkin 19th Avenue perlu menambahkan sedikit gula.


19th Avenue Punch (26K) untungnya bisa menetralkan minuman sebelumnya. Campuran grenadine syrup, sprite, lime dan stroberi ini memang menyegarkan tenggorokan, rasa asam dan manisnya pas.


Creamy Salmon Fettuccine (52K). Pasta fettuccine ini dibalut dengan saus yang cukup pekat dan creamy. Cukup gurih dan sedikit manis. Taburan daging salmonnya juga cukup empuk. Hanya saja menurut saya cream-nya terlalu pekat dan tekstur fettuccine-nya agak keras hingga di suapan terakhir saya merasa eneg dan penuh.



Raviolli Scoglio (47K). Ah sayang sekali pasta ini tidak secantik penampilannya. Raviolli-nya overcooked sampai-sampai teksturnya sangat ‘benyek’, daging cincang di bagian dalamnya pun tidak terasa gurih. Dan mussels yang menjadi dippingnya pun masih tercium bau amis.


19th Avenue Sauce Spaghetti (35K). Sausnya sedikit hambar dan terlalu kental dengan aroma dan rasa tomat, justru cenderung seperti saus pasta instan yang sering saya temui di supermarket. Tekstur spaghettinya cukup lembut dan chicken teriyaki di atasnya cukup juicy dan crunchy bagian kulitnya.


Gindara Teriyaki (49K). Dari sekian jenis makanan yang saya coba sebelumnya, Gindara Teriyaki ini masih lebih baik daripada seporsi pasta yang so so menurut saya. Tekstur gindaranya juicy dan saus teriyakinya gurih dan manis. Gindara Teriyaki ini juga dilengkapi dengan nasi dan salad yang cukup mengenyangkan perut.


Cheese Burger (48K). Porsinya lumayan besar dengan French fries sebagai pelengkapnya. Sayangnya, even burger ini terlihat besar dan menggiurkan beef di bagian dalamnya terasa biasa saja cenderung hambar dan tidak ada tambahan saus didalamnya. Keseluruhan burger ini sebelum ditambahkan saus yang banyak menurut saya plain. Untungnya, French fries-nya masih menolong, tidak terlalu asin namun garing.


Harga makanan dan minuman disini masih terjangkau menurut saya.  Makanan dapat dinikmati mulai dari Rp27.000-98.000, sedangkan minumannya dapat dinikmati mulai dari Rp15.000-26.000, untuk beer dijual tergantung jenis dan ukuran botolnya rata-rata berkisar antara Rp22.000-75.000 dan untuk per basketnya bisa sampai 300.000.

Servisnya tidak memuaskan buat saya. Saya kan kesini datang bersama teman-teman atas undangan mereka. Sampai disini pun kami hanya disambut ala kadarnya dan langsung ditawarkan untuk memesan makanan yang jumlahnya pun dibatasi. 1 orang hanya boleh 1 makanan dan minuman, itupun makanannya hanya boleh aneka pasta dan menu Asian yang harganya tidak di atas 70 ribu. Tidak ada perkenalan apapun tentang resto ini, bagaimana acara food tasting ini berjalan, sambutannya sangat biasa saja, seolah mereka menjual mahal sekali restorannya. Saat tragedi plastik es di dalam smoothies pun awalnya waiternya seolah menganggap ini hal biasa, kemudian barulah datang marketingnya dan meminta maaf kemudian menjelaskan masalahnya. Saat saya dan teman-teman blogger pulang pun mereka hanya menyalami kami tanpa basa-basi apapun yang menurut saya tidak ramah sama sekali. Well, this is very awkward food tasting ever buat saya.

Overall, saya hanya ingin memberi masukkan kepada 19th Avenue untuk lebih teliti lagi dalam menyajikan makanannya dan treating their customers. Bagaimanapun juga restoran akan maju jika mereka menghargai pengunjungnya. Well, this is my opinion, how about you, eaters?!



19th Avenue Kitchen & Bar

Green Ville, Blok AV, No.19
Taman Ratu, Jakarta Barat
@19thavenue_jkt

White European Asparagus Affair at Scusa

0 komentar

April is one of the beautiful yet rainy season where some of flowers and vegetables grows seasonally. Asparagus is one of the most-waiting vegetables in this month and that’s why when it comes to April several restaurants are racing to serve delicious dishes with the beautiful asparagus. Scusa, an Italian dining located in InterContinental Jakarta MidPlaza is one of the racers who take part in this racing, with the event called White European Asparagus Affair, they offer white asparagus rather than the green one since it grows seasonally from late April to June. White asparagus is different than the green asparagus because of the planting process where the white colour from the white asparagus comes because the plant did not get any enough sun light, therefore the photosynthetic process is not occurred.

The white asparagus referred to as the royal vegetable which is less bitter and much more tender. It must be peeled before cooking or raw consumption. Besides, this premium vegetable is very healthy with 95% consists of water and has no cholesterols, high levels of antioxidants, a good source of vitamin C and dietary fibre which is good for disease prevention and balance our diet. In this event, Scusa not only bring this European delicacy to their kitchen, but also convince their customers that white asparagus can turn into a beautiful yet scrumptious food which can give customers a good once-in-a-year dining experience.

It was me and several food bloggers who was invited to feel this once-in-a-year dining experience. In a super cosy, warm, and high class interior, we were sit and enjoyed 5 courses of menu while chit chatting about how wicked Jakarta’s traffic that day.

The night was opened by Fantasia Mocktail (55K). It was a super refreshing mocktail which became the most favourite drink here. It was a fusion of Orange, Lychee, Mango and Grenadine syrup which offered me a colourful taste from the sour bitterness of orange to the sweetness of mango infused grenadine. Perfect opening!


Walnut Bread with Feta Cheese became a complimentary food tonight. It will and always served for everyone who dining here. This bread filled with a Feta cheese comes from Greece and served with olive oil as a dipping. The taste was a lilttle bit sour but it gave me a super good cheese sensation. The bread was chewy as well. Great for waiting the main course.


Then, Chef Wawan Barito as the Chef De Cuisine of Scusa, served us the White Asparagus in a fried egg with Parmesan, black truffle, and rosemary butter sauce. This is the first time I meet white asparagus, I thought they are twins but actually they’re not. White asparagus much crunchier and sweeter than the green one, moreover, the white asparagus here is imported freshly from Peru. The half fried egg was just okay and the rest ingredients completing this dish.


Next, White Asparagus Soup came on my table. It served in a plate not in a bowl but the portion still enough to one person. This pale yellow soup is simply like a cream soup but the texture was rougher since it made from puree asparagus. The taste is a little bit sour and savoury, the pesto sauce on the top of soup enhanced the flavour. The surprising part was the cheese ball also in the top of the soup. It made from parmigiano reggiano cheese which has strong flavour but savoury as well. I simply love this soup.


Grilled White Asparagus and Beef Tenderloin with gorgonzola, creamed potatoes and béarnaise sauce. I chose medium rare for the beef and it gave me a super juicy and tender meat. The melted cheese and béarnaise sauce were also added the flavour of this beef. Otherwise, I prefer the grilled asparagus, it was crunchy and less water. The creamed potato was also good, it simply looks like a mashed potato but the texture was more solid.


We also got side dishes, the White Asparagus Risotto with parmesan and truffle served with fried asparagus. The asparagus here was well-fried like a crunchy snack; however, the texture inside was still moist and succulent.  Meanwhile, the risotto’s texture which infused with parmesan and truffle was soft like porridge. The cheese flavour was so strong but melted on my mouth.


The best closing for tonight dining, of course, the Warm Melted Cake. This beautiful cake was served with rum raisin ice cream. It was a Chef Wawan masterpiece for me. The cake was moist outside but when you cut it you will find a treasure inside, a melted, flavorous and yummy dark chocolate. Sluuurrpp! The chocolate, however, not so dark, it gave me a sweet after taste as well and it just melted in my mouth. Oh God, who doesn’t love chocolate! The other garnishes, the stick biscuit and the rum raisin ice cream was also completing this dessert. A super winning dessert!


Well, this once-in-a-year dining experience can be enjoying from 15 April to June 2013 at Scusa and Bacchus (in Bacchus you can also made your own asparagus dishes). With only Rp105.000++ to Rp445.000++ per portion, trust me you can get a great once-in-a-year dining experience which, yeah might be, enrich your personal knowledge and taste about white asparagus. Thanks a bunch for Miss Catrina Sansan and Ayleen from InterConJakarta for inviting me. Wish we meet again in the other great events.


Icha Khairisa, Still craving for white asparagus


Scusa at InterContinental Jakarta MidPlaza
Jl. Jend. Sudirman Kav. 10-11
Jakarta 10220
Tel. 021-2510888
Fax.021-2511777
@InterConJakarta

Another Try: Tokyo Ramen Tabushi

0 komentar

Ramen seolah menjadi makanan uji coba di Negara ini. Mereka datang bergelombang seperti dikutip dari pernyataan my food blogger friend @wanderbites di salah satu post-nya “they come in waves. First, it was the little known pioneers. Then came the game-changer. Then came the followers to piggyback on the success. Then came the late bloomer.” 

Ya, that’s also popped out in my mind, ramen datang silih berganti mulai dari yang mengaku No.1 hingga yang mengakui kalau bahan-bahannya tidak dimiliki oleh gerai ramen lainnya. Bagi pecintanya, si masakan Jepang ini selalu dinanti-nanti baik yang menyukai tekstur mie tipis atau tebal, kuah kental atau encer. Salah satu gerai ramen Jepang yang kali ini mencoba membuat perubahan di pasar ramen Jakarta adalah Tokyo Ramen Tabushi. Gerai ramen ini sebelumnya sangat terkenal di daerah Tabushi, Jepang. Dengan 8 cabangnya mereka menjadi No. 1 dan satu-satunya gerai ramen yang menggunakan ikan Bonito baik dalam kuah ramennya atau dalam adonan handmade noodle mereka


Restorannya yang di Kelapa Gading merupakan satu-satunya gerai di Jakarta. Konsepnya pun simpel, sama dengan nuansa resto aslinya di Jepang. Saat memasuki resto ini, beberapa pelayan langsung menyambut saya dengan teriakan selamat datang a la Jepang. Dengan senyum manisnya mereka langsung mempersilahkan saya naik ke lantai dua karena di bawah kebetulan penuh. Bahkan mereka sedikit berpromosi dengan menjelaskan kalau kita LIKE Facebook mereka, kita bisa mendapatkan free Chicken Kaarage. Satu hal yang membuat saya heran itu, pengunjung disini mayoritas orang Jepang lho. Usut punya usut ternyata pangsa pasar mereka memang orang Jepang yang tinggal di Indonesia. Kebanyakan dari orang-orang Jepang tersebut mengetahui kalau Tokyo Ramen Tabushi ini memiliki citarasa ramen Jepang asli dibandingkan kebanyakan resto ramen yang sudah ada. Kebetulan hari ini saya memiliki kesempatan untuk berbincang dengan chef de executive Tokyo Tabushi Ramen, Chef Fukuda, pria berkebangsaan Jepang yang tidak ernal melepas handuk ikat hitam dikepalanya. Dengan ramah dan senyum malu-malunya ia bercerita kalau ia baru 7 bulan tinggal di Indonesia dan ingin memanjakan lidah orang Jepang yang kangen masakan Tabushi serta memperkenalkan masakan ramen khas Tabushi pada penikmat makanan Indonesia.


Tokyo Ramen Tabushi tidak hanya berbeda dalam penggunaan ikan bonito, mereka juga membedakan dirinya dengan menawarkan menu ramen kering (penyajiannya seperti mie yamin Indonesia) atau disebut Aburasoba serta ramen kering celup (dipisah dengan kuah dan cara makannya dicelup ke kuah) disebut Tsukemen. Selain itu, ada beragam jenis ramen yang bisa menjadi pilihan seperti Syouyu Ramen with soy sauce taste, Miso Ramen with Miso taste, atau buat yang suka pedas bisa mencoba Karami Ramen. For those who love Chicken Ramen, Tokyo Tabushi menawarkan Tokusei Chukasoba atau Chicken Soup Ramen. Setiap ramen bisa diupgrade dengan tambahan pilihan topping hanya dengan menambah Rp20.000. Mereka juga punya appetizer mulai dari gyoza, chicken kaarage hingga roast pork belly. Sayangnya, berhubung masih dalam tahap tes pasar dan terus berkembang, mereka belum mempunyai dessert untuk teman makan ramen. Chef Fukuda bilang dalam waktu dekat akan tersedia dessert. Hooray! Nah, yuk simak pengalaman saya mencicipi aneka makanan ala Tabushi, Jepang ini.

Tori Kaarage (25K)

This is a well opening appetizer! Kulitnya bagian luar ayamnya sangat crunchy dengan aroma kecap dan madu yang kuat, begitupun pas digigit saya bisa menikmati rasa asin, gurih dan manis sekaligus. Bagian dalamnya juga kenyal dan mudah digigit, adonan tepung sagu yang membalut daging ayamnya sangat lunak dan lembut menyatu sempurna dengan daging yang lembut. Ah enough to say! Oishiii!


Chicken Namban (28K)

Appetizer ini menurut saya unik selain daging dada ayam yang di marinated dan digoreng tepung, saus tar tar-nya sangat enak! Saus tar-tar yang jadi pelengkap cocolan ayam namban ini dibuat dari campuran saus tar-tar dengan potongan telur rebus dan menurut saya ada tambahan mayonnaise di dalamnya karena pas dimakan rasanya persis seperti mayonnaise gurih, sedikit asam da nada manisnya sedikit. I really love it!


Tabushi Ramen (48K)

Nah, ini dia signature ramen disini. Ramennya disajikan dalam mangkuk putih besar karena porsi disini juga porsi besar. Oiya, ramen disini tersedia dalam dua pilihan daging tonkotsu (babi) atau chicken. Sayangnya, khusus si Tabushi ini hanya tersedia dalam daging babi. Kalau saya lihat ramen ini kuahnya memang sangat pekat sampai berwarna cokelat, mie-nya sendiri tebal (bisa request kalau mau mie yang lebih tipis) dan ditambah dengan potongan daging babi, nori serta telur ayam setengah matang. Tapi ternyata rasa kuahnya sangat asin kalau melihat teman saya yang memakannya hihi…Dia sampai berkali-kali memastikan kuahnya memang sangat asin dan ternyata memang benar, karena ini signature dish yang notabenenya asli Jepang makanya dibuat asin sesuai dengan selera orang Jepang asli.


Mabo Ramen (52K)

Saya penasaran dengan ramen ini karena ini satu-satunya ramen yang ramah untuk vegetarian. Disajikan dalam mangkuk yang cukup besar, ramen dengan mie cukup tebal ini membuat saya tersenyum karena bertopping potongan tofu dan sayuran, seperti kol, tomat dan telur setengah matang. Ditambah dengan potongan chicken atau babi sesuai pilihan. Kuahnya menurut saya kurang gurih dan buat penyuka pedas sepertinya perlu menambahkan sedikit bubuk cabai kedalamnya.


Miso Ramen (52K)

Kalau sebelumnya Mabo Ramen cukup sehat karena bertopping sayur, si Miso Ramen ini lebih sehat lagi karena katanya kandungan kuah ramennya bisa membantu menurunkan kolesterol. Wah, saya terkejut sekali, masa sih? Ya, kuah ramen ini mengandung black garlic yang konon membantu menetralkan kolesterol dalam darah. Kuahnya sendiri seperti umumnya kuah miso, gurih dan sedikit terasa kari ayamnya. Kuahnya awalnya berwarna kuning tapi semakin menghitam jika diaduk karena ada black garlic didalamnya. Toppingnya sendiri terdiri dari chicken, telur setengah matang dan nori. Kita juga bisa menggantinya dengan babi. Saya suka sekali kuah misonya, rich of flavour!


Syouyou Tsukemen (48K)

Dipping ramen ini dibuat terpisah. Mie-nya disajikan kering dan kuahnya ditempatkan dalam mangkuk yang cukup besar. Tapi sayangnya, tekstur mie yang terpisah dengan kuahnya malah terlalu lengket dan keras. Saya butuh perjuangan untuk mengambil mie-nya loh hehe...Cara makannya ambil mie-nya dengan garpu atau sumpit kemudian makan bersama kuahnya atau istilahnya cocol dengan kuahnya. Sebenarnya agak repot memakannya apalagi mie-nya susah diambilnya hehehe...Tsukemen ini menurut saya kuahnya asin sekali seperti yang sebelumnya saya bilang, khasnya orang Jepang hehehe….Tapi tenang mereka menyediakan kuah gurih untuk penetral rasa asin. Tapi buat saya sih sebanyak apapun kuahnya, tetap saja asin banget hahaha!


Untuk harga mereka masih dalam range wajar. Aneka ramen dibanderol dari harga Rp48.000 - 52.000, sedangkan appetizernya bisa dinikmati mulai dari Rp.15.000 - 28.000. Minuman juga tidak terlalu banyak rata-rata harganya Rp10.000 - 15.000

So, bagi kamu pecinta ramen, silahkan mencicipi dan membandingkan ramen ini, apakah bisa menjadi tempat yang bikin kamu balik lagi atau tidak. It's your choice! Me? Well, maybe not maybe yes hehehe 

Tokyo Ramen Tabushi

Jl. Boulevard Kelapa Gading, Blok LA-4 No.18
Kelapa Gading

Tel. 021-4500368
@tabushi_ramen

Koh e Noor : Icip-Icip Pakistani Food

0 komentar

Masakan negara-negara Middle East memang tidak pernah ada matinya. Selalu saja ada yang berbeda dari tiap masakannya di tiap negara. Kali ini saya mencicipi restoran Koh e Noor yang merupakan Pakistani dan Indian restoran. Restoran ini terletak di lantai dasar Plaza Festival Kuningan disebelah 711. Dari luar restoran ini terkesan sanngat privat karena tertutupi tirai. Pencahayaannya pun redup dengan lampu-lampu hias kuning namun menimbulkan kesan romantis dan hangat. Di dominasi warna merah pada furniturnya, saya bersama teman-teman penasaran ingin mencicipi seperti apa menu ala Pakistan. Masuk ke dalam restorannya, interior berubah menjadi dominasi merah mulai dari sofa hingga napkin-nya. Lampu-lampu hias juga masih menghiasi langit-langit restoran di pinggir-pinggir jendelanya. Beberapa pigura berukir emas juga tampak di beberapa sudut dinding.

Saat saya kesini restoran ini sedang sepi, beruntunglah tidak sampai 1 menit pelayannya memberikan buku menu. Menu yang mereka tawarkan disini rata-rata mirip dengan masakan India hanya ada perpaduan juga dengan menu Pakistan. Sebut saja Chicken Tikka, Briyani Rice, Roti Prata menjadi jualan utama disini. Ada juga beberapa menu Pakistan yang tidka familiar di telinga aya, misalnya Daal, Paneer dan lainnya. Karena penasaran akhirnya saya mencoba beberapa menu Pakistan seperti berikut ini:

Daal Makhni (50K)

Ini berupa lentil (sejenis kacang-kacangan) yang dimasak dengan butter dan special bumbu sindhi masala. Agak rumit memang membaca bahan-bahannya tapi pas disajikan, makanan ini terlihat seperti bubur bayi berwarna kuning. Ewww awalnya saya nggak berani mencobanya, tapi pas dicicpi ini seperti bubur kari saja. Enak, rasa karinya begitu terasa namun nggak terlalu pekat dan ada sedikit remah-remah lentilnya yang sebenarnya sedikit mengganggu tenggorokan saya. 


Paneer Sagwala (55K)

Ini lebih aneh lagi penyajiannya. Hanya disebuah cawan kecil dan tekstur makanannya lagi-lagi seperti bubur bayi. Tapi ternyata ini memang bayam yang diblender bersama keju. Teksturnya lebih lembut dari Daal Makhni dan tidak menimbulkan rasa aneh di tenggorokan. Rasanya sih dominan bayam dengan rasa gurih dan sedikit asin. Tapi buat saya ini nagih banget loh.


Chicken Briyani (70K)

ini sebenarnya sudah sangat biasa buat saya. Nasi Briyani India ini terbuat dari beras basmati dengan ukuran lebih panjang dari beras Indoneisa. Warnanya juga kuning keoranye-an dan biasanya dimasak dengan aroma kari dan disajikan dengan chicken atau lamb. Nasi Briyani yang saya makan ini aroma dan rasa karinya sangat menyengat bahkan hingga kedalam daging ayamnya.


Chicken Tikka Makhanwala (70K)

Menu ini tidak pernah ketinggalan tiap kali saya pesan masakan India. Disini bumbu chicken tikka-nya sangat pekat bahkan sampai bagian kulit daging ayamnya dibuat berwarna merah yang membuat aroma dan rasa campuran kari dan bumbu masala sangat menyengat namun tidak pedas sama sekali.


Untuk dessertnya, saya mencicipi sesuatu yang unik juga. Ini dia:

Gajar Halwah (25K)

Pernah membayangkan wortel dijadikan dessert? Nah jangan heran, menu ala Pakistan ini berupa wortel yang diparut kemudian dicampur dengan susu cair, jadilah si Gajar Halwah ini. Enak banget! Tekstur wortelnya sudah sangat halus dan menjadi sedikit kaku karena dicampur dengan susu kental manis. Meskipun menggunakan susu kental manis, tapi rasa wortelnya manisnya pas dan tidak membuat eneg.


Gulab Jamun (22K)

Dessert yang ini lebih aneh lagi, saya pikir awalnya ini mocha ternyata ini berupa fried milk balls yang disajikan dengan sirup manis dan ditaburi dengan parutan almond dan kacang-kacangan. Jadi, kalau kata pelayannya ini berupa susu skim yang dibentuk bulat dan digoreng kemudian disiram dengan sirup manis dan beraroma vanilla. Duh, mendengarnya saja sudah membuat saya merinding, nggak kebayang manisnya dan ternyata benar saja, cukup dua suapan saya menyerah. Too much sweet!


Harga makan disini cukup high dan porsinya juga menurut saya kecil jadi lebih baik dinikmati dengan makan bersama, jadi bisa pesan makanan kecil banyak untuk rame-rame. Rangenya mulai dari Rp33.000 - 85.000 untuk makanan sedangkan minuman mulai dari Rp15.000 - 30.000

Overall, saya suka sekali dinner disini, selain sepi dan terkesan private, makanannya pun unik-unik. Pelayannya juga ramah dan dengan snenang hati menjelaskan pada saya bahan-bahan yang terkandung dalam makanan Pakistan yang unik dan aneh-aneh itu hihihi…Buat yang suka kulineran, wajib banget nyobain masakan disini, apalagi carrot dessertnya! 

Koh e Noor
Indian & Pakistani Restaurant

Plaza Festival GF 03-04,

Jl. HR Rasuna Said Kav. C-22

Kuningan



 
  • Eating Until Die © 2012 | Designed by Rumah Dijual, in collaboration with Web Hosting , Blogger Templates and WP Themes