Melaka Street Food: Durian Puff to Die For!

0 komentar

Menyusuri sudut kota tua Melaka sudah dipastikan tidak boleh melewatkan daerah Jonker Street yang terkenal dengan Jonker Walk Night Market-nya, yang buka mulai jam 7 malam. Selain souvenir dan barang-barang unik khas Peranakan-Melayu, di night market ini kita bisa menemukan gudangnya street food yang bikin ngiler! Saat mampir kesini saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mencoba apa saja yang ada di depan mata (tentunya yang halal hehehe). Aneka street food khas Melayu seperti dodol dan permen herbal ada disini. Ada juga cemilan-cemilan seperti sosis bakar, aneka es cendol, cemilan a la Chinese dan Taiwan pun ada.

 Jonker Walk Night Market menjelang malam. 

Mata saya langsung tertuju pada seorang ibu yang sedang memasukkan adonan telur ke dalam cetakan telur berisi 6 lingkaran. Saat asapnya mengepul dan wangi gorengan telur mulai tersebar, saya rasanya penasaran ingin mencobanya. Di bagian depan meja dagangannya tertulis Taiwan Burger RM3. Waks, segeralah saya melihat lebih dekat cemilan murah ini. Ternyata memang ini burger a la Taiwan. Dibuat dari telur yang dikocok kemudian di goreng dengan cetakan bulat setengah lingkaran kemudian diisi dengan aneka topping seperti Taiwan sausage, ham, abon, octopus, atau crab meat. Saya mencicipi yang sudah ready saja yaitu yang isinya abon.

 

I love how the egg made as a burger bun. Teksturnya jadi empuk seperti telur dicampur terigu, padahal itu pure hanya telur saja lho! Di tiap gigitannya saya merasakan rasa telur yang gurih dan entah darimana ada rasa manisnya, ditambah dengan abon yang juga manis, cemilan ini jadi makanan pertama yang berhasil mencuri hati saya. Ah I’m starting to love Taiwan street food!


Lepas dari cemilan Taiwan, saya menemukan Twister Potato. Sepertinya ini kentang keriting yang sudah tidak asing lagi. Saya sih pernah mencobanya di sebuah festival jajan pasar di Bandung. Cuma penasaran aja, seperti apa Twister Potato a la Melaka ini. Eh ternyata kentangnya lebih crunchy dan tipis seperti keripik kentang! Saya dan teman saya nyobain yang rasa asin dan manis. I prefer the salty one. Yang manis rasanya agak kurang bersahabat di lidah saya. I love how they make the potato very crunchy. Biasanya saya mencoba twister potato yang kentangnya masih tebal-tebal, eh ini dibuat seperti keripik kentang. Enak banget berasa nyemilin Chitato hahaha! Harga Twister Potato ini RM3 per stik atau RM5 untuk 2 stik. Murah banget kaan!


Daaannn the next is the street food to die for, ups correction I’m ready to die for this food actually hahaha! You know I love durian so much and when I found this tiny heavenly durian puff, I regret that I only stay one night here,. Geees! I wish I could stay longer in Melaka. Durian Puff? Yup, ini adalah kue soes yang bentuknya lebih kecil and filled with durian. Huah mendengar isinya durian saja saya sudah mau loncat, ditambah dengan antrian yang sangat panjang di depan tokonya, membuat saya makin penasaran, seperti apa enaknya makanan ini. Durian Puff ini dijual di sebuah toko bernama Taste Better. Lokasinya pas disamping taman dengan patung The Father of Bodybuilders Malaysia, di dalam area Jonker Walk Night Market. Setelah berhasil ngantri, sampailah saya pada si Durian Puff yang dijual 7 pcs per pack seharga RM10. Puff-nya dibuat dari adonan yang sama untuk adonan kue soes dan isinya berupa durian yang sudah didinginkan dan sedikit diencerkan.


You know what so heaven from this tiny snack? Pas saya menggigitnya, lelehan duriannya langsung ‘muncrat’ ke mulut saya. Dingin dan rasa duriannya mantaaaaap semantap-mantapnya! Gileeee….really I couldn’t bite once, my friend and I even bought another two packs hahaha! Berkali-kali saya menggigit-nya selalu durian muncrat terus, ternyata ada teknik memakannya. Jangan digigit dari samping, melainkan dari atas. Sedot dulu lelehan duriannya dari bagian atas puff, baru gigit keseluruhan puff. Hwaaaah, trust me, it’s heaven! Duh, beneran deh, seandainya Melaka itu dekat dengan Indonesia, mungkin saya akan berkali-kali balik kesini.


Well, that’s my tiny story in Melaka. Since I only stay one night with a rush schedule, jadinya saya nggak sempat explore street food mereka lebih banyak. I should someday arrange my other trips here, of course just for the Durian Puff!

Taste Better Malaysia
96, Jalan Hang Jebat, 75200 Melaka, Malaysia
(inside Jonker Walk)

Meet the City Hotspot: Downtown Bistro

0 komentar

Downtown selalu menjadi pusat bertemunya orang-orang. Pusat kota dimana para pekerja bertemu dan berkumpul menghabiskan waktu mereka. Pusat kota dimana orang-orang yang kesepian hanya menghabiskan waktu mereka disebuah restoran atau kafe sambil berseluncur di dunia maya. Pusat kota dimana sebuah bistro  a la American 1950-an berdiri dengan klasiknya di sebuah gedung yang juga menjulang di tengah kota, Landmark Building. Sebutlah Downtown Bistro, sebuah bistro yang telah berdiri setahun lalu ini menempati area belakang Landmark Building, Sudirman dan menspesialisasikan dirinya sebagai a place for working people. Selayaknya New York, Sudirman pu merupakan pusat kota dimana setiap orang pasti butuh tempat singgah setelah lelah bekerja.


Bistro yang juga lebih mengarah ke coffee shop bagi para pekerja kantoran ini menghadirkan interior a la Amerika di kala tahun 1950. Klasik, minimalis dan sedikit misterius dengan penerangan yang sangat redup dan memancarkan cahaya cokelat dari pantulan sebagian furniturnya yang juga didominasi cokelat tua. Deretan meja makan dengan perlengkapan makan stainless menyambut saya di bagian tengah ruangan yang bisa dibilang ini area outdoor. Beberapa set sofa juga disediakan untuk duduk santai sambil ditemani semilirnya angina. Di area indoor terdapat lemari  buku panjang berisikan buku-buku jaman dahulu, sepintas ruangan ini didesain persis seperti perpustakaan dengan meja dan kursi tinggi juga yang sering terdapat di perpustakaan universitas. Di salah satu sudut lainnya ada little bar dengan gantungan gelas-gelas kaca yang cantik. Sayangnya, dapurnya tertutup jadi pengunjung nggak bisa melihat sibuknya dapur restoran ini.

Downtown Bistro menawarkan beragam menu American untuk menemani waktu santai atau makan malam romantis dengan pasangan kita. Silahkan tengok Downtown Nachos atau atau Asian Beef Salad untuk membuka acara makan kamu. Downtown juga punya bergaman menu appetizer lain yang mayoritas salad dan soup. Pilihan main coursenya juga menarik, The George Steak, The Rocketeer bisa jadi pilihan untuk penyuka grilled beef atau Pan Seared Black Cod atau Fish and Chips bisa jadi pilihan untuk penikmat ikan. Ada aneka pasta juga seperti Jumbo Pesto atau Spicy Tuna yang bisa dipilih serta aneka dessert yang mouth-watering seperti The George Pie sebagai signature dessert mereka. Downtown juga menyediakan pilihan cocktails, decandent chocolate, milkshake, juice atau soda yang menjadi pelengkap makanan disini. Malam itu saya datang bersama teman-teman foodies untuk mencicipi beberapa menu andalan Downtown Bistro secara eksklusif dan dipandu oleh chef-nya langsung. Let’s see what I got from the dinner:

Sebelum makan, Nutella Milkshake (38K) dihidangkan di meja saya. Nutella yang di shake dgn hazelnut ini sungguh surga sebelum saya memulai makan malam. Teksturnya lembut dan aroma nutella serta rasa kacang yang pekat sangat terasa di minuman ini.


Menu pembuka kali ini adalah Asian Beef Salad (42K). Ini berupa mesclun salad dengan arugula, tomato, ditambah irisan tenderloin yang dimarinated dengan oyster, honey, dan sedikit sesame oil. Untuk garnishnya, Downtown menambahkan wonston skin dan kacang mede. Sedangkan dressingnya berupa campuran season dressing soy sauce, season oil, dan honey. Keseluruhan salad ini enak apalagi dressingnya memberikan efek segar begitu pula potongan dagingnya yang empuk.


Dilanjutkan dengan Capuccino Mushroom Soup (30K) yang membuat saya tercengang dengan namanya. Jangan terkecoh dengan namanya, meskipun ada capuccino-nya, ini pure soup bukan kopi. Dinamakan capuccino karena disajikan dalam cangkir dan warna sup-nya memang mirip dengan minuman capuccino. Sup ini memadukan jamur shitake dan champignon yang di blend sempurna sehingga teksturnya selembut cappuccino ditambah dengan milk foam yang membuatnya makin semirip kopi dengan cream di atasnya. Rasanya agak creamy, gurih dan sedikit manis. Simply love it!


Downtown Nachos (49K). I love how Downtown made their tortilla chips by themselves. Teksturnya lebih crunchy namnun lembut. Mereka juga membuat garnish handmade untuk nachos ini dari potongan jalapeno dan daun cilantro.


Masuk ke side menu, saya mencicipi Fish Sandwich (55K). Sandwich dengan roti tebal namun empuk ini diisi dengan ikan Dory yang digoreng tepung yang lembut, foccacia herbs, ice smoked lettuce tanpa dressing. Untuk pelengkapnya ada french fries dan mix salad. Oiya untuk yang  bosan dengan french fries, Downtown menyediakan 4 varian olahan kentang seperti  mashed potato, potato cakes, potato wedges, dan potato chip.


Here’s the main course, The Rockeeter (145K) ini merupakan salah satu signature dish disini.  Menu ini terdiri dari Australian Tender Beef marinated with homemade downtown seasoning ditutup dengan arugula, caramelized shallots dan balsamic reduction sauce yang di reduce dengan sugar kemudian disajikan bersama potato chips. Sayangnya, even daging ini digrilled dengan ukuran medium, saya bisa merasakan dagingnya sangat keras/alot. Bahkan saya sampai mengeluarkan sekuat tenaga saya untuk memotong daging yang sudha tipis itu. Hmm…mungkin perlu dikoreksi teknik memasaknya nih Downtown.


Pan Seared Black Cod (62K). Gindara fish ini di marinated dengan soy sauce, coriander dan honey. Sementara saus di atasnya terbuat dari miso glazed, dengan garnish cashew nut, leek, dan red chili. Untuk side dishnya mereka meletakkan Asian pickles (asinan) yang terdiri dari parutan carrot, pineaplle, mangga muda dan lettuce. Sayangnya, sama seperti The Rocketeer, ikan ini sepertinya perlu perhatian khusus saat memasaknya. Saya bisa mencium bau amis yang cukup kuat saat memotong dagingnya. Meskipun tekstur ikannya sangat lembut dan segar namun bau amisnya membuat ikan ini tidak terlalu menggugah selera saya.


Selanjutnya, untuk penutup dinner, saya disuguhkan dua dessert andalan Diwntown Bistro. Satu yang sangat saya sukai adalah The George Pie (45K). Pie ini merupakan apple pie yang memiliky flaky crust, garing dan lembut. Ditambah dengan cinnamon powder dan kismis serta disajikan dengan vanilla ice cream, dessert ini sungguh menyenangkan perut saya. Aroma apel dan cinnamonnya menyatu dengan sempurna dan tekstur apple yang sudah menyerupa selai di bagian dalam pie-nya juga cukup lembut dan manisnya pas. Please gimme more!


Chocolate Mousse Trio (45K) juga menjadi juara dessert mala mini. Cake tiga lapis ini terdiri dari lapisan cokelat, mocca, dan vanilla kemudian diberi garnish white chocolate dan stroberi. Teksturnya seperti ice cream namun padat. Saat saya memakannya, awalnya sedikit padat namun kemudian semuanya meleleh dimulut dengan rasa cokelat, mocca dan vanilla berpadu sempurna, ada rasa pahit dan manis yang menggoyang lidah saya.


Dengan begitu banyak pilihan makanan khas America dan lokasi yang strategis, tak salah jika Downtown juga memasang harga yang cukup tinggi namun worth to spend. Menu appetizer dapat dinikmati mulai dari Rp41.000 – 47.000 sementara main coursedapat dinikmati mulai dari Rp63.000 – 160.000. Aneka pasta mulai dari Rp57.000 – 67.000 dan dessert dapat dinikmati mulai dari Rp45.000 – 55.000.

Pelayanan disini buat saya sih cukup ramah dan kekeluargaan. Chef-nya dengan sabar menceritakan teknik memasak setiap menu yang disajikan kepada kami malam itu. Dengan segala komentar dari kami tentang masakannya pun, si chef dan marketingnya tetap opened dan menerima segala masukkan. Makanan pun datangnya dalam porsi wkatu yang pas 15 – 20 menit. Saya menikmati acara makan mala mini namun terus meninggalkan pertanyaan mengapa daging yang dimasak medium bisa sebegitu kerasnya ya? Well, Downtown has the answer. I wish when I comeback here I will get the Rocketeer flies me like a rocket to the heaven of delicious food hahaha! 


Downtown Bistro

The Landmark Center Ground Floor
Jl. Jendral Sudirman No. 1 - Jakarta, Indonesia, 12190
Phone: 0821.1000.3000 / 021.5296.0064 

@dontownjkt

Gua Kasih Tau Lu Yah, Nih Tjap Toean!

0 komentar

Mencari tempat makan dengan suasana modern atau a la Eropa mungkin gampang dengan mudah ditemui, namun mencari tempat makan yang menghadirkan suasana tempo dulu yang benar-benar seperti membawa kita ke jaman dulu masih jarang. Ada beberapa restoran yang berusaha menghadirkan nuansa tempo dulu sebagai desain restorannya pernah saya masuki, namun yang satu ini membuat saya merasa justru kembali ke masa kecil saya. Adalah sebuah restoran bernama Tjap Toean di bilangan Sudirman, Jakarta Selatan yang menarik hati di sore hari sambil ngobrol-ngobrol cantik. Saat masuk kesini saya sudah disuguhkan dengan nuansa sebuah rumah gaya Betawi tempo dulu lengkap dengan tipikal jendela berkanopi kunonya. Resto ini memiliki tiga area, dua indoor di dalam area mall, satu teras depan dan bagian dalam satu gabung dengan kitchen, dan satu outdoor di teras luar mal.


Di bagian depan pintu masuk sebelah kanan, terdapat sebuah bangku taman besar dengan hiasan satu pot besar ilalang dan uniknya ada sangkar burung kuno berbentuk persegi panjang yang di cat berwarna putih dan ditutupi dengan selendang warna-warni. Di salah satu sudut lainnya, masih di area indoor namun di bagian luar, juga terdapat sangkar burung bernuansakan campuran gaya betawi kuno dan cina kuno yang kanan kirinya tergantung hiasan rumbai warna-warni.


Di area indoor bagian depan, terdapat beberapa variasi set meja makan yang seolah membawa kita ke 3 jaman berbeda. Di area sebelah kiri dari pintu terdapat set meja makan bernuansa Cina era 60-an dengan meja kayu usang dan bangku kotak beralaskan bantal empuk yang sarungnya bergambar cici-cici Cina a la lukisan Andy Warhol. Di sisi sebelahnya terdapat set meja makan a la rumah Betawi tempo dulu lengkap dengan lampu petromak gantungnya dan juga lemari berisikan mesin jahit super usang yang sangat unik!Tjap Toean selain menghadirkan nuansa traditional, kita juga dibawa bernostalgia ke jaman makan a la kedai tempo dulu terbukti dengan seperangkat peralatan makan seperti sendok, garpu, dan sumpit yang semuanya diletakkan di dalam kotak kayu di atas masinng-masing meja makan dan lucunya mereka memiliki ‘horn’ atau terompet pijat yang biasa dipakai tukang roti jaman dulu untuk berkeliling menjajakan dagangannya. Jadi, kalau kita ingin memanggil pelayan, silahkan pencet ‘horn’nya sampai berbunyi ‘teeet’ nyaring, maka datanglah si pelayan hihihi lucu banget ya!

Sementara itu, masuk ke bagian dalam area indoor, saya bisa melihat semi open kitchen bernuansa kedai tradisional lengkap dengan pajangan panci-panci dan bakul jaman dahulu. Etalase kitchennya juga semuanya dibuat dari kayu yang mengesankan saya seolah berada di kedai 60 tahun lalu. Berjalan kea rah teras luar, disinilah saya merasa dibawa ke masa kecil saya. Ribuan pesawat mainan kayu warna-warni digantung di langit-langit resto yang terbuat dari susunan bamboo gelondong. Semuanya terlihat cantik dan unik apalagi di sore hari menjelang mala mini ada lampu hias warna-warni yang membuat pesawatnya seolah berkelap-kelip. Wah, ingin rasanya saya awa pulang satu pesawat mainan itu hihi…Di salah satu sudut lainnya di teras malah terdapat kaleng kerupuk usang warna-warni yang masih asli dengan karat di pinggirannya. Jaid inget jaman kecil dulu saya suka nyemil kerupuk putih yang dijual di dalam kaleng ini. A super great idea to bring people into childhood memory!


Setelah iseng pencet-pencet ‘horn’ maka datanglah si pelayan membawakan menu, saya terheran-heran pas datang kok si pelayanannya malah membawa selembar Koran, eh taunya menu list-nya memang berbentuk Koran. Wuah benar-benar nostalgia yang bagus! Memang agak ribet membuka koran selebar itu dan membaca deretan menunya, tapi semuanya membuat saya lagi-lagi takjub ketika membaca deretan makanan bernama unik. Masakan yang dihadirkan disini berupa old-fashioned Indonesia peranakan, jadi jangan heran jika menemukan menu-menu Cina atau Malaysia disini. Coba tengok deretan makanannya, Tjap Toean punya appetizer mulai dari salad, sup, aneka kari dan nasi campur. Nasi Baba yang berwarna biru, katanya menjadi jagoan disini. Masuk ke menu utama, deretan nama seperti Dortjie (gurame fried in salted eggs) atau Lu Orang (chicken with dark soy sauce) membuat saya ingin tertawa membacanya. Begitu juga dengan snack dan dessertnya. Di deretan dessert nama-nama seperti Nona Tjantik (sticky rice with durian), Martabak Cungkring, Q Pe, Ya Ketan Ijau, menjadi nama-nama yang membuat siapa saja penasaran. Roti bakarnya juga namanya unik-unik seperti Ci-Ca (buttered toast sprinkled with sugar), Pindakaas (toast with peanut butter), atau Manis Mandja (toast with rich caramel spread) juga membuat siapapun geli membacanya. Begitupun minumannya coba saja tengok nama Tju Tju Gue (soy milk with cincau), Gang Kantjil (Siamese orange with basil seeds) atau Si Picis (chocolate milk shake), semuanya membuat rasa penasaran makin tinggi, deh!


Saya pun dibuat penasaran dengan nama-nama unik tersebut, berhubung perut belum terlalu lapar dan ingin nyemil sore, akhirnya saya memutuskan memilih aneka dessert dan toastnya saja. 

Pilihan saya jatuh pada si toast Gua Kasih Tau Lu Yah (24.5K), roti bakar ini diisi dengan olesan selai hazelnut dan di bagian luarnya dioles dengan truffle oil. Dari namanya yang sangat membuat saya ngakak, saya berharap rotinya benar-benar unik awalnya, pas datang sih unik soalnya rotinya mengguunakan roti tawar persegi panjang dan disajikan dengan talenan kayu. Sayangnya, ternyata memang hanya seperti roti bakar biasa. Selai hazelnutnya pun menurut lidah saya terasa seperti selai kacang biasa, truffle oil di bagian luarnya juga hanya menghadirkan wangi hazelnut bercampur caramel yang wangi. Tapi sisanya buat saya ini nggak lebih enak dari roti bakar pinggir jalan ditambah dengan harganya yang nggak sepadan.


Pilihan lain jatuh ke Swie Kiaw Steam (21.5K), dim sum kesukaan saya ini datang dengan wadah bambu dan berisi 3 swie Kiaw. Kulitnya lembut dan isi sayur serta ayamnya juga lumayan banyak. Cukup menyenangkan sih dim sum yang satu ini.


Untuk dessertnya, saya memesan Qi Pe (19.5K) yang sebenarnya sebuah es campur dengan campuran tape, kelapa muda, alpukat, sirop cocopandan, dan susu kental manis. Es campur ini disajikan dalam mangkuk kecil dan terlihat cantik dengan es serut yang dilapisi sirup cocopandan warna hijau dan merah. Rasanya segar sekali, manisnya pas, dan campuran buah-buahannya juga lumayan, walau menurut saya kurang lengkap untuk ukuran es campur normal sih.


Harga makanan yang ditawarkan Tjap Toean menurut saya masih masuk akal, meskipun ada beberapa menu snack yang menurut saya overpriced. Untuk appetizer seperti sup, salad, curry, dan nasi campur bisa dinikmati mulai dari Rp24.500 – 34.500. Untuk menu utamanya mulai dari Rp17.500 – 33.500. Roti Canai, Snack aneka dim sum dan toast bisa dinikmati mulai dari harga Rp10.500 – 26.500. Sementara, dessert aneka es-nya bisa dinikmati dari harga Rp17.500 – 26.500 dan aneka minuman mulai dari Rp9.500 – 30.500. Oiya, satu lagi yang lucu, pas saya membayar makanan, kembaliannya diberikan menggunakan dompet kain a la ibu-ibu jaman dulu lhoo hihihi…

Pelayanan disini pun cukup ramah namun agak lama menurut saya. Entah mungkin karena restoran sedang ramai atau apapun. But, I really appreciate resto yang walaupun ramai mereka tetap mengedepankan pelayanan prima dan cepat, sih. Overall, saya menikmati sore saya disini dengan senang hati, selain bisa duduk-duduk manis sambil dibawa kesuasana tempo dulu, perut saya juga cukup kenyang diisi dengan cemilan a la tempo dulu milik Tjap Toean. Wanny bring your memory back, coba deh mampir kesini!

Tjap Toean

FX Lifestyle X'nter 1st Floor
Jl. Jend. Sudirman, Pintu 1 Senayan
Jakarta Selatan

Citywalk Sudirman
Jl. K.H. Mas Mansyur No. 121
Karet, Jakarta Selatan

@tjaptoean

Feel Healthy, Feel Difference with Zespri® Kiwifruit

1 komentar


Sehari-hari saya sibuk bekerja sebagai QA Admin & Translator di sebuah kontraktor gedung di Jakarta. Kerjaannya ya menerjemahkan dokumen setumpuk bahkan bisa sampai berjam-jam sampai kadang lupa waktu bahkan hanya untuk bangun dari kursi sendiri. Dulu saya pernah divonis kena gejala osteoarthritis karena struktur sendi saya rapuh akibat saya terlalu lama duduk. Waks, langsunglah saya makin panic belum lagi tubuh saya yang kurus ini juga sangat mudah terkena flu dan kalau sudah kecapean penyakit asma saya mudah kambuh.  Dipikir-pikir daya tahan tubuh saya memang sangat tidak bagus sih. Kalau ditanya apakah saya penganut hidup sehat, mungkin 80% iya, sisanya tidak hahaha…Sehari-hari saya rutin berenang seminggu tiga kali untuk menjaga tubuh tetap bugar dan menjauhkan asma, konsumsi tablet vitamin C serta mengonsumsi makanan sehat termasuk sayur dan buah seperti semangka dan pisang. Namun usut punya usut, makan sayur dan buah saja tidak cukup apalagi tidak teratur dan baru menyadari bahwa menurut fakta WHO 93,6% masyarakat Indonesia itu kurang makan buah dan sayur. Buruknya lagi konsumsi buah dan sayur masyarakat Indonesia hanya 2,5 porsi per hari. Padahal FAO menganjurkan konsumsi buah harus mencapai 73 kg/kapita/tahun dan memenuhi standard kecukupan untuk sehat setara 91.25 kg/kapita/tahun. Haiyaah, ternyata selama ini saya pun kurang memenuhi kebutuhan sayur dan buah ya hihihi…

Dari salah satu artikel yang saya baca pun, menurut Dr. dr. Fiastuti Witjaksono, Msc. MS. Sp.GK, seorang dokter spesialis gizi klinik dari FKUI, ternyata orang Indonesia sebenarnya sudah memenuhi pola makan gizi seimbang hanya saja masih banyak yang berpandangan kalau buah dan sayur hanya sebagai pelengkap. Padahal faktanya, kekurangan asupan buah dan sayur dapat menyebabkan risiko kematian akibat kanker saluran cerna (14%), risiko kematian akibat penyakit jantung coroner (11%) dan kematian akibat stroke (9%). Waduh setelah baca ini saya makin tahu, normalnya kita itu membutuhkan minimal 2 porsi buah dan 3 porsi sayur secara teratur per hari. Gunanya untuk apa? Ya pastinya untuk meningkatkan kesehatan, dong! Tidak hanya itu saja, buah dan sayur juga penting untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh, mencegah berbagai penyakit degeneratif seperti kencing manis, kanker, obesitas, dan penuaan dini, memperlancar metabolisme, meningkatkan kesehatan saluran cerna dan mencegah kerusakan sel.

Sayangnya, selama ini saya pun memenuhi kebutuhan sayur dan buahnya asal-asalan. Harusnya saya yang rentan flu ini rajin mengonsumsi buah yang mengandung vitamin C asli lebih banyak, tapi malah hanya mengandalkan tablet vitamin C. Padahal vitamin C langsung dari buah itu lebih banyak dan terasa manfaatnya daripada sekedar mengonsumsi tablet. Owalah, saya baru menyadari hal itu ketika beberapa waktu lalu, Zespri® International yang membawahi petani buah kiwi asal New Zealand ini mengundang saya untuk merasakan manfaat buah kiwi Zespri®FYI, buat yang belum pernah dengan Zespri® International, mereka ini adalah perusahaan asal New Zealand yang memiliki kantor di Eropa, Inggris, Amerika Utara, Jepang dan Asia Pasik dan telah memasarkan buah kiwi ke lebih dari 70 negara di dunia. Perusahaan yang menaungi para petani kiwi New Zealand ini juga berbeda dengan produsen buah kiwi yang sudah ada, mereka memiliki standar kualitas dan melakukan riset terus menerus dalam produksi buah kiwi-nya dan pastinya menggunakan metode produksi yang lebih ramah lingkungan. Tahun ini mereka memiliki campaign “Feel The Difference” untuk menggencarkan konsumsi buah secara teratur pada masyarakat Indonesia, terutama buah kiwi.

Kenapa sih harus buah kiwi dan kenapa harus Zespri® Kiwifruit?

Karena buah kiwi sudah terkenal kaya akan vitamin C dan E dan kandungan vitamin C pada buah kiwi Zespri® nggak tanggung-tanggung loh, 2X lebih tinggi dibandingkan jeruk dengan perbandingan berat (gram) yang sama dan 5X lebih besar dibandingkan apel dengan perbandingan berat (gram) yang sama. Satu buah kiwi Zespri® megandung lebih dari 150% asupan harian yang dianjurkan dan cukup untuk memenuhi kebutuhan harian kita. 


**Vitamin C dalam  mg/100 buah yang siap dikonsumsi. Sumber: USDA Nutrient Database Release 24

Nggak heran buah kiwi Zespri® ini selalu menempati posisi teratas dalam tabel nutrisi dan mendapat pengakuan sebagai Makanan Super. Sebuah riset yang dilakukan oleh Rutgers University* menyatakan bahwa kiwi menjadi buah di peringkat pertama diantara 27 jenis buah paling populer.



* Sumber: Lachance, P.A., Sloan, A.E. "Fruits in Preventive Health and Disease Treatment. Nutritional Ranking and Patient Recommendations". 38th annual meeting of the American College of Nutrition, New York, 27 September 1997.

Si buah berkulit cokelat dan berbulu ini juga kaya akan serat dan mengandung enzim unik, actinidin, yang hanya ada pada buah kiwi hijau yang berfungsi membantu pencernaan protein sehingga lebih mudah diserap. Selain itu, buah kiwi juga mengandung asam folat yang bagus untuk mencegah cacat tulang belakang pada bayi, potassium yang baik untuk menjaga kondisi tekanan darah dan kesehatan jantung. Buah kiwi juga merupakan sumber karotin lutein yang baik dan dapat membantu kesehatan penglihatan yang disebabkan usia. Manfaat lainnya masih sangat banyak, buah yang berwarna hijau dan emas ini mengandung antioksidan alami yang tinggi seperti polyphenol, karotenoid dan phytochemical lain termasuk beberapa enzim penting yang mampu mencegah kerusakan sel akibat radikal bebas dan stress oksidatif. Buah ini juga membantu dalam meningkatkan fungsi kekebalan tubuh serta mengurangi risiko penyakit kardiovaskular. Baiknya lagi, mengonsumsi buah kiwi 2-3 buah perhari dapat mengurangi sebah dan kembung, cocok buat yang punya penyakit maag seperti saya nih! Singkatnya, dalam sebutir buah kiwi mengandung 10 Amazing Health Facts seperti gambar di bawah ini.

*foto courtesy of  Zespri® International 

Wah, saya makin semangat dengan fakta-fakta tentang kiwi barusan apalagi Zespri® menantang saya untuk mengikuti program 14 Days Challenge with Zespri® Kiwifruit, suatu program untuk merasakan manfaat buah kiwi Zespri® selama 14 hari. Did I say yes? Of course YES! Apalagi saya sudah mengetahui fakta tentang ajaibnya manfaat buah kiwi dibawah naungan Zespri® International ini. 

*foto courtesy of  Zespri® International 

Setelah saya bilang YES, tim dari agensi Zespri® menyupai saya dengan buah kiwi Zespri® sebanyak 28 buah untuk 14 hari. Uwow, saya langsung melotot pas melihat buah kiwi-nya besar-besar dan segar-segar. But anyway, saat saya menerimanya, buah kiwinya masih agak keras, katanya khusus untuk Zespri® Green Kiwifruit memang harus disimpan terlebih dulu 3-5 hari untuk membuat buahnya semakin matang dan melunak. Disimpannya disarankan dalam suhu ruangan atau di kulkas. Setelah kurang lebih 3 hari, saya rasakan dagingnya sudah melunak dan empuk barulah saya coba potong salah satunya. Wah, warna hijau-nya benar-benar hijau dan terlihat sangat segar. Saya cicipi buahnya 2 potong per hari dengan memotongnya kecil-kecil, rasanya asam manis segar deh! Buah kiwi hijau memang lebih asam dari buah kiwi gold. But I love it that way. Kemudian saya mencoba memakannya dengan cara disekop, eits belum tau ya kalau buah kiwi Zespri® ini sangat mudah disekop pakai sendok loh hihi...jadi kalau malas motong, tinggal belah dua dan sekop deh pakai sendok, makannya jadi lebih mudah! 

*foto courtesy of  Zespri® International 

potongan segar buah kiwi Zespri® 

Karena bosan dengan makan buah kiwi biasa, saya mencari cara untuk membuatnya nggak biasa. Saya pun mencicipinya dengan mencampurkan sebagai topping untuk outmeal saya untuk sarapan pagi. Wah, outmeal saya yang biasanya plain saja kini sedikit berasa manis dan jadi segar dengan tambahan buah kiwi Zespri®. Enak juga nih!


Mulai bosan dengan outmeal plus kiwi, saya iseng mencampurkan kiwi Zespri® dengan coconut yoghurt sebagai cemilan siang saya. Yoghurt rasa kelapa yang asam ditambah dengan kiwi yang asam manis, jadi teman nyemil yang pas buat siang-siang.


Saya juga mencoba mencampurkan buah kiwi Zespri® dengan fruit punch yoghurt yang lebih encer. Jadinya seperti minuman dengan potongan kiwi. Segar dan acara makan kiwi jadi nggak biasa, deh!


Setelah 14 hari berganti-ganti cara mengonsumsi kiwi Zespri®, saya merasakan banyak sekali manfaat yang di dapat. Saat pertama kali menerima buah kiwi Zespri®, kebetulan saya sedang flu berat dan tenggorokan sedikit kena radang. Seiring mengonsumsi buah kiwi Zespri®, saya sih merasakan tenggorokan saya mulai membaik, nggak heran karena buah kiwi kan mengandung vitamin C, E, dan A lebih tinggi dari buah lainnya sehingga  membantu meningkatkan kekebalan tubuh, jadinya flu saya cepat hilang deh! Plus enaknya, setelah mengonsumsi buah kiwi Zespri® 2 buah per hari, saya merasakan perut saya yang punya maag ini lebih longgar. Biasanya suka terasa sebah/begah setelah makan, tapi pas konsumsi kiwi, rasanya enak aja perutnya hihi...

Wah nggak nyesel banget nih bisa ngerasain manfaat langsung-nya buah kiwi Zespri®, awalnya saya malas makan buah, tapi kalau melihat hasil yang dirasakan sebegitu cepat, kayaknya nggak akan malas lagi nih beli buah. Apalagi menurut www.vemale.com yang dikutip dari www.healwithfood.org, saking tingginya kandungan vitamin C pada buah ini juga mampu mengurangi gejala asma. Wah, kalau dikonsumsi terus menerus, penyakit asma saya bisa hilang nih horeee!

Untuk tahu info lebih banyak tentang kampanye konsumsi buah dan manfaat lainnya dari buah kiwi Zespri®, silahkan langsung klik Zespri Indonesia atau Zespri International untuk mengetahui sejarah Zespri dan para petani hebatnya.  Pantau juga linimasa mereka di @zespriSEA atau Facebook ZespriID untuk tips-tips dan info seputar kiwi terbaru.

Anyway, yuk teman-teman mulai giatkan kampanye konsumsi buah dalam diri kita sendiri. Nggak perlu banyak-banyak kok cukup 2 porsi buah per hari untuk mendapatkan asupan gizi yang benar-benar seimbang. Jangan lupa juga cobain manfaat alami langsung dari buah kiwi Zespri®. Dijamin nggak akan nyesel deh! Let’s Feel the Difference! 

Sources:

http://www.zespri.com
http://www.zespri.co.id
Zespri Media Workshop Press Release, April 2013
dan berbagai sumber lainnya.

*This post is also wrote for joining Zespri Blog Competition

Ngopi Cantik di Kopi Progo

5 komentar

Saat lagi butuh ngobrol santai sambil ngopi cantik di Bandung saya biasanya selalu mencari tempat yang enak, homey dan punya wifi kencang serta bebas pakai sepuasnya. Salah satu tempat yang membuat saya betah berlama-lama disini adalah Kopi Progo. Terletak di Jalan Progo No. 22, Bandung, kedai kopi ini boleh dibilang pioneer kedai atau kafe kopi di daerah ini. Kafe yang berdiri sejak 2009 ini menempati sebuah rumah jaman Belanda yang sudah mendapatkan sedikit renovasi di beberapa sisi, namun saya masih bisa merasakan betapa homey-nya tempat ini saat pertama kali kesini. Kali kedua saya kesini, tempat ini mengingatkan saya akan rumah nenek saya. Kafe ini seolah tidak memberi batas pada pengunjung setianya. Mereka menyediakan banyak sofa berwarna oranye ciri khas Kopi Progo dan kursi malas di halaman rumahnya dan beberapa kursi kayu di bagian dalam. Bagian dalamnya akan terasa interior rumah khas Bandung jaman dulu yang kental dengan tembok batu alam dan marmer, namun kini sudah dibuat lebih modern dengan marmer warna-warni. Kopi Progo juga menyediakan entertainment space berupa panggung band mini yang sering digunakan untuk live music di waktu weekend serta fasilitas home theater untuk acara nonton bola bareng dan satu lagi yang seru fasilitas wi-fi disini sangat bagus dan bebas dipakai sepuasnya even kita Cuma ngopi dan duduk berjam-jam disini hehehe…


Tentunya kopi menjadi incaran setiap orang yang berkunjung kesini. Kopi Progo menghadirkan puluhan sajian kopi yang semuanya berasal dari Indonesia seperti dari Mandailing, Toraja dan Wamena. Serunya lagi disini kita bisa menyesuaikan kopi sesuai keinginan kamu. Kita bisa memilih apakah kopinya akan diolah dengan dreep coffee, kopi peres atau kopi tubruk. Dreep coffee rasanya sangat original dan cocok untuk penggemar kopi berat, sedangkan kopi peres cocok untuk yang ingin kopi agak ringan. Kalau penasaran, kita bisa langsung mampir ke dapurnya dan melihat langsung pembuatannya. Untuk menemani ngopi cantik, Kopi Progo juga menyediakan aneka makanan ringan sampai makanan berat. Coba tengok Risoles Progo, Cheese Roll Pancake, Potato Pie, Potato Broccoli & Cheese sebagai teman ngopi kamu atau kalau sudah lapar berat pilihan aneka steak seperti Sirloin Steak atau Mie Goreng Lasem bisa mengenyangkan perut. Segarkan tenggorokan juga dengan pilihan minuman seperti Green Tea Cream atau Frozen Berrys.

Green Tea Cream

Minuman ini sering sekali disebut sebagai signature drink and one of favourite here. So, I chose it and for me it’s great! Perpaduan green tea, milk, and cream-nya benar-benar pas. Green tea-nya ngeblend dengan susu jadi tidak terlalu pahit dan susunya pun tidak terllau manis plus krim yang membuat minuman ini sangat sempurna buat saya!


Potato Pie

Ini menurut saya semi main course, padahal ini appetizer. Potato Pie ini sejenis mashed potato yang teksturnya tidak sekaku mashed potato pada umumnya, cenderung seperti bubur tapi agak padat dan lembut. The surprise part is ada keju mozzarella di dalamnya dan itu langsung meleleh pas saya potong potato pie ini. It’s heaven! Rasanya benar-benar heaven, lembutnya kentang yang rasanya gurih dan sedikit asin berpadu dengan lelehan mozzarella cheese benar-benar tak terlukiskan. Kalau bisa saya gambarkan, potato pie ini seperti perpaduan macaroni schotel yang rich of cheese tapi dalam versi lebih lunak. Ah can’t agree more! This is just delicious!


Blueberry Pancake

Sayangnya, penutup nongkrong cantik saya kali ini tidak memuaskan. Pancakenya beda banget sama gambar di buku menunya haha. Porsinya pan kecil. Tekstur adonan pancakenya sih lembut tapi entah mengapa semakiin saya kunyah kok malah semakin kasar dan agak keras ya. Sudah begitu, blueberrynya hanya berupa olesan selai blueberry dibagian luarnya saja, bahkan tidak didalam pancakenya (setidaknya) untung adonannya sedikit manis dan tambahan vanilla ice cream-nya juga sedikit menolong. Karena porsi pancake dan es krimnya gak seimbang, saat es krim sudah lebih dulu habis, pancakenya masih tersisa dan nggak ada pairingnya lagi, ujung-ujungnya mubazir deh.


Kita dapat menikmati aneka minuman disini mulai dari Rp7.000 sampai Rp 20.000 sementara untuk makanan sebesar Rp14.000 hingga Rp30.000-an. No service charge hanya pajaknya 5%.

Saya sangat menghargai pelayanan yang helpful dan make me feel home. Disini pelayannya cekatan dan sigap serta ramah. Saya memang tak disambut dengan greetings ala Jepang, tapi setelah melihat saya duduk mereka langsung menyodorkan buku menu dan mencatat pesanan saya dengan cepat. Makanan saya pun datang tidak sampai 20 menit.


Ah, saya nggak akan pernah bosan sampai kapanpun nongkrong disini. Meskipun buat saya menunya dari tahun ke tahun kebanyakan gak berubah, tapi tempat ini memang sangat pas buat nongkrong dan ngobrol panjang sama teman-teman. Nggak pernah tuh pelayannya mengusir saya hanya karena saya pesan secangkir kopi, internetan gratis dan duduk berjam-jam hehehe…Very recommended café to go for you coffee lover!

Kopi Progo

Jl. Progo No.22
Bandung
@KopiProgo_Bdg

The Cow Feed Resto: To Feed Cow or...?

0 komentar

Satu hal yang terlintas dipikiran saya saat melewati restoran ini adalah, apakah ini restoran vegetarian? Kalau dilihat dari nama, Cow Feed Resto, sudah pasti resto ini mengusung tema seperti memberi makan sapi kan. Semua orang sudah tahu sapi itu makanannyan gak jauh-jauh dari rumput atau sayuran. Dan ternyata dugaan saya benar, restoran ini memang menempatkan salad sebagai menu utama mereka. Jadi, buat yang vegetarian atau sedang on diet, restoran ini sepertinya bisa jadi pilihan yang tepat. Dekorasinya dibuat persis seolah kita berada di sebuah peternakan sapi tapi dipadu dengan gaya modern minimalist. Deretan kursi dan bangku pendek yang terbuat dari kayu dengan pot-pot berisi pohon bamboo membuat resto ini jadi bernuansa alam. Ditambah dengan beberapa pilar bercat hitam yang bertuliskan kata-kata dalam bahasa inggris bertumpuk yang membuatnya jadi unik. Ada semi open kitchen juga dapat kita lihat di sudut restoran. Area makannya ada yang indoor dan outdoor. Yang outdoornya menghadap langsung ke area taman terbuka Epiwalk yang berada di tengah mal ini.


Makanan yang ditawarkan disini utamanya salad, mulai dari nicoise salad, farmer salad, dan aneka racikan salad lainnya yang bisa kita pilih sendiri alias you can make your own salad. Ada beragam sayuran disajikan disini mulai dari selada, lettuce, arugula, wortel, mentimun jepang, kentang, jagung yang bisa ditambahkan dengan biji olive oil, dan aneka salad dressing lainnya. Tapi tenang saja, untuk yang non vegetarian, Cow Feed Resto juga menawarkan aneka pasta dan side dishes seperti chicken wings. Umumnya sih, menu yang mereka tawarkan disini menu-menu side dishes aja, jadi jangan berharap menemukan menu utama seperti nasi ya disini hehehe…Berhubung saya dan teman saya yang sedang on diet penasaran juga dengan makanan disini, akhirnya kami memesan dua menu berikut:

Salmon Fettuccine Bolognese (45K)

Yang unik dari makanan ini adalah penyajiannya, pastanya disajikan bukan di dalam piring melainkan sebuah wajan atau penggorengan aluminium tipis dan berukuran sedang. Pasta fettuccine ini disiram dengan saus Bolognese yang kental akan rasa tomat. Tapi menurut saya saking pekatnya rasa tomat, sampai-sampai membuat pasta ini terasa hambar dan saya sampai butuh membuatnya sedikit pedas dengan tambahan saus. Salmon-nya sendiri di half-grilled sehingga warnanya masih sangat oranye but it’s juicy dan tender.


Chicken Wings (28.5K)

Penyajian chicken wings ini juga terbilang tak biasa, karena disajikan di atas sebuah nampan kayu bulat. Namun, saya ecewa sekali dengan penyajian lima sayap ayam bersalut saus teriyaki ini, sudah bumbunya tak meresap, bagian kulitnya pun nggak terasa teriyakinya dan ayamnya disajikan dingin! Saya sampai nerulang kali memastikan sama temen saya apakah benar ayamnya dingin dan akhirnya saya sampai meminta pelayannya untuk memanggang kembali ayam ini sampai benar-benar panas. Padahal makanan kami datangnya hampir setengah jam lho, tapi kok sampai bisa pesanan kami jadi dingin begitu. Dan setelah dipanggang pun, si chef-nya memanggang ala kadarnya, yasudah daripada protes lagi dan saya tidak jadi makan, akhirnya tetap dinikmati ala kadarnya.


Range harga makanan disini untuk aneka salad mulai dari Rp40.000 – 65.000. Untuk aneka side dishes, mulai dari Rp25.000 – 55.000. Aneka minuman mulai dari Rp15.000 – 25.000.

Pelayannya gak sigap menurut saya. Pas kami datang pun, duduk, setelah 10 menit memanggil pelayannya baru datang. Padahal saat itu menurut saya restonya sedang sepi. Makan saya juga datangnya lama sekali hamper 30 menit, padahal resto sedang sepi. Ditambah masalah makanan yang dingin itu. Saat saya bertanya ke pelayannya apa alasan ayamnya sampai dingin begitu juga dia Cuma cengar-cengir aja. Dan tanpa babibu langsung ngacir ke dapur, nggak ada permintaan maaf selain kata maaf yang terlihat nggak tulus. Harusnya mungkin saja mereka memberikan pengganti atau compliment sebagai permintaan maaf kan. Overall, saya sih akan berpikir dua kali untuk balik lagi kesini. Mungkin mereka butuh sedikit pengembangan terutama memastikan bahwa semua makanan disajikan dengan fresh. How about you eaters?



Cheers,
Icha Khairisa, still need more fresh food

The Cow Feed resto
Epicentrum Walk, 1st Floor, Jl. HR. Rasuna Said, Kuningan
Telp. 021-7890892

 
  • Eating Until Die © 2012 | Designed by Rumah Dijual, in collaboration with Web Hosting , Blogger Templates and WP Themes