[TRAVEL REVIEW] #LOMBOKTRIP - MATARAM CITY TOUR

2 komentar

Lombok sudah menjadi bucket list saya sejak dulu. Cuma nggak pernah kesampaian karena harga tiketnya mahal sekali. Yah namanya juga mimpi, pasti ada aja jalannya kalau terus di doakan, bucket list ke Lombok itu saya coret saat suami saya memberikan tiket honeymoon pertama kami kesana hooray! Senangnya bukan main pas tau-tau saya tinggal terima jadi sesi honeymoon kita di Lombook, pesawat dan hotel serta akomodasi semua dia yang pilihkan, Huhuhuy sekali-kali jadi koper traveller boleh dong! Then, 3 hari setelah kami menikah, tepatnya 28 November 2013 lalu kami mendarat di Bandara Internasional Lombok Praya yang baru dengan pesawat Garuda Indonesia yang baru pertama kali juga saya naiki hahaha #norakdikit. Bandaranya baguuuus dan rapi, tipikal bandara-bandara baru di Indonesia yang desainnya semua mirip kayak Terminal 3 SHIA. Dari Praya, kami dijemput sama pihak hotel a.k.a rekanan hotel yang merupakan orang travel. Kami ditemani oleh Pak Alam dan asistennya yang sepanjang perjalanan nyeritain tentang Lombok dan budayanya nggak berhenti-berhenti #tutupkuping #elapkeringet
Sejatinya #halah, kami akan menuju hotel di daerah Senggigi tapi berhubung pesawat kami masih terlalu pagi, akhirnya saya dan suami sepakat mengambil Mataram City Tour yang ditawarkan Pak Alam (sebenernya agak males sih, tapi berhubung si bapak2 terkesan memaksa dengan muka memelasnya, suami saya iya iya aja hahaha). So, here’s our Mataram City Tour!

#1st Destination - Desa Banyumulek, Lombok Tengah

Desa Banyumulek merupakan salah satu desa wisata yang gencar dipromosikan pemerintah Lombok karena hampir semua penduduk bermata pencaharian sebagai pembuat gerabah. Nggak heran sepanjang jalan saya melihat banyak penjual gerabah disini. Kerajinan gerabah di desa ini tidak hanya sekadar membuat gentong atau sejenisnya, tapi mereka membuat berbagai macam hiasan rumah dan kantor juga seperti guci, teko, peralatan makan, tempat lilin, asbak, vas bunga dan lainnya. Di hampir semua showroom kita juga bisa melihat proses pembuatan gerabahnya dan menjajal membuatnya. Sebenarnya agak membosankan berkunjung ke tempat seperti ini soalnya ujung-ujungnya si penjualnya melototin saya karena saya nggak beli apa-apa hehehe….


#Tips: jangan ambil tujuan wisata ke tempat beginian kalau kamu bukan ibu-ibu yang doyan traveling sambil pulang bawa oleh-oleh asbak atau pajangan buat dirumah ;-)

#2nd Destination – Desa Sukarere, Lombok Tengah

Again, sebenarnya saya agak malas dengan city tour karena ujung-ujungnya saya disuruh membeli sesuatu (nasib dibawa orang travel gini nih #ngelusdada). Tapi berhubung hujan besar, akhirnya Pak Alam tetepa membawa kami ke Desa Sukarere ini tempat kerajinan tenun ikat dan songket khas Lombok. Rame banget tempatnya, banyak turis pada jajal bikin songket. Saya baru tau ternyata untuk membuat selembar songket saja dengan alat tenun yang terbuat dari kayu itu dibutuhkan skeitar 1-2 bulan lho…buseeeet itu kaga panas apa pantat cewek-cewek Lombok yak hahaha…dan uniknya, cewek Lombok dianggap sudah dewasa dan siap menikah itu jika mereka sudah bisa menenun *beruntunglah saya jadi cewek Jakarta hahaha….Di Desa Sukarere ini saya melihat showroom yang isinya kerajinan tenun ikat dan songket dengan beragam motif dan warna. Aduuuuhh ngiler sih liatnya, bagus-bagus banget tenunnya, tapi pas ditanya harganya rata-rata jutaan, saya langsung nangis huhuhu….


Jadi disini saya hanya mencoba berfoto dengan pakaian adat Lombook saja. Hihhi lumayan lah ngasi rejeki ke penjaga tokonya buat ngebuat saya dan si Mas jadi manequien bajua adat 5 menit hehehe…


#Tips: again, kalau kamu nggak bawa duit jutaan, jangan coba-coba menawar harga songket atau beli tenun ikat di showroom beginian. Mending ke pasar Cakranegara Mataram atau toko souvenir di sekitaran Sengigi, banyak tenun ikat dan songket lebih murah disana. Meanwhile, dipelototin sama penjaga toko juga gak enak aaaaaak! Oiya, kasih tips ke penjaga toko yang nawarin kamu pakai baju adat seikhlasnya gak masalah, 100 ribu cukup kok (kegedean sih menurut saya *barunyadar haha)

#3rd Destination – Desa Wisata Dusun Ende - Suku Sasak Ende

Ini yang bikin saya sedikit bisa bernapas lega dari dua kunjungan sebelumnya. Dusun Ende terletak di desa Rambitan, Lombok Tengah, sekitar 40 km dari Mataram. Di dusun ini tinggal suku asli Lombok yaitu, Suku Sasak Ende. Dusun ini merupakan salah satu dusun yang masih mempertahankan ada tradisi asli Sasak dan mamu mmebuka diri mereka dengan menerima kedatangan wisatawan asing dan lokal. Nggak heran dusun yang hanya memiliki 27 kepala keluarga ini menjadi ramai dihari libur.


Beruntung saya kesini saat weekday, saya bisa dengan leluasa ngobrol dengan warga disini. Rumah mereka terbuat dari kayu dan rotan serta beratapkan daun rumbia. Lantai rumahnya juga unik terbuat dari campuran abu jerami, tanah liat, dan kotoran sapi yang sama kuatnya dengan semen dan katanya manjur mengusir nyamuk dan serangga di malam hari. Kata seorang nenek yang saya temui sedang menenun di depan rumahnya, mereka hidup dalam satu rumah tanpa sekat kamar disini. Pas saya lihat kedalam salah satu rumah Sasak, gila luas sih luas rumahnya, tapi kosong melompong tanpa kasur untuk tidur dan dapur (dapurnya dibuat di tempat terpisah dibelakang rumah). Mereka rata-rata tidur pakai kain dan lucunya laki-laki harus tidur di teras luar dengan tujuan menjaga istri dan anaknya *langsungmeluksuami *gategangebayanginnya


#Tips: Jangan lupa membayar sumbangan setelah meninggalkan desa wisata ini, tujuannya untuk pengembangan desa ini kok, toh kamu pasti bakalan miris deh ngelihat kehidupan mereka yang sangat amat sederhana. Sekedar uang 10 ribu pun nggak ada harganya kan buat kita yang di Jakarta bisa tidur pakai kasur ;-)

#4th Destination – Pantai Kuta

Horeeee…akhirnya mantai juga! Gila saya memang tercipta sebagai anak pantai sejati sepertinya, rasanya langsung badan langsung segar bugar kalau lihat pantai dan air laut yang biru. Pantai Kuta letaknya masih di Lombok Tengah, sekitar 1.5 jam dari Dusun Ende atau sekitar 2 jam berkendara dari Mataram. Saat saya kesini kebetulan sedang hujan jadi langit ataupun air lautnya sedang tidak bagus. Duh, sayang sekali rasanya sudah jauh-jauh tapi saya hanya melihat pantai kosong melompong yang nggak ada bagus-bagusnya. Ya yang penting sudah menginjakkan kaki di pantai yang pasirnya unik karena bentuknya seperti butiran merica namun lembut pas diinjak. Anyway, I still love Kuta Bali then this Kuta Lombok...jauuuuuh banget dari ekspektasi saya!


#Tips: Pantai Kuta Lombok persis dengan Kuta Bali banya pedagang suvenir berkeliaran, tapi disini banyakan anak-anak yang agak memaksa, jadi kalau kamu ditawarin mereka langsung aja bilang tidak dengan sopan karena kalau kamu hanya diam mereka malah makin mengejar-ngejar dan memaksamu membeli.

That's my Mataram City Tour...saya nggak bisa jelasin detailnya sih tapi kalau ada yang mau bertanya lebih lanjut, monggo kasih komen aja di postingan ini. 

Blackball Taiwanese Dessert

0 komentar

Booming Taiwan food akhir-akhir ini makin membuat saya penasaran sendiri. Mulai dari fried chicken, bubble tea, milk tea dan sekarang dessert! Yang paling terakhir lah yang menarik hati saya. Sejak kemunculan Hong Tang di PIK yang membuat saya ngiler dan gigit jari karena lokasinya jauh, sekarang teman-teman saya heboh ngomongin Blackball. Blackball hampir mirip dengan Hong Tang, menawarkan sajian dessert a la Taiwan berupa es yang diisi dengan beragam topping seperti bubble, grass jelly, cincau hitam, es krim, dll. Mereka menawarkan juga bubble tea dan milk tea yang sama boomingnya seperti booming boyband Korea di Indonesia.

Blackball memiliki banyak outlet di hampir semua mall besar di Jakarta. Saya sendiri mengunjungi salah satu gerainya yang di mal Kota Kasablanka. Gerainya kecil diseberang Pizza Hut, tapi tampilannya dibuat seperti kedai-kedai kopi pinggir jalan a la Taiwan tapi versi modern. Di bagian depan terpampang dengan jelas menu-menu Dessert Series yang mereka tawarkan, mulai dari Blackball Signature, Blackball Winter Melon Ice, Blackball Mung Bean Ice, dll. Mostly isi dari dessert mereka berupa grass jelly, taro ball, sweet potato ball, taro q, pearls, red bean dengan perbedaan rasa es serutnya atau tambahan topping seperti mung bean atau nata de coco.



Blackball Signature tentunya menjadi pilihan saya untuk nyemil sore hari. Saya menambahkan matcha ice cream sebagai pemanis dessert ini. Rasanya memang cukup menggoda saat dessert itu datang ke meja saya dengan porsi yang sangat besar. Semangkuk Blackball Signature berisi grass jelly, taro balls, sweet potato balls, taro q, pearls, red bean dan matcha ice cream tentunya. Rasa kuah es-nya untungnya tidak terlalu manis karena hampir semua toppingnya manis. Sebenarnya, tidak ada yang terlalu istimewa dari toppingnya malah menurut saya seperti makan kolak versi dingin, ada biji salak, ubi, kacang merah didalamnya hihihi…Meskipun begitu rasa matcha ice cream yang manis dan pahit membuat dessert ini jadi lebih enak dan mengeyangkan. Cocok memang untuk dinikmati sambil santai siang atau sambil nunggu makan malam.


Harga seporsi dessert disini berkisar Antara Rp35.000 – 37.000 dan tambahan ice cream atau topping lainnya berkisar Rp.3.000 - Rp5.000. Murah sekali menuruut saya untuk porsi sharing seperti itu.



Well, dessert memang nggak ada matinya. Penasaran nih, kira-kira dessert dari Negara mana lagi ya yang akan booming di Indonesia. Kapan ya dessert a la orang Indonesia booming di Negara lain? Yuk share your opinion, eaters!

Blackball Taiwanese Dessert

Kota Kasablanka Mall
LG floor - IUL - 206 (depan Pizza Hut)
Telp. 021-29612697

Other stores at: LOTTE Shopping Avenue, Mal Artha Gading, Central Park Mall, Living World, Supermall Karawaci, Beachwalk Bali, Surabaya Town Square

Healthy Bean : Let's Healthy with The Bean

1 komentar

Kemarin saya mampir ke Depok lagi sambil benerin laptop sambil kulineran pastinya. Enaknya di Depok pasti selalu saja ada tempat makan baru yang saya wajib coba. Rekomendasi teman saya yang juga traveller gunung sejati, @acentris kali ini adalah Kembang Tahu! Wow, mendengarnya saja sudah membuat saya flash back ke masa saya kecil dulu. Terakhir kali saya ingat makan-makanan ini waktu masih jaman SD dulu, kembang tahu pinggir jalan yang dimakan hangat-hangat dengan kuah jahe. Kembang Tahu jaman sekarang ternyata makin bervariasi, terbvukti saat saya menghampiri gerai kembang tahu di Depok dengan merk Healthy Bean terpampang besar-besar di tembok depan kafe-nya.

Healthy Bean menempati lahan yang cukup luas disamping Bubur Jagung Margonda (sebelah Resto Nishimura dan 7 Eleven). Kita bisa makan di area outdoor sambil menikmati sejuknya angin sore atau di dalam yang lebih teduh tapi agak panas menurut saya. Dekorasi kafe-nya dibuat sangat sederhana, bahkan hanya ada etalase kecil namun cukup cantik dengan deretan toples kaca besar berisi topping kembang tahu warna-warni seperti buah kering, cokelat chips, corn flakes, dll.

Healthy Bean tentunya menawarkan kembang tahu sebagai menu utamanya. Kembang tahu disini disajikan dengan dua kuah, jahe dan susu kedelai. Selain kuah, kita bisa memilih tambahan topping seperti keju, fresh fruit, corn flakes, meses, choco chip, kacang mete, cincau hitam, dll. Coba juga minuman segarnya seperti kacang + hijau susu, cincau hijau + susu atau susu kedelai + black pearl yang disajikan dengan gelas sangat besar!

Buat saya pribadi, Healthy Bean dengan Susu Kedelai dan Cornflakes lebih menyegarkan. Tekstur kembang tahunya sangat tipis dan super lembut. Baiknya tidak mengaduknya karena akan pecah dan rasanya menjadi tidak enak (tampilannya juga sih hihihi). Susu kedelainya disajikan dingin ditambah dengan kerenyahan cornflakes, cemilan ini benar-benar menjadi cemillan sehat dan mengenyangkan.


Beda dengan yang original, meskipun disajikan dengan kuah jahe hanget dan potongan buah kering, Healthy Bean dengan Kuah Jahe ini kurang ‘nendang’. Rasa kuahnya kurang pedas dan manis plus disajikannya juga nggak panas, menurut saya lebih enak panas daripada hangat, lebih menghangatkan badan aja, sih.

Anyway, rasanya 1 mangkuk kembang tahu ini nggak cukup buat saya, apalagi harganya murah pula. Semangkuk kembang tahu Healthy Bean ini dijual seharga Rp10.000-13.000 saja. Nah, yang lagi cari cemilan sehat di Depok, boleh tuh nyobain Healthy Bean and let me know which one do you prefer!

Happy Hunting, eaters!







Healthy Bean

Jl. Margonda Raya 418A
Depok, Jawa Barat
(sebelah bubur jagung/Seven Eleven Margonda)
@HealthyBeansIND

[Product Testing] : Cemilan Kampung Naik Kelas by Desanesia

1 komentar

Hayo, ngaku siapa yang nggak kenal rangginang dan keripik bayam, ngacung?! Kalau kenal berarti kalian pemakan sejati hahaha…Yup, kalau yang masa kecilnya tinggal di kampong terutama daerah Jawa Barat pasti tau deh cemilan yang namanya Rangginang atau Rengginang yang terbuat dari nasi yang dikeringkan. Kalau keripik bayam sudah pasti banyak sekali dijual di toko snacks malah awalnya dulu terkenal banget sebagai oleh-oleh khas dari Puncak hihihi…

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan kesempatan untuk testing produk-produk Desanesia, sebuah merk dagang dibawah naungan Innovation for Community Development Center Indonesia. Produk-produk tersebut berupa Rangginan Mini yang merupakan hasil pemberdayaan wanita di Desa Cikoneng, Kabupaten Bandung dan Keripik Bayam hasil pemberdayaan wanita tani di Desa Cikidang, Kecamatan Lembang.

Rangginang Mini hadir dengan 3  varian rasa yaitu original, pedas, keju dan cokelat. Yang paling menarik hati saya adalah kemasannya yang sangat eye-catchy berupa kotak berbentuk persegi dengan tutup segitiga dan berwarna kuning! Dari luarbenar-benar tak terlihat kalau ini cemilan tradisional. Very good marketing idea!


Saya mencicipi varian Rangginang Mini rasa keju dan pedas. Rangginang Mini rasa keju dibalut dengan lelehan keju diatasnya beserta sprinkles warna-warni. Rasa kejunya menurut saya tidak seperti rasa keju asli, lebih seperti cokelat leleh dengan rasa asin dan manis namun membuat rangginang ini jadi beda dari kebanyakan rangginang. Rasa plain berpadu dengan rasa manis dan asin menghadirkan senasi nyemil rengginang yang unik!


Kalau Rangginang Mini rasa pedas lebih gurih dan sangat terasa pedasnya. Saya lebih suka ini karena masih mengangkat rasa asli si rangginang yang asin dan gurih dan mengingatkan saya akan rangginang asli orang Sunda. Ah saya jadi kangen tanah Pandeglang, kampung tercinta saya hihihi...


Sementara, Keripik Bayam hadir dengan dua rasa, Original dan Spicy. Keduanya dikemas dengan kemasan yang juga unik berbentu seperti tas jinjing berwarna hijau untuk yang original dan merah tua untuk yang spicy. 


I love both the original dan spicy. Keripiknya masih renyah sekali meskipun dikemas dan tanpa bahan pengawet loh! Rasa yang Original gurih dan sedikit asin sedangkan yang spicy pedas sekali tapi nagih hehehe...


Keripik Bayam Original

Keripik Bayam Spicy

Rasanya senang sekali bisa turut mendukung produk-produk handmade lokal sekarang ini. Meskipun belum terlalu luas pasarannya, saya yakin produk Rangginang Mini dan Keripik Bayam dari Desanesia bisa semakin dikenal banyak orang dan mampu bersaing dengan produk sejenis.

Untuk kamu-kamu yang suka nyemil dan ingin mendapatkan produk Desanesia ini bisa langsung menghubungi distributor dan reseller-nya. Sampai saat ini kebanyakan masih berdomisili di Bandung. But hey you can shop online anytime right now hehehe...Untuk lebih jelasnya silahkan buka daftar distributor dan reseller mereka disini.


Yuk, dukung produk-produk cemilan lokal kita dan makin cintai makanan Indonesia! 

Desanesia
Jl. Butik Kumeli 80A
Bandung, Jawa Barat
Cp. 081322335195
Twitter: @desanesia
email: desanesia.info@gmail.com


Our Another First Date at Bits & Bobs

1 komentar

A month ago after my office's early year end party at the Foundry No. 8, SCBD, my hubby picked me up and we decided to have a date. I really have no ide to where we starting up our first date after marriage hehehe...til my hubby feel tired and decided to enter the nearest resto around the Foundry and we found Bits & Bobs Urban Eatery. The name Bits and Bobs actually came from the philosophy of two food traveler Bits for Betsy and Bobs for Robert. They brought a mix of urban, classic, vintage and industrial interior into this resto with several line up of Western, Indonesian, Asian, Italian, and American on the menu.With the not so spacey and warm lighting, I feel this place could give us a more intimate time.


Since I have already had my dinner on the party, so we just order some snacks and drinks. I ordered their must-drink beverages, Pink Potatoes. The presentation is sooo pretty and eye-catchy with a round glass and pinky colour. Well, actually it's a coffee with a shot of espresso, milk, red velvet flavour syrup, lemon grass, and strawberry bubble. The taste? Of course colorful. I could sip a light espresso but got an after taste of sweet red velvet. Neither too sweet nor bitter. It's perfectly blend. I really love love this drink!


While, my hubby ordered Friench Fries and Mushroom Soup. It's was just an ordinary friench fries but looks good with the cheese sauce. While the Mushroom soup is quite good albeit the portion was so small. The soup served hot with a thick texture and rich of mushroom flavour and some savoury chicken chunks inside. 




Well, we spent my night beautifully. I wish someday we'll be back here to try their main course. I recommend this place for you who want to have intimate date hehehe....


Price Range:
Food IDR30,000 - 120,000
Beverages IDR25,000 - 125,000 (they also serves various alcoholic drinks)

Operational Hour:
10.00 AM to 10.00 PM (on Weekday) & 10.00 AM to 03.00 AM (Friday to Sunday)

Bits & Bobs Urban Eatery

The Foundry No. 8 Zone C
SCBD Sudirman Lot. 8
Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53 
Jakarta Selatan
Ph. +62 21- 51401011
@bitsbobsjakarta
www.bitsandbobsjakarta.com

Booking your date simple by clicking the 'Book Now' button below.

Santai Keluarga di Cimory Riverside

2 komentar

Musim liburan anak sekolah minggu lalu, menjadi waktu yang tepat untuk mengajak adik-adik kecil saya pergi berwisata. Awalnya bingung mau pergi kemana karena saya hanya punya waktu satu hari untuk menemani mereka. Then I decided to go to Puncak! Saya sudah sering membaca review orang tentang restoran Cimory dengan konsep baru yaitu Cimory Riverside. Jika awalnya Cimory Mountain View berkonsep pegunungan dengan pemandangan juga full menghadap bukit, makan Cimory Riverside ini membawa konsep sungai dengan pemandangan resto menghadap sungai Ciliwung. 


Saya dan keluarga akhirnya memutuskan mampir untuk brunch disini. Lokasinya berada di sebelah kanan dari arah Taman Safari. Pertama kali sampai disini sekitar pukul 10 pagi saat restoran baru buka dan langsung terpesona dengan interior mereka yang ditata sedemikian rupa terlihat alami namun homey. Deretan pilar berbatuan pualam menghiasi bagian tengah restoran. Masuk ke arah dalam sedikit kita akan menemui dua area outdoor yang menghadap langsung ke sungi Ciliwung yang jernih dan deras airnya. Suara aliran sungai yang menenangkan, semilir angin serta kicauan burung, membuat saya makin penasaran dengan restoran ini. Turun ke bagian bawah, saya melihat ada taman bermain anak dan area outdoor private yang khusus dipesan dengan reservasi dan juaranya adalah jembatan sepanjang sungai yang diklaim sebagai jembatan terpanjang pinggir sungai entah se-Jakarta atau Bogor hanya saja menurut saya nggak panjang ah jembatannya hihihi...Saya suka sekali dengan pemandangan sepanjang sungainya soalnya ada taman cantik juga dipinggirnya, jadi seru buat foto-foto hehehe...


Untuk makanan, Cimory Riverside menyajikan aneka menu Indonesia, Western dan Italia. Harga yang ditawarkan memang cukup mahal menurut saya mungkin karena mereka juga menjual view yang cukup lumayan. Makanannya berkisar dari Rp25.000 - 55.000 sedangkan minuman dapat dinikmati mulai dari Rp8.000 - 25.000.

Zuppa Soup (IDR26.5K) menjadi appetizer yang cocok untuk membuka acara brunch di udara Puncak yang mulai dingin. Meskipun puff dan soup-nya dipisahkan, tapi saya suka sekali dengan tekstur soupnya. Tidak terlalu cair, lembut dan kaya akan susu namun tidak membuat eneg. Isinya pun cukup banyak, potongan daging, sosis dan keju. 


Jika Zuppa Soup menghangatkan perut, Fish Mango Salad (IDR45.5K) ini menyegarkan tenggorokan. Saladnya sendiri terdiri dari ikan yang digoreng tepung dengan kulit yang cukup garing dan tektur ikan yang lembut. Saus mangganya sendiri segar sekali. I simply love this salad!




Saya sempat minta rekomendasi teman food blogger untuk makanan utama disini, ternyata sausage-nya lah yang menjadi favorit. Ring Kanzler Sausage (43.9K). Sosis sapi ini bentuknya unik sekali seperti tapal kuda dan dilengkapi dengan potato wedges yang crunchy dan lembut serta saus barbeque. Aroma smokey yang sangat kuat tercium dari luar namun sayangnya saya hanya merasakan sosis ini seperti umumnya sosis yang diluar dipasaran tidak ada yang terlalu spesial dari makanan ini. 


Spiral Kanzler Sausage (44.9K), bedanya sosis ini dengan Ring Kanzler hanya pada bentuk dan campuran dagingnya. Bentuknya sudah pasti spiral hanya saja campuran dagingnya berupa daging ayam dan sapi. Rasanya lebih gurih tapi that's just a sausage for me hehehe...


Steak Burger Asian (IDR42K) ini juga biasa saja menurut saya. Dagingnya merupakan daging cincang yang dipadakan namun keras dan kurang terasa bumbu lada hitamnya. Jadi butuh mencolek saus lada hitam yang disiram di atasnya baru ada sedikit rasa pedas manisnya.


Untuk melengkapi makan pagi menjelang siang, segelas Blueberry Milk (IDR24.5K) bisa menjadi pilihan tepat. Saya suka sekali dengan blended blueberry ini. Rasa blueberry bercampur susunya terpadu sempurna, tidak terlalu manis dan cukup menyegarkan.


Begitu juga dengan Cappucino Hazelnut (IDR28.5K). Segelas capuccino diblended sempurna dengan bubuk hazelnut sehingga menguarkan aroma hazelnut yang kuat dengan rasa capuccino yang tidak terlalu pekat. Cocok untu teman dikala dingin jika disajikan panas.


Selain menikmati restoran beserta pemandangan alam Sungai Ciliwung, jika ke Cimory Riverside jangan lewatkan berkunjung ke Chocomory, chocolate shop yang baru-baru ini dibuka. Di dalam Chocomory, saya menemukan banyak sekali variasi cokelat mulai dari chocolate bar, chocolate candies, sampai aneka cookies yang dibalut dengan cokelat. Saya suka sekali dengan 75% Dark Chocolate Bar-nya, rasanya enak dan tidak terlalu pahit. Jika mau lebih banyak bawa oleh-oleh, bisa mampir ke Cimory Supermarket disebelah Chocomory. Kita bisa menemukan aneka snacks, kue dan tentunya dairy product khas Cimory seperti Dairy Milk dan Yoghurt. Cimory juga memiliki pabrik cokelatnya sendiri yang terletak di lantai 3 bangunan Cimory Riverside. Sayangnya, saat weekend pabriknya tutup, padahal kalau weekday kita bisa dengan bebas melihat pembuatan cokelatnya.

Anyway, saya dan keluarga cukup senang menikmati acara brunch kami disini. Meskipun makanannya so-so, tapi pemandangan alam dan Sungai Ciliwung yang cantik menggantikan semuanya. Adik-adik senang, sayapun riang hehehe...

Chocomory and Cimory Supermarket

Children Playground

Me, mom and my sisters


Cimory Riverside

Jl. Raya Puncak 415
Cisarua, Bogor
@Cimory

Celebrating Chinese New Year with Tien Chao, Gran Melia Hotel

0 komentar

A couple days ago I was invited to join media lunch celebrating the upcoming Chinese New Year at Tien Chao, one of the famous Cantonese and Szechuan restaurant reside at Gran Melia Hotel Jakarta. This is my second time having my lunch here and this resto always please my eyes with its warm interior, a touch of gold and brown with perfect mix of Chinese-theme decor. 

As usual we're gathered at their big round table with fancy set of Chinese dining utensils while enjoying some talks with the PR Officer of Tien Chao, Mira Gartika and Director of MarComm of Gran Melia, Ratna Sjamsiar Idris. Commemorating Chinese ancestor’s tradition, Tien Chao will present Chinese New Year Gala Dinner on January 30, 2014 with three Chinese special set menus completed with Yu Sheng as the first dinner menu prepared by Executive Chinese Chef, Ken Choy. Tien Chao serves three choices of Yu Sheng i.e. Authentic “Yee Sang”, Salmon “Yee Sang” in Red Wine Honey Dressing and “Yee Sang in Thai Style and seven other menus including main course and dessert.

Yee Sang (photo courtesy of Tien Chao)

I was lucky to try several their best menu including the menu on Chinese Set menu. The lunch was opened with Tien Chao new dim sum variation.

Steamed Seafood with Carrot Dumpling in Pumpkin Sauce (IDR55++ per portion). I thought this is the best dim sum I’ve ever tried. I love the pumpkin sauce, not too thick but brought me a great savoury taste with sweet after taste on my throat. Oh and also the ‘something crispy’ inside which I have no idea what it is, but when I bite it, it’s like a coconut chunk and it’s made the dim sum more tasty!


Salmon Wo Tie (IDR48.000++ per portion). This fried dim sum was also the best one. I love the crispy skin outside with soft grilled salmon inside.


Crispy Mango Prawns Roll (IDR48.000++ per portion). I couldn’t guess what’s the secret ingredients given by the Chef on the sauce of this dim sum, but it’s so damn delicious til I didn’t aware of what the taste of the roll hahaha.


For the main course, I tried Smoke Australian Tenderloin Beef (IDR148.000++ per portion). The juicy and tender tenderloin beef blends perfectly with the sauce. It’s sweet with a hint of spicy. Simply love this one.


King Prawn with Butter Cream and Walnut (IDR188.000++ per portion) this is include in Chinese Set Menu. I’m not fans of prawn by the way but this prawn is quite good for me. The butter cream is savoury and balances the original flavour of the prawn coz sometimes I get nausea when eating fresh prawn. The walnut is simply adding a ‘crunchy’ sensation on this dish.


Coconut Jelly with Coconut Ice Cream (IDR48.000++) and Cream Mango (IDR48.000++) closed our lunch. I love how soft the texture of the Cream Mango is. This dessert is simply like pudding but thicker. The mango flavour is also very strong. Unfortunately, since this is sharing, I couldn’t taste the Coconut Jelly dessert. Maybe later I’ll be back for this dessert since my friend said the Coconut Jelly is so delightful.


You can enjoy the Chinese Set Menu with IDR688.000++ per person for Chinese Set Menu 1; IDR788.000++ per person for Chinese Set Menu 2; and IDR988.000++ per person for Chinese Set Menu 3. Beside those set menus, Chef Ken Choy also present other Chinese New Year special menu starting from January 31 to February 28, 2014 such as Peking Duck (IDR368.00++), Braised 6 Head Abalone (IDR338.000++), Braised Sea Cucumber with Fish Maw Dried Scallop served in a claypot (IDR448.000++)

Thank you so much for Tien Chao and Gran Melia Hotel for this kind opportunity. For you who celebrating Chinese New Year hurry booked your table (btw you can book easily via this blog by clicking the widget below this post) and enjoy dinner with your family to open the year of the Horse.

Happy Chinese New Year!


Tien Chao
Lobby 2nd Floor, Gran Melia Hotel
Jl. H.R Rasuna Said Kv. X-0
Kuningan Jakarta 12950
RSVP. (021) 5268080

Twitter : @GranMelia_JKT

 
  • Eating Until Die © 2012 | Designed by Rumah Dijual, in collaboration with Web Hosting , Blogger Templates and WP Themes