Showing posts with label kuliner Solo. Show all posts
Showing posts with label kuliner Solo. Show all posts

Bengawan Solo: Authentic Indonesian with Creative Styling

2 komentar

Couple weeks ago, I had a chance to visit the renovated restaurant, Bengawan Solo, at Grand Sahid Jaya Hotel Jakarta. It was quite surprising since I never visited this hotel before and got a great experience to taste the dish from one of their best restaurant. Bengawan Solo is Grand Sahid Jaya’s signature restaurant, offers various Indonesian cuisine with artistic interpretation to preserve the Indonesian’s tradition.

Walking into this restaurant, I saw a great presentation of Indonesia which reflect in their influences of Solo from the Becak rickshaw bicycles carrying ‘krupuk’ to the playful Panakawan and wayang puppets. The way they serve the food also became my attention; will gonna share it one by one throughout this post. FYI, Grand Sahid claims themselves serving very authentic Indonesian foods which from taste to the presentation resembles the traditional food we had in our home or in the street foods around. I didn't expect anything from the dinner, except I got the food like my mother cooked for me or at least like the food I found around Jakarta's street area which for me more authentic. So, let’s start the dinner and proved!


The dinner was opened by choosing the drink for us (btw my hubby accompanied me that night. Super thanks hon!). Wait...wait..before we talked about the beverages, I wanna show you how I adored their cutlery, especially the plate which illustrate Panakawan, Javanese puppets which consist of the famous Semar, Petruk, Gareng and Bagong characters. And oh, also their signature snack sserved in a unique Becak rickshaw bicycle. The snacks are served different each day, that night I got cassava chips on my table. 


The waitress recommended us two of their best beverages, Es Kelapa Durian and Bajigur. Look at their beautiful spoon with 'wayang' Indonesian puppets as the head. I love how refreshing the Es Kelapa Durian, the coconut taste was perfectly blended with the durian. So did the Bajigur, even though this traditional drink is bes served during cold weather, but Grand Sahid made the drink suitable for a hotel dinner. 




Before proceed to the main course, we tried their appetizers, Sosis Solo. This is Indonesian traditional snacks made from rolled crepes and filled with tender mincemeat, flavoured with ginger, garlic and palm sugar. What made me amazed from their presentation was the chili spray for the salad. They even use spray bottle and spray it like a parfum to the salad. Super unexpectable idea! *ouch sorry for not taking the full photos of the spray bottle ;-)


Jumped into the main course, I had Ayam Goreng Jogja (85K) on my plate, served with sambal bajak. This typical homemaker food stole my heart for the first time. It was mommy-homemade-fried chicken! The braised chicken was perfectly wok fried, with crunchy skin, tender meat, and rich with coconut, garlic, and turmeric flavour which made it truly authentic Indonesian. Ah good job, chef! 


Next was Sate Ayam Madura (95K). Char-grilled chicken skewers marinated in sweet soya and served with peanut sauce. The chicken was well-marinated and juicy. I love how well they made the peanut sauce. It's condensed enough and rich with peanut taste, similar with chicken satay I found near my neighburhood. 


Tongseng Kampung Jogja (110K) became my next highlight. It's not because I love this dish, but I missed something from this Jogjakarta specialty. Yeah, sorry to say that the broth was more likely like Soto Betawi's broth. The coconut milk broth was too light, for me a 'tongseng' should be more 'heavy' with richer spices.


From the beginning of the dinner, Putri told me that she would offer me their one of signature dishes. And here it is, Nasi Goreng Bengawan Solo (95K). Putri asked me to say honest about this food since the Chef claims that this fried rice should be similar with the typical 'nasi goreng abang-abang pinggir jalan' or street food fried rice, and yeah they did a good job! Bravo Chef for brought the street food taste to your hotel. I really really love how the Chef made the wok-smell into the rice. Gosh, now I'm proud to be Indonesian, even the street food can be made high-class like this one! 


Lastly, the dinner was closed with another surprise from Bengawan Solo. They offered us their signature dessert, Bengawan Solo Exotic Ice Cream. It might be a simple scoop of ice cream consists of several flavour like durian, cinnamon, lemongrass, banana, green tea, etc, but wait until you see the exotic presentation of this dessert. It served in a bowl of dry ice which releases misty smoke. Super great idea! 


I didn't expect that I will had a fantastic eating experience of Indonesian food like this, but thanks so much to Bengawan Solo for making me amazed with your crafting of Indonesian food. I really really appreciate the Chef effort from making the food to searching for the traditional Indonesian cutlery and accessories. Thank you also for Putri a.k.a Miss Purple for having us. Next time who's gonna be in our gossip after Raffi and Gigi hahaha....You guys who wanna try Indonesian food in next level, should consider this restaurant in your list.




Bengawan Solo Restaurant
Grand Sahid Jaya Hotel
Jl. Jend. Sudirman Kav. 86
Jakarta 10220
Telp. +62 21 570 4444 ext 1610 – 1613
www.grandsahidjaya.com

Omah Selat : Cara Seru Makan Steak a la Solo

2 komentar

Satu-satunya alasan saya mau datang ke Solo adalah masih banyak restoran yang menjunjung tinggi nuansa tradisional dan homey-nya rumah di perkampungan Solo dalam interior ataupun eksterior restorannya, salah satunya adalah Omah Selat. Mulsi dari area bagian depannya saja sudah disuguhkan suasana rumah tempo dulu dengan deretan kursi dan dinding dari kayu jati dihiasi dengan perlengkapan rumah tangga jaman dulu mulai dari nampan corak bunga dari besi yang sudah berkarat, piring-piring kaca, juga lampu petromak yang dimodifikasi.


Masuk ke bagian dalam nuansa tradisional semakin terasa dengan dinding kayu berukiran khas Solo dan penerangan redup yang menghasilkan cahaya kuning di segala sisinya. Ada beberapa area di ruangan ini, area pertama merupakan area lesehan yang di beberapa sudutnya terdapat deretan teko-teko alumunium tua, lemari tua berukiran Jepara dan beberapa pajangan keris gantung.


Masuk ke bagian tengah terdapat satu set meja makan. Dindingnya  kental dengan beragam ukiran dan hiasan piring-piring keramik dan oh ada satu yang lucu ada frame berisikan foto gadis a la 50-an, tipikal foto-fotonya Andy Warhol. Ada juga pajangan berupa rantang jaman dulu dengan corak hijau army-nya. Lampu gantungnya juga unik, tipikal lampu pada rumah gaya Jawa dan Betawi tempo dulu. Masuk ke bagian agak dalam, atau paling belakang terdapat dua ruangan, ruangan sebelah kiri pertama memiliki dua sofa besar yang bisa ditidurin yey! Di seberangnya terdapat dertan setrikaan sangat kuno yang jaman dulul masih menggunakan arang, tapi lucunya ada TV LCD 29 inch di gantung ditengan dinding. Tak lupa deretan toples usang di bagian samping dan foto-foto pemilik restoran ini. Ruangan sebelahnya terkesan agak private karena sangat tertutup dan memiliki set meja makan yang lebih bagus mirip seperti kursi makan di keraton Solo. Di bagian luarnya terdapat pajangan termos-termos tua dan rantang.


Ah rasanya masuk ke restoran ini seperti dibawa kembali ke Solo beratus tahun silam dan tidak sampai disini, saya juga dimanjakan dengan kuliner khas Solo yang jadi jualan utama restoran ini, Selat Solo. Mungkin sedikit asing bagi yang belum pernah mendengarnya, saya pun begitu, ternyata selat merupakan makanan yang terbuat dari daging sama seperti steak hanya saja penyajiannya ya a la tradisional. 

Coba tengok Selat Segar (12.5K) yang saya pesan ini. Selatnya berupa rolade daging yang disiram dengan kuah kecap yang cair disajikan dengan kentang goreng, potongan wortel, telur rebus, kacang polong, selada, dan keripik kentang. Mirip sekali seperti penyajian steak hanya saja steak Solo ini direndam di kuah hihihi... Rasanya? Sama persisi seperti makan beef steak. Daging roladenya empuk, dengan bumbu kecap dan sedikit rempah yang cukup menyengat di lidah. Agak sedikit kemanisan sih buat saya, but so far it's okay. I just enjoy something new dari sebuah kekayaan kuliner Indonesia ;-)


Berbeda dengan selat segar, Selat Iga Bakar (20K) yang ini disajikan sebagaimana steak pada umumnya. Potongan iga sapi yang dibakar dan disajikan dengan potongan wortel, buncis, ubi ungu, kentang goreng dan mayonnaise. Lucunya di atas iga yang dibakar ada lelehan kejunya wuoooh makin ngiler saya! Iganya dibakar well-done, dagingnya empuk sekali, dan bumbunya meresap sampai kedalamnya sedangkan sausnya mirip saus bolognese untuk pasta hanya sedikit pedas manis.


Soup Lapis Galantin (12.5K) lebih unik lagi, sup ini berisikan selat yang merupakan campuran daging sapi dan ayam ditambah dengan potongan wortel, kacang polong, jamur kuping putih, keripik kentang dan sosis sapi. Kuah supnya gurih dan asinnya pas. Sisanya sih menurut saya seperti menyantap sop pada umumnya saja. 


Overall, lagi-lagi saya menikmati apapun yang unik disini, lagipula nggak perlu merogoh kocek terlalu dalam juga tiap kali makan di Solo. Disini seporsi selat yang notabenenya sudah bermodel steak mahal saja range harganya masih dikisaran Rp20.000 - 25.000, selat segar dan sop malah hanya Rp12.500. Hmm...nggak salah saya memilih jelajah kulineran disini, selain suasana homey yang saya cari, makanan dengan harga 'terlalu' masuk akal pun bisa saya dapatkan. I'm gonna miss this city for sure!


Omah Selat & Gallery

Jl. Gotong Royong No. 13
Jagalan, Solo
0271.656205

Sate Kere Yu Rebi

1 komentar

Tenang aja, kamu nggak akan 'kere' kok cuma karena makan sate ini hihi...sate kere ini memang salah satu makanan khas Solo yang wajib dimakan saat berkunjung disini. Kenapa dinamakan 'kere' karena katanya orang Solo nggak sanggup pesan satu porsi dengan beragam jenis, jadinya dijadiin satu porsi isi macam-macam daging mulai dari daging, babat, ati ampela, gajih, ginjal, sampai torpedo! Tapi sebenarnya 'kere' itu merupakan nama lain dari tempe gembus atau ampas sisa pembuatan tempe. Kere ini diolah lagi sehingga bisa dimakan, deh. 

Salah satu gerai sate kere ternama di Solo adalah Sate Kere Yu Rebi. Sudah bertahun-tahun Yu Rebi berjualan disini dengan rumah makan yang semuanya di cat berwarna oranye. Rumah makannya cukup luas berkapasitas kira-kira 80 orang. Di salah satu dindingnya kita bisa melihat foto Yu Rebi dan suaminya lengkap dengan kebaya dan beskapnya. Di bagian depan rumah makan, saya bisa melihat etalase berisi daging-daging yang sudah ditusukkan ke tusuk sate dan sebuah panggangan sate yang selalu mengepul.

Yu Rebi menjajakan aneka jenis sate yang rata-rata jerohan sapi, that's why nama rumah makan ini sebenarnya sudah berubah menjadi Sate Jerohan Sapi Yu Rebi. Sate daging, ginjal, babat, ati, torpedo merupakan pilihan bagi para penikmat jerohan. Seporsi sate tersebut berisi 10 tusuk. Saya memilih sate campur yang berisikan kesemua daging tersebut plus sate kere karena penasaran seperti apa tempe gembus itu.

Seporsi sate disini disajikan dengan lontong ataupun nasi. Saya memilih lontong. Lontong dan satenya sama-sama disiram dengan bumbu kacang yang agak sedikit pedas. Bumbunya sangat kental dan rasa kacangnya pun begitu pekat bahkan saya masih melihat potongan kacang kecil-kecil di bumbunya.



Sate campur sendiri isinya daging, ati, ampela, babat, gajih, ginjal, dan torpedo. Buat saya ketika semua daging ini dimakan bersamaan dengan bumbunya rasanya sama hehehe...Yang membedakan hanyalah tekstur tiap dagingnya saja dan ada ciri khas rasa tertentunya, seperti ati dan torpedo, kenyalnya beda dengan daging biasa. Anyway, walaupun terlihat tidak pedas, after taste bumbu kacang Yu Rebi ini dahsyat, pedasnya baru berasa di tenggorokan dan perut setelah makan! Nggak membayangkan orang yang menambahkan cabe dan bawang merah tambahan yang juga disodorkan Yu Rebi hihihi...


Sedangkan si sate kere alis si tempe gembus di bentuk kotak panjang dan ditusukkan ke sate. Sama seperti sate lainnya, si kere ini juga di bakar terlebih dahulu hingga kecokelatan. Teksturnya lembut sekali dan sedikit puffy dan terasa sedikit berampas ketika dikunyah. Rasanya gurih, sedikit mirip seperti makan adonan tempe dan tahu yang diblender halus.

 

Soal harga, kalau kata orang Solo yang sudah lama tahu Yu Rebi, harga disini semakin hari semakin mahal, mungkin karena Yu Rebi sudah punya 'nama'. Seporsi sate rata-rata dibanderol dengan harga Rp.22.000. Selain sate, Yu Rebi juga menyajikan sop buntut dan gado-gado komplit atau biasa dengan harga Rp10.000 untuk gado-gado dan Rp22.000 untuk sop buntut. Minuman murah aja rata-rata Rp2.000 - 3.500.

Yah, walaupun mahal berkunjung ke kedainya Yu Rebi nggak akan jadi kere juga kok. Kalau saya sih sangat terobati dengan si sate kere tersebut. Kulineran di kota yang masih kental makanan aslinya itu nggak akan pernah rugi. Hayoo siapa lagi yang mau mampir ke Solo. Share your stories here, eaters!



Sate Kere Yu Rebi (Sate Jerohan Sapi Yu Rebi)

Jl. Kebangkitan Nasional Kios No. 1-2
Sriwedari, Solo
Telp. 0271-739839

Bestik Jawa : Steak a la orang Kampung

0 komentar

Ketika lagi ingin makan steak, teman saya mengajak saya berpetualang menikmati sajian steak yang lain daripada biasanya, yah di kota Solo tempat saya backpacking ini memang selalu saja ada kuliner Indonesia yang tak lazim saya temui sebelumnya. Kali ini saya tidak mampir ke restoran steak melainkan ke sebuah rumah makan yang menyediakan bistik Jawa atau bestik kata orang Solo. Di sebuah rumah makan di pinggir jalan Honggowoso, Solo, bestik ini dijajakan. Rumah makannya memiliki dua area, satu tenda pinggir jalan, satu lagi di dalam ruko. Malam itu saya bisa melihat rumah makan ini begitu ramai dikunjungi, aroma daging dengan kecap menyeruak dimana-mana dan menusuk-nusuk hidung saya. Area tenda terlihat tidak terlalu bersih menurut saya ditambah dengan asap yang mengepul dari gerobak tukang masaknya. 

Akhirnya, saya memilih area ruko dengan jejeran bangku dan kursi kayu sederhana dan penerangan yang sedikit redup. Menu andalan disini pastinya bestik, mulai dari bestik daging, bestik ayam, bestik lidah, bestik, jerohan, dll. Ada juga aneka bakmi, mie goreng, nasi goreng, fu yung hai, dan paklai. Saya penasaran dengan Bestik Daging-nya (18K). Dan ketika sampai di meja, saya terbengong-bengong. Lho ini toh bistiknya? kirain salah pesanan hehehe...ya, yang datang di meja saya bukanlah bistik berupa daging berpotongan besar yang di panggang melainkan potongan daging cincang yang disiram kuah kecap lengkap dengan potongan wortel dan kentang serta selada. Wuih, inilah bestik Jawa yang dikenal dikota ini. Mungkin aneh buat saya karena sebelumnya memang belum pernah makan bistik Jawa dimanapun hehehe...

Kalau dari segi rasa saya acungi jempol, sama saja seperti saya makan steak potong, bedanya ini dicincang. Dagingnya dicincang halus, kuah kecapnya mirip saus teriyaki dan menguarkan roma daging sapi panggang yang kuat. 



Sebagai tambahan, saya coba mencicipi Nasi Goreng Daging (14K) dengan tambahan telur dadar isi daging. Nasi gorengnya kurang bersahabat dengan selera saya, karena rasanya sedikit hambar dan terasa seperti makan nasi gosong. Telur dadarnya cukup enak dengan pottongan daging yang empuk dan gurih. 


Untuk menyegarkan tenggorokan, Es Coklat (3,5K) menjadi pilihan saya. Sepertinya ini memang hanya cokelat bubuk biasa yang diberi tambahan gula dan es. Cokelatnya cukup pekat, manisnya pas, dan segar buat menetralisir makanan berkuah kental yang saya makan sebelumnya.  


Overall, nggak pernah ada kata menyesal jika mencicipi kuliner Nusantara, kalaupun itu nggak enak, ya itu semata-mata hanya perbedaan lidah tiap orang kan. Makan di rumah makan sederhana ini juga tak perlu merogoh kocek terlalu dalam, cukup dengan Rp11.000 - 22.000 kamu bisa mencicipi aneka bestik khas Solo dan Rp 2.500 - 3.000 saja untuk minumannya. Makan di Solo, selalu masuk akal, bukan!


Sumber Bestik Pak Darmo

Jl. Honggowongso, Panularan
Solo
Telp. 0271-712415

Ngeteh Cantik di Rumah Ndoro Donker

0 komentar

Apa yang nikmat dari jalan-jalan ke daerah pegunungan yang sejuk kemudian hujan deras dan badan kedinginan? Minum yang hangat-hangat kalau buat saya. Nggak heran ketika terjebak hujan deras di daerah Kemuning, Karanganyar, Solo, saya dan teman-teman memutuskan berteduh sambil ngeteh cantik di sebuah rumah teh bernama Ndoro Donker. Rumah teh yang memiliki nama sepintas seperti nama orang Belanda ini sebenarnya memang dimiliki oleh seorang lelaki berkebangsaan Belanda bernama Donker yang juga memiliki perkebunan teh di daerah Desa Kemuning ini. Rumah teh ini berdiri cantik di tengah-tengah perkebunan teh yang asri. Dengan konsep gaya Belanda, saya disuguhkan suasana homey mulai dari pelataran parkir rumah ini. Di bagian dalamnya terdapat dua area, area indoor dan outdoor. Di outdoor terdapat set meja makan kayu dan beberapa ada yang dipayungi oleh payung pantai cantik berwarna merah. Suasana taman dan pegunungan sangat terasa jika makan di area outdoor ini. Jika ingin merasakan suasana rumah Belanda, coba tengoklah ke bagian indoornya. Ada deretan pigura-pigura foto tempo dulu di dindingnya yang putih dan furnitur jaman dulu lengkap dengan karung berisi rempah-rempah di salah satu sudutnya. Kita juga bisa melihat rak berisikan kotak-kotak teh siap minum hasil dari perkebunan teh ini. 

Karena saya dan teman-teman mau menikmati suasana dinginnya pegunungan dan hijaunya kebun teh, maka area outdoor lah yang dipilih. Makanan yang ditawarkan disini juga beragam, rata-rata sih masakan Indonesia yang namanya diubah dengan nama Belanda hehe...Minuman yang jadi jualan utama sih pastinya teh, mereka punya varian teh diantaranya Teh Hijau Kemuning, Teh Oolong, Teh Hitam Donker, Teh Aroma 63, Teh Aroma Inggris dengan pilihan earl grey, passion fruit, lady grey, dll), dan Teh Herbal. Semuanya disajikan baik dalam ukuran cangkir ataupun teko.

Passion Fruit Tea dan Teh Aroma 63 Mint menjadi pilihan kami. Untuk yang mint rasanya dingin ketika masuk di tenggorokan walaupuun disajikan panas dan tidak terlalu pahit. Oya, untuk pemanisnya disini juga disuguhkan gula jawa lho. Jadi, lebih mantap rasa dan aroma tehnya. Sedangkan, Passion Fruit malah terasa sangat pahit di lidah saya, jadi mesti banyak-banyak makan gula jawa deh hehehe....


Untuk menu pembuka, saya dan teman-teman memilih beragam snack karena perut belum terlalu lapar. Holand Aardapel, kentang yang disiram dengan bumbu khas Belanda menjadi awalan cemilan kami. Saya terkejut dengan tampilan luarnya, kentang panggang di potong kubik kemudian disiram dengan bumbu kuning dan ditaburi parutan keju yang buanyaaak banget! Sayangnya, tampilan dalamnya tidak seenak luarnya, kentangnya mungkin well-baked hanya saja bumbu kentalnya itu rasanya kurang cocok dengan kentang yang plain. Bumbunya manis dengan after taste seperti kuah soto dan tercium aroma bawang yang sangat kuat. Ah perpaduannya yang kurang pas buat saya, bahkan kejunya pun malah membuat semuanya eneg.


Gebakken Cassave atau Ubi Goreng khas Donker ini mengembalikan selera saya, ubi manis yang sepintas mirip kroket ini dibalut dengan tepung yang crunchy dan dicocol dengan mayonnaise. Manis ubinya pas dan tidak membuat saya eneg walaupun dicocol di mayonnaise yang asam.


Begitupun dengan Zoete Aardappelen, ketela goreng potong kubik yang dilumuri madu dan wijen menjadi cemilan manis yang menggugah selera saya. Ketelanya empuk dan madunya juga nggak terlalu manis. Enak deh seperti kesukaan saya jaman kecil, makan gorengan dicocol dengan lelehan gula jawa hehehe...


Gegrilde Banana juga cemilan yang cukup asik dimakan di dinginnya udara pegunungan. Pisang goreng yang dipotong kipas ini disiram dengan lelehan cokelat dan taburan keju. Pisangnya tidak terlalu lembek dan terigunya juga tidak terlalu pekat. Everything just well for my belly.


Masuk ke main course, pilihan menyantap Soup Iga Donker yang masih hangat sangatlah tepat. Aroma gurih iga langsung menjilat indera penciuman saya bahkan saat mangkuknya agak jauh dari hadapan saya. Kuahnya super gurih dengan taburan bawang goreng dan potongan daun bawang serta seledri. Iganya juga lembut dan mudah dipotong. Segar sekali disantap di siang yang dingin ini.


Iga Bakar Donker tak kalah juaranya, disajikan dengan nasi putih yanng dibentuk hati, iga bakar ini dibakar dengan kematangan yang pas dan bumbu kacang dan kecapnya meresap sampai kedalamnya. Potongannya juga kecil-kecil sehingga mudah untuk memotong dagingnya kembali.Sambal merahnya juga tidak terlalu pedas, masih normal untuk lidah saya yang bukan pecinta pedas. 



Wah, rasanya perut saya puas banget bisa ngeteh cantik sambil menikmati lezatnya menu-menu Indonesia disini plus ngobrolin traveling dengan sesama backpacker. Coba suasana seperti ini bisa didapatkan tidak jauh dari Jakarta ya, pasti saya akan sering-sering kesini. Anyway eaters, buat kamu yang akan mampir ke daerah Kemuning, Solo, coba deh sempatkan mampir kesini. Harga makanan mereka juga masuk akal kok. Untuk appetizer mulai dari Rp5.000 - 12.500; main course Rp15.000 - 30.000; minuman Rp6.000 - 25.000.  Happy tea hunting, eaters!



Rumah Teh Ndoro Donker

Jl. Afdeling Kemuning No. 18
Karanganyar, Surakarta
Solo
www.ndorodonker.com

 
  • Eating Until Die © 2012 | Designed by Rumah Dijual, in collaboration with Web Hosting , Blogger Templates and WP Themes