Balikpapan Culinary Trip

Berkunjung ke suatu daerah belum lengkap rasanya bila tidak mencicipi kekayaan kulinernya. Awal bulan kemarin, saya sempat menjejakkan kaki sebentar di Balikpapan, Kalimantan Timur. Sebagai pecinta kuliner, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk hunting kuliner di kota yang juga disebut-sebut sebagai kota 1000 depot ini. Eits, jangan berpikiran depot disini itu semacam depot es, tapi depot disini tak lain adalah kedai makan yang menyajikan beragam makanan sehari-hari penduduk Balikpapan. Dan uniknya depot ini bukan kedai makan atau warung tenda pinggir jalan lho, tapi kedai makan seperti kafe kecil yang rata-rata berlokasi di ruko-ruko. Umumnya, depot di sini buka dari jam 6 pagi sampai jam 12 siang saja. Depot ini memang dikhususkan bagi orang-orang yang mencari sarapan pagi. Makanan yang dijual diantaranya nasi kuning, soto banjar, soto makassar, bubur ayam, roti bakar, dll.


Salah satu depot yang tersohor enaknya di Balikpapan adalah Depot Selamat, berlokasi di Jalan Ahmad Yani Blok C-06. Depot ini terletak di sebuah ruko pertokoan pinggir jalan. Saya datang kesini untuk sarapan pagi. Kata orang Balikpapan kalau mau makan di depot harus dari pagi kalau tidak akan cepat kehabisan. Benar saja, saya jam 9 sampai di sana pun depot itu sudah ramainya minta ampun! Depot yang di dominasi warna hijau limau pada interior luarnya ini penuh dengan orang-orang yang habis jalan dan olahraga pagi di hari minggu.


Soto Banjar (15K) menjadi pilihan saya pagi itu. Biasanya saya tidak makan makanan berat pagi-pagi. Hanya saja karena semalam saya tidak berhasil makan soto Banjar itu, Tante saya memaksa saya untuk tetap memakannya. Menurut adat orang Kalimantan, hal seperti itu namanya 'Kapuhunan'. Jadi kalau punya kepengenan sesuatu di Kalimantan harus segera dipenuhi, kalau nggak sampai di Jakarta bakal kebayang-bayang terus.Entah mengapa Soto Banjar asli disini malah kurang ramah dengan lidah saya. Kurang penyedap rasa. Kuahnya gurih tapi nanggung. Isinya sendiri terdiri dari bihun, lontong, potongan telur, keripik kentang, dll.


Coto Makassar (15K) juga menjadi pilihan saya. Kuahnya berwarna putih susu, katanya aslinya memang begitu. Tidak seperti coto makassar yang kebanyakan berkuah kuning di Jakarta. Rasanya cukup menyenangkan. Kuahnya gurih dan santannya cukup kental. Untuk masalah harga memang agak mahal dibandingkan di Jakarta sih. Memang katanya biaya hidup dan makan di Kalimantan itu mahal banget. Makanya nggak heran seporsi soto yang biasa didapat di warung pinggir jalan Jakarta seharga 7-10 ribu, disini harus bayar lebih mahal sekitar 15-20 ribu. Tapi setidaknya saya puaaass bisa nyobain makanan asli dari kotanya langsung hehehe....Sarapan pagi yang memuaskan!

Setelah sarapan pagi yang belum-belum sudah membuat perut saya penuh, jam makan siang kerabat saya lagi-lagi mengajak saya memenuhi perut dengan makanan khas Balikpapan lainnya yang nggak boleh dilewatkan, kepiting! Ada begitu banyak rumah makan yang menawarkan hidangan kepiting di Balikpapan, tapi hanya beberapa saja yang memang tersohor. Biasanya rumah makan tersebut terkenal karena pemilihan dan penyajian kepitingnya serta bumbu campurannya yang beda dari yang lain, dan RM. Torani-lah yang direkomendasikan kerabat saya kalau ingin mencoba bumbu kepiting lada hitam yang nendang rasanya!


RM Torani ini sudah berdiri sejak tahun 2006, berlokasi di daerah Stall Kuda, sebelah rumah tahanan Balikpapan. Rumah makan ini memilik area yang sangat luas menampung kurang lebih 300 orang. Dominasi warna biru dan kursi-kursi rotannya plus bau amis ikan segar dan asap dari bakaran ikan mengingatkan saya akan makan ikan lagsung di Pasar Ikan Muara Angke. Benar-benar tipikal resto seafood banget. Sayangnya, (sampe sedih banget nih) pas kesini stok kepitingnya sedang kosong. Kalaupun ada, dipastikan kepitingnya tidak memiliki banyak daging atau kosong. RM Torani menjaga kualitas mereka dengan tidak menyajikan kepiting kosong. Jadi, kalau mereka bilang kepiting sedang kosong, ya tidak akan disediakan. Alhasil, siang itu saya hanya mencicipi Kepiting Rajungan Lada Hitam (125K). Wah, luar biasa sekali bumbu lada hitamnya. Pedasnya bukan nyangkut di lidah lagi, tapi langsung ketenggorokan. Pedasnya pun nggak terlalu menyengat, namun sangat terasa lada hitamnya. Kepiting rajungannya sendiri bersih dan tidak amis, sangat mudah dikorek-korek dengan tang yang tersedia dan bumbu lada hitamnya sampai menyerap kedalam daging kepiting rajungannya. Seporsi kepiting rajungan ini pas buat 2-3 orang.


Selain Kepiting Rajungan Lada Hitam, saya juga mencicipi Bandeng Bakar tanpa Duri (22K). Bandeng yang di bakar dengan bumbu yang nggak terlalu pekat. Namun, dengan begitu rasa ikan bandengnya sangat terasa. Bumbu kunyit juga sedikit tercium, dengan campuran rasa manis, asin, dan gurih dari bumbu-bumbunya seperti jahe, serai, dan laos. Nggak amis dan tulangnya bener-bener dicabutin satu-satu dengan pinset, bukan dipresto, jadi nggak akan ada sama sekali tulang halus yang tersisa. 


Pepes Kepiting juga menggoda lidah saya siang itu. Pepes ini murni terbuat dari daging kepiting yang dicacah, dicampur dengan bumbu yang pekat dengan kunyit dan cabe merah sehingga rasa yang muncul dimulut saya pedas yang pekat dan kunyit yang menyengat. Agak sedikit tajam di lidah tapi tetep enak soalnya daging kepitingnya lembut banget dan nagih!


Selain makanan utama, saya juga mencicipi beberapa kue asli Balikpapan. Namanya kue Bingka. Kue ini bisa ditemui dimana saja di toko kue sepanjang Balikpapan. Namun yang paling tersohor nama tokonya Pujasera Bingka Stal kuda di daerah Stal Kuda, Jalan Sudirman menuju arah Bandara Sepinggan. Di puajsera ini menjual beragam makanan kecil seperti kue-kue jajan pasar dan kue-kue khas Balikpapan. Salah satu yang terkenal disini adalah kue Bingka. Kue ini sepintas mirip seperti kue lumpur hanya saja teksturnya lebih halus. Kue ini normalnya terbuat dari terigu, telur dan kentang. Ada juga yang diberi pewarna hijau pandan dan rasa pandan sehing terasa aroma dan rasa pandan yang menggugah selera. Beda bingka original dengan bingka pandan terletak pada teksturnya. Bingka Original lebih padat, sedangkan Bingka Pandan lebih lembut, cenderung seperti puding sampai-sampainya makannya harus memakai sendok. Bingka Pandan dimakan saat dingin lebih enak.




Nah, itu sekilas petualangan kuliner saya di Balikpapan. Wah, kayaknya memang kurang lengkap sih soalnya masih banyak yang belum dicoba. Penasaran sama bubur ayam Samarinda yang katanya kuahnya pakai kuah soto. Tapi ya harus spend money lebih banyak lagi buat kembali kesini sih. Eh tapi kalau menurut kepercayaan orang Balikpapan, kalau sudah pernah kesini pasti suatu saat akan kembali kesini lagi lho, entah bagaimana caranya. Amin deh, semoga suatu hari bisa balik kesini lagi hihihi. See you on the next trip, pals!


0 komentar:

Post a Comment

 
  • Eating Until Die © 2012 | Designed by Rumah Dijual, in collaboration with Web Hosting , Blogger Templates and WP Themes
    Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...