Nannini, A New House at Plaza Indonesia

3 komentar

Nannini, an upscale restaurant which has been established since 1995 under the famous name Nannini Grill, located at Plaza Senayan, rejuvenates itself into Nannini which have a newly modern, cozy, and warm house at Plaza Indonesia.

Been running as the longest restaurant ever established in Jakarta, Nannini still bring the concept of this resto not only as for a casual meeting place for dining but also for drinking and socializing. I experienced what they serves several weeks ago in a soft opening and bloggers gathering held by Goorme and Nannini.
For the upscale restaurant, located in Plaza Indonesia, I braved to say that Nannini put their interior style that suit with Plaza Indonesia ambience. A modern and stylish bar, with minimalist furniture, and simple decoration that very ideal for socializing. I love how they choose the lamp and the light surrounding the resto area.


That nite was opened by a glass of Beetle Juice (35K) which I didn't have an effort to finish since the fusion of kiwi, mango, marquisa, and orange was too sour for me. Followed by the introductory of Nannini's Executive Chef, Francis Lim and the cocktails demo from Fitrah Bya, Nannini's Operational Manager. He presented us a making of Smokey Rosemary cocktails. 


A minute later, the entree came to my table. It was Nannini Wild Mushroom Soup. A soft velvetly cream soup blended with a medley of Wild Mushrooms and drizzled with Truffle oil. Couldn't agree more that this entree satisfied my tummy. The hint of wild mushrooms consist of one of them Shitake and Champignon fused perfectly with the savory and creamy soup that left a lil bit sweet taste in my tongue.


Unfortunately, Nannini seemed to fail to satisfy my dinner's appetite since we had to wait for about one hour to the main course to be served. The three main course finally arrived at my table that consists of three in one long plate. 

Nannini Salmon. Grilled fresh norwegian salmon served with mesclun salad tossed in balsamic dressing and drizzled with special home made sauce. As the first main course, the salmon for me wasn't like a grill meat. Because the color of the meat was still dark orange not soft orange as a typical salmon grilled. And the taste was average for me. Not too savory and salty, but still good to enjoy.


Nannini StriploinGrilled striploin served with mashed potato and creamy champignon sauce. I've never knew before what is the difference between tenderloin and striploin until Francis Lim explained to me that striploin is a part behind the short loin of the cow (above the tenderloin). However, still, since I'm not a steak expert, I couldn't distinguish both of them hahaha....The striploin grilled in a medium-rare resulted a tender meat that perfect enough to my tongue that never try such kind of meat before.


Nannini Cordon Blue. Tender chicken breast stuffed with smoked beef and cheddar cheese, served with potato fries and red wine gravy. Unfortunately, all the dishes was served not in a fresh-from-the-oven condition. I even tasted that the Cordon Blue's skin wasn't crunchy anymore and but still salty. The cheese inside, which normally served in a melting condition, also looked freeze.


In the middle of waiting for the dessert, Nannini's offered us with two variant of their best cocktails Pinneaple & Cinnamon Roshka (a mix of vodka, pine, lime, mix sugar & cinnamon - 85K) & Sangria (a mix of brandy, mix fruits, and wine - 125K). The two of cocktails refreshing enough for my throat.


Finally, the nite was closed with the Nannini's desserts that they claim as the best Tiramisu in town.

Nannini Tiramisu. Mascarpone mousse covered sponge cake drenched in Kahlua and Bailey. All the ingredients fused perfectly resulted a velvetly and fresh Tiramisu. The alcohols wasn't too strong and it's perfect for me.


FYI, Nannini not only serves international food, they also approach the customer by serving local delicacies such as Tekwan Soup and Spicy aromatic Soto. Try also their casual cocktails and signature tangs that you can't find in other places. The price range for entree is 45 - 70 K. The main course is 65 - 295K. The dessert is 35 - 65K. The beverages 65 - 125K.

Finally, I closed my nite with an applause for their entree and dessert. Surely I lil bit dissapointed with their unprepared condition of the main course. Maybe Nannini should consider to make a good preparation before making an event like this in the future. Thanks Nannini and Goorme for inviting me to this event.

Nannini
Plaza Indonesia 2nd Floor
Unit L2. No. T 111. A-D
P. (021) 29923650
F. (021) 29923651

Umaku's Food Tasting

0 komentar

Awalnya saya bahkan nggak tahu sama sekali ada resto sushi yang sudah dua tahun happening di Jakarta ini sampai salah satu teman food blogger icip-icip disana dan bilang mereka punya sushi nggak kalah saing dibanding resto sushi ternama yang ada di mal itu. Sampai akhirnya ada undangan dari si resto yang berarti 'rumahku' dalam bahasa Jepang ini mampir ke saya. Umaku, a simply japanese name punya beberapa cabang di Jakarta, Cibubur, Duren Tiga, Tebet, dan Alam Sutera. Lokasi food tasting yang saya dan teman-teman food bloggers kunjungi malam itu adalah di Alam Sutera. Restonya menempati ruko dua lantai yang tidak terlalu spacious namun cukup nyaman dan saya suka sekali dengan hiasan lampion-lampion di langit-langit mereka, suasananya jadi hangat dan homey banget.

Keramahan pun langsung ditunjukkan oleh baik si pelayan dan penyelenggara acara food tatsing malam itu. Singkat cerita acara dibuka dengan main tebak kartu yang menguji pengetahuan kita tentang kuliner  asli Jepang. Dan makanan disajikan berdasarkan gambar yang ada di kartu yang kita pilih (tapi ujung-ujungnya sih dimakan bersama juga hehehe). Nah ini dia makanan-makanan guilty pleasure saya dan teman-teman malam itu:

Sake Yakimesi (33K)


Sake Yakimesi a.k.a Nasi Goreng Salmon buat saya jadi pembuka yang cukup pantas berhubung perut saya sudah sangat butuh asupan malam itu hehe. Yakimesi menurut #sushicue yang saya dapat malam itu aslinya dari Okinawa, Jepang dan katanya berasnya beda dengan beras Indonesia, lebih lembut dan bulirnya lebih besar. Kalau dilihat sih memang bulirnya agak besar dan lembut pas dimakan, hanya saja saya malah berpikir ini seperti beras Indonesia yang kelewat pulen. Enaknya Yakimesi memang tidak berminyak nasi gorengnya dan ada potongan salmon juga nori yang membuat porsi nasi goreng ini terlihat sehat sekali. Sayangnya, kok saya masih menemukan ada tulang salmon tercecer di nasinya ya....


Karai Ramen (35K)


Ramen Jepang dengan saus yang spicy dan sangat pekat. I didn't give it too much try due to the spicy soup.


Sashimi Moriawase (29-59K)


Sepiring Sashimi Moriawase terdiri dari aneka raw fish yang super fresh diantaranya, potongan sake (salmon), maguro (tuna), tako (gurita), saba (ikan mackerel), tai (kakap)dan ika (cumi). Saya hanya mencicipi salmonnya saja, dan Umaku berhasil memberikan a super fresh and not fishy salmon, sampai-sampai saya nggak perlu melengkapinya dengan kecap asin atau wasabi.

Tempura Moriawase (35K)



Seporsi Tempura Moriawasa terdiri dari udang, ikan, cumi, wortel, bawang bombai dan daun yang saya lupa namanya, semuanya digoreng a la tempura dengan kulit yang super crunchy. Suka banget sama udang dan cuminya. Umaku always serve its seafood fresh though its covered by a fried skin as well!

Wakame Salad (26K)


Saya pecinta salad sayuran, namun mencoba Wakame Salad yang terdiri dari parutan seaweed (rumput laut), wortel, dll ini rasanya asing di lidah saya. 

Fusion Roll


ki-ka: Volcano Roll (36K), Spider Roll (37K), Salmon Grilled Cheese (27K). Volcano roll-nya juara banget, creamy mayonnaise on the top-nya di baked terlebih dahulu. jadi seperti makan keju meleleh di atasnya. Untuk Spider Roll, Umaku nggak nanggung-nanggung bisa ngasih unagi segede gitu. Dua sushi berikutnya sayang banget nggak sempet nyobain, cuma bisa di foto aja. 

Robatayaki


ki-ka: Saba Yaki, Wagyu Robatayaki, Kawa Yaki. Robatayaki adalah sate khas Jepang dan biasanya isinya segala macam daging atau seafood atau jeroan. Kebiasaan makan robatayaki memang diawalai karena orang Jepang memang suka jeroan #sushiecue. Penyajian daging, cumi, usus, dan wagyu beef di Umaku ini cukup baik. Seafoodnya segar dan dipanggang cukup pas jadi nggak tercium amisnya dan dagingnya empuk .

Sake Kabutoyaki (26K)


Seumur-umur saya nyobain kepala ikan kakap aja belum pernah, tau-tau disini disuruh mencicipi kepala ikan salmon. Agak terkejut aja kepala salmon ada di Umaku, kayaknya di resto Jepang lain jarang ada deh. Anyway, I love the way Umaku grilled the salmon head. Nggak amis, dagingnya kenyal dan empuk bannget, sausnya juga gurih dan manis.

Most of all, I really enjoy the dinner that nite. Apalagi melihat their affordable price jadi bikin saya kepingin balik lagi buat nyobain sushi-sushinya. FYI, aja harga sushi mereka range-nya mulai dari Rp11.000 - 37.000 saja. Untuk menu sashimi, noodle, hot side, dessert, starting from Rp19.000 - 59.000. A very affordable Japanese resto! Arigato Gozaimasu Mbak Indra, Mas Herry, dan Umaku for the invitation.





Umaku Alam Sutera
Ruko ASTC (Alam Sutera Town Center) Blok 10E No. 9
(Ruko seberang Flavor Bliss)
Alam Sutera, Tangerang
 021) 943811633
@umaku_alsut


BonChon Chicken

2 komentar

Booming crunchy chicken dan chicken strips sepertinya memang masih melanda ranah kuliner metropolitan. Setelah sebuah resto Jepang di GI dan western resto di Epiwalk menggebrak dengan crispy crunchy chicken and chicken strips mereka, kini datang lagi gerai serupa dari Pusan, Korea, bernama BonChon Chicken.

Gerai yang berdiri pada tahun 2002 justru gak terkenal di Korea, mereka malah terkenal di Amerika, bahkan sampai diklaim sebagai the best chicken in America oleh NY Times, GQ, dan Esquire. BonChon mengakui kalau mereka tidak menggunakan frozen chicken. Ayamnya sendiri ditimbang dulu sebelum dimasak, kalau overweight, they'll reject them. Mereka sangat menghindari ayam berlemak. Sausnya juga unik, cenderung sweet and tangy, katanya sih datang bukan dari artificial flavors tapi asli dari ekstrak buah. Yang lebih unik lagi mereka menyajikan makanannya saat kita pesan. "When you order, we start cooking" istilahnya.


Cukup menarik mengetahui keunikan mereka ditambah dua outlet baru di GI dan Citywalk Sudirman udah buka. Beberapa waktu lalu saya sempat mampir dan mencicipi beberapa menu baru mereka. Hmmm...lidah saya memang belum hapal seperti apa chicken strips yang enak itu, jadi ketika mencicipi chicken strips BonChon Bites (regular 10 strips, 13K; large 20 strips, 24K) saya teringat rasa strips disalah satu western resto yang pernah saya coba. Kulitnya sangat crunchy namun masih sedikit basah ketika digigit. Sausnya sangat melekat seperti madu yang meleleh di kulitnya. Rasanya ada dua original dan hot. Rasa manis dan asamnya fruit extract cukup pekat di tipe original, sedangkan yang hot pedasnya cukup menggigit lidah saya.





Untuk BonChon Chicken (25-58K)-nya sendiri nggak jauh beda dengan chicken strips-nya, tersedia dalam dua pilihan hot dan original. Kulitnya sama dengan strips-nya, daging ayamnya sangat bersih bahkan tidak terlihat ada lemak atau minyak sisa masak sekalipun. Empuk dan ada sedikit rasa manis dari fruit extract-nya.


Selain chicken, BonChon juga punya BonChon Wrap (20K), varian chicken yang dibalut dengan kulit lumpia yang agak tebal. Tersedia dalam dua pilihan Chicken Wrap dan Chicken Bulgogi. Chicken Wrap berisi potongan ayam gurih, selada, bawang bombay, dan tomat. Buat saya si original ini terlalu plain. Ayamnya nggak ada rasanya. Kulitnya juga hambar. Sedangkan si Bulgogi lumayan menggoyang lidah dengan pedasnya.



Untuk dessertnya, BonChon punya BonChon Mochi yang imut-imut asik hehe. Ukurannya ada yang small (3pcs - 14K), medium (6pcs -26K), dan large (9pcs - 40K). Bentuknya seperti kerang dan didalamnya ada es krimnya, juga terdiri dari 3 varian rasa vanila, cokelat dan strawberry. Uniknya si mochi ini dibuat dengan teknik khusus sehingga es krimnya nggak mudah meleleh, padahal es krim yang dipakai bukan gelato lho! I love the mochi skin. Very soft, thin, namun pas dimakan jadi kenyal apalagi pas digigit es krimnya meleleh di mulut saya. Wuih surga banget!



Selain menu di atas, BonChon juga menyediakan menu lain diantaranya BonChon Fish, BonChon Salad, BonChon Soup dan Sides dishes lainnya. Harga makanannya juga masuk akal. Untuk entreenya mulai dari Rp13.000-2000, main dish Rp25.000-90.000, dessert dan drink mulai dari Rp14.000.


Suasana gerainya baik yang di GI atau Citywalk pun cukup nyaman. Dengan furnitur dari plastik berwarna putih dan dekorasi dinding merah serta pencahayaan yang cukup terang, BonChon cukup nyaman untuk dijadikan pilihan lokasi makan siang.  Pelayanannya juga cukup ramah dan cekatan walau normalnya kita harus nunggu 20 menit untuk ayamnya tersaji di meja kita. But it's worth to wait.

Thanks for inviting me @Bonchon_ID. Semoga gerai-gerai barunya makin meramaikan ranah kuliner Jakarta.

Grand Indonesia Shopping Town

Jl. M.H. Thamrin No.1
Jakarta
www.bonchonindonesia.com

Citywalk Sudirman

Ground Floor
JL.KH Mas Mansyur, Jakarta
Tel : 021 542 20116

Living World

Alam Sutra Boulevard Kav. 21
Alam Sutera, Serpong
Tel: 021 292 39545

Supermal Karawaci

Lippo Kawaraci Coco Walk
WTS-10, Tangerang
Tel: 021 542 20116

Balikpapan Culinary Trip

3 komentar

Berkunjung ke suatu daerah belum lengkap rasanya bila tidak mencicipi kekayaan kulinernya. Awal bulan kemarin, saya sempat menjejakkan kaki sebentar di Balikpapan, Kalimantan Timur. Sebagai pecinta kuliner, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk hunting kuliner di kota yang juga disebut-sebut sebagai kota 1000 depot ini. Eits, jangan berpikiran depot disini itu semacam depot es, tapi depot disini tak lain adalah kedai makan yang menyajikan beragam makanan sehari-hari penduduk Balikpapan. Dan uniknya depot ini bukan kedai makan atau warung tenda pinggir jalan lho, tapi kedai makan seperti kafe kecil yang rata-rata berlokasi di ruko-ruko. Umumnya, depot di sini buka dari jam 6 pagi sampai jam 12 siang saja. Depot ini memang dikhususkan bagi orang-orang yang mencari sarapan pagi. Makanan yang dijual diantaranya nasi kuning, soto banjar, soto makassar, bubur ayam, roti bakar, dll.


Salah satu depot yang tersohor enaknya di Balikpapan adalah Depot Selamat, berlokasi di Jalan Ahmad Yani Blok C-06. Depot ini terletak di sebuah ruko pertokoan pinggir jalan. Saya datang kesini untuk sarapan pagi. Kata orang Balikpapan kalau mau makan di depot harus dari pagi kalau tidak akan cepat kehabisan. Benar saja, saya jam 9 sampai di sana pun depot itu sudah ramainya minta ampun! Depot yang di dominasi warna hijau limau pada interior luarnya ini penuh dengan orang-orang yang habis jalan dan olahraga pagi di hari minggu.


Soto Banjar (15K) menjadi pilihan saya pagi itu. Biasanya saya tidak makan makanan berat pagi-pagi. Hanya saja karena semalam saya tidak berhasil makan soto Banjar itu, Tante saya memaksa saya untuk tetap memakannya. Menurut adat orang Kalimantan, hal seperti itu namanya 'Kapuhunan'. Jadi kalau punya kepengenan sesuatu di Kalimantan harus segera dipenuhi, kalau nggak sampai di Jakarta bakal kebayang-bayang terus.Entah mengapa Soto Banjar asli disini malah kurang ramah dengan lidah saya. Kurang penyedap rasa. Kuahnya gurih tapi nanggung. Isinya sendiri terdiri dari bihun, lontong, potongan telur, keripik kentang, dll.


Coto Makassar (15K) juga menjadi pilihan saya. Kuahnya berwarna putih susu, katanya aslinya memang begitu. Tidak seperti coto makassar yang kebanyakan berkuah kuning di Jakarta. Rasanya cukup menyenangkan. Kuahnya gurih dan santannya cukup kental. Untuk masalah harga memang agak mahal dibandingkan di Jakarta sih. Memang katanya biaya hidup dan makan di Kalimantan itu mahal banget. Makanya nggak heran seporsi soto yang biasa didapat di warung pinggir jalan Jakarta seharga 7-10 ribu, disini harus bayar lebih mahal sekitar 15-20 ribu. Tapi setidaknya saya puaaass bisa nyobain makanan asli dari kotanya langsung hehehe....Sarapan pagi yang memuaskan!

Setelah sarapan pagi yang belum-belum sudah membuat perut saya penuh, jam makan siang kerabat saya lagi-lagi mengajak saya memenuhi perut dengan makanan khas Balikpapan lainnya yang nggak boleh dilewatkan, kepiting! Ada begitu banyak rumah makan yang menawarkan hidangan kepiting di Balikpapan, tapi hanya beberapa saja yang memang tersohor. Biasanya rumah makan tersebut terkenal karena pemilihan dan penyajian kepitingnya serta bumbu campurannya yang beda dari yang lain, dan RM. Torani-lah yang direkomendasikan kerabat saya kalau ingin mencoba bumbu kepiting lada hitam yang nendang rasanya!


RM Torani ini sudah berdiri sejak tahun 2006, berlokasi di daerah Stall Kuda, sebelah rumah tahanan Balikpapan. Rumah makan ini memilik area yang sangat luas menampung kurang lebih 300 orang. Dominasi warna biru dan kursi-kursi rotannya plus bau amis ikan segar dan asap dari bakaran ikan mengingatkan saya akan makan ikan lagsung di Pasar Ikan Muara Angke. Benar-benar tipikal resto seafood banget. Sayangnya, (sampe sedih banget nih) pas kesini stok kepitingnya sedang kosong. Kalaupun ada, dipastikan kepitingnya tidak memiliki banyak daging atau kosong. RM Torani menjaga kualitas mereka dengan tidak menyajikan kepiting kosong. Jadi, kalau mereka bilang kepiting sedang kosong, ya tidak akan disediakan. Alhasil, siang itu saya hanya mencicipi Kepiting Rajungan Lada Hitam (125K). Wah, luar biasa sekali bumbu lada hitamnya. Pedasnya bukan nyangkut di lidah lagi, tapi langsung ketenggorokan. Pedasnya pun nggak terlalu menyengat, namun sangat terasa lada hitamnya. Kepiting rajungannya sendiri bersih dan tidak amis, sangat mudah dikorek-korek dengan tang yang tersedia dan bumbu lada hitamnya sampai menyerap kedalam daging kepiting rajungannya. Seporsi kepiting rajungan ini pas buat 2-3 orang.


Selain Kepiting Rajungan Lada Hitam, saya juga mencicipi Bandeng Bakar tanpa Duri (22K). Bandeng yang di bakar dengan bumbu yang nggak terlalu pekat. Namun, dengan begitu rasa ikan bandengnya sangat terasa. Bumbu kunyit juga sedikit tercium, dengan campuran rasa manis, asin, dan gurih dari bumbu-bumbunya seperti jahe, serai, dan laos. Nggak amis dan tulangnya bener-bener dicabutin satu-satu dengan pinset, bukan dipresto, jadi nggak akan ada sama sekali tulang halus yang tersisa. 


Pepes Kepiting juga menggoda lidah saya siang itu. Pepes ini murni terbuat dari daging kepiting yang dicacah, dicampur dengan bumbu yang pekat dengan kunyit dan cabe merah sehingga rasa yang muncul dimulut saya pedas yang pekat dan kunyit yang menyengat. Agak sedikit tajam di lidah tapi tetep enak soalnya daging kepitingnya lembut banget dan nagih!


Selain makanan utama, saya juga mencicipi beberapa kue asli Balikpapan. Namanya kue Bingka. Kue ini bisa ditemui dimana saja di toko kue sepanjang Balikpapan. Namun yang paling tersohor nama tokonya Pujasera Bingka Stal kuda di daerah Stal Kuda, Jalan Sudirman menuju arah Bandara Sepinggan. Di puajsera ini menjual beragam makanan kecil seperti kue-kue jajan pasar dan kue-kue khas Balikpapan. Salah satu yang terkenal disini adalah kue Bingka. Kue ini sepintas mirip seperti kue lumpur hanya saja teksturnya lebih halus. Kue ini normalnya terbuat dari terigu, telur dan kentang. Ada juga yang diberi pewarna hijau pandan dan rasa pandan sehing terasa aroma dan rasa pandan yang menggugah selera. Beda bingka original dengan bingka pandan terletak pada teksturnya. Bingka Original lebih padat, sedangkan Bingka Pandan lebih lembut, cenderung seperti puding sampai-sampainya makannya harus memakai sendok. Bingka Pandan dimakan saat dingin lebih enak.




Nah, itu sekilas petualangan kuliner saya di Balikpapan. Wah, kayaknya memang kurang lengkap sih soalnya masih banyak yang belum dicoba. Penasaran sama bubur ayam Samarinda yang katanya kuahnya pakai kuah soto. Tapi ya harus spend money lebih banyak lagi buat kembali kesini sih. Eh tapi kalau menurut kepercayaan orang Balikpapan, kalau sudah pernah kesini pasti suatu saat akan kembali kesini lagi lho, entah bagaimana caranya. Amin deh, semoga suatu hari bisa balik kesini lagi hihihi. See you on the next trip, pals!


 
  • Eating Until Die © 2012 | Designed by Rumah Dijual, in collaboration with Web Hosting , Blogger Templates and WP Themes