Tsurukamedou : When Honest Words Turn Into Flavours

0 komentar

Ramen masih terus datang silih berganti, seperti my latest post, kali ini saya memuaskan rasa penasaran saya akan gerai ramen terbaru dibilangan Taman Ratu, Green Ville, Jakarta Barat. Ramen ini sedang menjadi pembicaraan hangat dikalangan foodies, tidak hanya rasanya yang otentik, namun keramahan dan how low profile the owner-nya pun membuat semua orang ingin kembali kesini. Sambil ditemani hujan deras kala itu, kaki saya melangkah masuk ke sebuah gerai yang dari depannya tidak akan tampak jika kita tidak jeli. Lokasi gerainya ini memang terapit dua ruko yang juga sama-sama kecil disepanjang jalan Taman Ratu. Namun, jika kita jeli, carilah ruko dengan plang bertuliskan huruf Jepang dan kata-kata Tsurukamedou. Disitulah sebuah resto ramen yang baru lahir beberapa bulan dan sudah dibicarakan banyak orang itu.

Saya dan teman-teman langsung disambut hangat oleh sang pemilik yang sangat-sangat low profile dan ramah. Awalnya saya malah tidak tahu kalau ownernya ada diantara kami, karena dia ikut berdiri di depan pintu sambil membantu beres-beres meja juga. Tidak lama kemudian beliau baru menyapa saya dan teman-teman kemudian menceritakan sekilas tentang resto asal Nagoya yang sudah memiliki 8 cabang ini. Kata Tsurukamedou sendiri berasal dari dua pendekar Tsuru dan Kame, Tsuru merupakan pendekar Bangau sedangkan Kame merupakan pendekar kura-kura. Keduanya terinspirasi dari serial Dragon Ball. Resto ini terkenal dengan Hakata Style Super Tonkotsu Ramen-nya yang tidak menyajikan banyak menu hanya pure ramen tradisional dengan beberapa side dish dan aneka topping tambahan. Hal ini dilakukan untuk menjaga citarasa ramennya sampai-sampai kuah ramennya pun harus digodok selama dua hari.

Saya setuju sekali dengan kejujuran si pemilik Tsurukamedou apalagi saya bukan seorang ramen judge hanya seorang penikmat, maka saya menikmati malam itu tanpa harapan apa-apa, karena saya tahu dari sebuah keramahan dan kejujuran, saya pasti yakin ramen disini pun akan berbicara jujur.

Malam itu dibuka dengan segelas ocha hangat yang menghangatkan tubuh saya, disusul dengan sepiring Ebi Gyoza (32K). Cemilan khas gerai ramen ini disajikan enam pieces tiap piringnya. Kita bisa memilih filingnya dan teknik memasaknya, ada yang buta (babi), tori (ayam), dan ebi (udang ebi) baik di fried atau grilled. Ebi Gyoza disini memiliki kulit gyoza yang sangat lunak dan lembut sampai-sampai harus hati-hati memegangnya. Aroma jahe sudah tercium sebelum saya menggigitnya dan semakin kuat saat saya membuka dan mengigit bagian dalamnya. Potongan ayam cincang yang gurih berpadu pas dengan aroma jahenya. I simply love this dish!


Tori Kaarage (32K)

Tori Kaarage juga mencuri perhatian saya, daging paha ayam yang dipotong kecil-kecil dan digoreng dengan tepung hingga garing ini benar-benar cemilan yang menyenangkan. Daging paha ayamnya cukup tebal dan saya tidak menemukan sagu yang saya temukan apda Tori Kaarage di ramen resto sebelumnya. Biasanya sagu didalam kaarage dibuat untuk ‘menggemukkan’ tampilan si kaarage, tapi Tsurukamedou tak perlu tambahan sagu, dagingnya yang tebal dan tepung yang crunchy sudah membuat kaarage ini jadi juara. Tori Kaarage ini disajikan dengan coleslaw dengan dressing asin khas Hakata style. Refreshing!


Tori Katsu (32K)

Chicken Katsu disini juga tidak tebal karena tepung, tapi ayamnya. Dagingnya memang tebal dan empuk dibalut tepung yang digoreng sangat crunchy dan nggak berminyak. Wah, rasa-rasanya saya sanggup menghabiskan cemilan ini sendirian nih!


Tori Ramen (45K)

Berhubung saya tidak mengkonsumsi daging babi, akhirnya saya pilih Tori Ramen. Ramen berkuah ayam ini disajikan dengan potongan ayam, telur setengah matang, nori, jamur dan daun bawang cincang. Saya suka bagaimana mereka memadukan mie ramen yang tipis dengan kuah tidak terllau pkeat namun sangat gurih dan kaya akan kaldu ayam. Saya bahkan sampai menyeruput berkali-kali kuahnya tanpa mie ramennya hahaha! Dibanding kuah ramen otentik Jepang yang saya coba sebelumnya, kuah Tsurukamedou asinnya masih netral dan nggak butuh tambahan kaldu lagi dan yang pasti nggak bikin tenggorokan saya kering dan haus karena ada beberapa kuah ramen yang kandungan MSG-nya tinggi sampai-sampai asinnya bikin haus. Potongan daging ayamnya juga tebal dan lembut. It’s just perfect for non spicy lover!


Spicy Tori Ramen (45K)

Ramen versi pedas ini hampir mirip dengan ramen yang tidak pedas. Hanya saja toppingnya berbeda. Spicy Tori Ramen ini hanya bertopping potongan daging ayam, tauge, dan daun bawang cincang. Kuahnya cukup pekat dan pedasnya menusuk lidah. Wah, ini bukan tipe saya, nggak kuat nyeruput kuahnya hehehe….


Ebi Chahan

Nasi goreng Jepang ini disajikan dengan empat pilihan topping ebi, tori, shinsen dan buta. Saya mencicipi yang Ebi Chahan. Saya suka sekali dengan cara mereka memasak nasi goreng ini hingga tidak berminyak, lembut namun tidak lembek. Nasinya pulen dengan aroma ebi dan rasa ebi yang cukup kuat bercampur rasa gurih dari bumbu rahasia Jepang yang langsung memenuhi mulut saya. Nasi goreng ini juga dicampur dengan telur orak-arik dan potongan daun bawang. Simple yet tasty!


Mango Jelly

Setelah puas nyobain ramen, kami diberikan complimentary Mango Jelly yang kenyal dan rasanya segar. Aroma manga dan rasa mangganya begitu terasa di jellynya. Perfect closing for tonight!


Menikmati ramen disini juga tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Harga semangkuk ramen disini berkisar antara Rp45.000 – 59.000. Untuk aneka snacks seperti gyoza, tori kaarage dan chicken katsu dapat dinikmati dengan harga hampir sama Rp32.000.

Saya merasa seperti punya keluarga disini. Makan bersama teman-teman didampingi dengan owner yang begitu kekeluargaan, dan makanan yang benar-benar jujur apa adanya dan berhasil membuat saya terpesona. Mungkin beginilah seharusnya sebuah authentic restaurant, bukan hanya masakannya yang diutamakan tapi juga bagaimana membuat pengunjung merasa benar-benar ‘dirumah’.  Thanks so much Mas Rudi Halim for treating us like your best friend and family. I believe that Tsurukamedou need neither a fancy place nor a happening area, the honest taste of Tsurukamedou will bring you a loyal customer in the future.

Cheers,

Icha Khairisa, still craving for Tsurukamedou ramen





Tsurukamedou 

Jl. Ratu Kemuning Raya Blok. A2 No. 8A
Taman Ratu, Greenville
Jakarta Barat
(021) 56940711 / 12
@TsurukamedouJak

White European Asparagus Affair at Scusa

0 komentar

April is one of the beautiful yet rainy season where some of flowers and vegetables grows seasonally. Asparagus is one of the most-waiting vegetables in this month and that’s why when it comes to April several restaurants are racing to serve delicious dishes with the beautiful asparagus. Scusa, an Italian dining located in InterContinental Jakarta MidPlaza is one of the racers who take part in this racing, with the event called White European Asparagus Affair, they offer white asparagus rather than the green one since it grows seasonally from late April to June. White asparagus is different than the green asparagus because of the planting process where the white colour from the white asparagus comes because the plant did not get any enough sun light, therefore the photosynthetic process is not occurred.

The white asparagus referred to as the royal vegetable which is less bitter and much more tender. It must be peeled before cooking or raw consumption. Besides, this premium vegetable is very healthy with 95% consists of water and has no cholesterols, high levels of antioxidants, a good source of vitamin C and dietary fibre which is good for disease prevention and balance our diet. In this event, Scusa not only bring this European delicacy to their kitchen, but also convince their customers that white asparagus can turn into a beautiful yet scrumptious food which can give customers a good once-in-a-year dining experience.

It was me and several food bloggers who was invited to feel this once-in-a-year dining experience. In a super cosy, warm, and high class interior, we were sit and enjoyed 5 courses of menu while chit chatting about how wicked Jakarta’s traffic that day.

The night was opened by Fantasia Mocktail (55K). It was a super refreshing mocktail which became the most favourite drink here. It was a fusion of Orange, Lychee, Mango and Grenadine syrup which offered me a colourful taste from the sour bitterness of orange to the sweetness of mango infused grenadine. Perfect opening!


Walnut Bread with Feta Cheese became a complimentary food tonight. It will and always served for everyone who dining here. This bread filled with a Feta cheese comes from Greece and served with olive oil as a dipping. The taste was a lilttle bit sour but it gave me a super good cheese sensation. The bread was chewy as well. Great for waiting the main course.


Then, Chef Wawan Barito as the Chef De Cuisine of Scusa, served us the White Asparagus in a fried egg with Parmesan, black truffle, and rosemary butter sauce. This is the first time I meet white asparagus, I thought they are twins but actually they’re not. White asparagus much crunchier and sweeter than the green one, moreover, the white asparagus here is imported freshly from Peru. The half fried egg was just okay and the rest ingredients completing this dish.


Next, White Asparagus Soup came on my table. It served in a plate not in a bowl but the portion still enough to one person. This pale yellow soup is simply like a cream soup but the texture was rougher since it made from puree asparagus. The taste is a little bit sour and savoury, the pesto sauce on the top of soup enhanced the flavour. The surprising part was the cheese ball also in the top of the soup. It made from parmigiano reggiano cheese which has strong flavour but savoury as well. I simply love this soup.


Grilled White Asparagus and Beef Tenderloin with gorgonzola, creamed potatoes and béarnaise sauce. I chose medium rare for the beef and it gave me a super juicy and tender meat. The melted cheese and béarnaise sauce were also added the flavour of this beef. Otherwise, I prefer the grilled asparagus, it was crunchy and less water. The creamed potato was also good, it simply looks like a mashed potato but the texture was more solid.


We also got side dishes, the White Asparagus Risotto with parmesan and truffle served with fried asparagus. The asparagus here was well-fried like a crunchy snack; however, the texture inside was still moist and succulent.  Meanwhile, the risotto’s texture which infused with parmesan and truffle was soft like porridge. The cheese flavour was so strong but melted on my mouth.


The best closing for tonight dining, of course, the Warm Melted Cake. This beautiful cake was served with rum raisin ice cream. It was a Chef Wawan masterpiece for me. The cake was moist outside but when you cut it you will find a treasure inside, a melted, flavorous and yummy dark chocolate. Sluuurrpp! The chocolate, however, not so dark, it gave me a sweet after taste as well and it just melted in my mouth. Oh God, who doesn’t love chocolate! The other garnishes, the stick biscuit and the rum raisin ice cream was also completing this dessert. A super winning dessert!


Well, this once-in-a-year dining experience can be enjoying from 15 April to June 2013 at Scusa and Bacchus (in Bacchus you can also made your own asparagus dishes). With only Rp105.000++ to Rp445.000++ per portion, trust me you can get a great once-in-a-year dining experience which, yeah might be, enrich your personal knowledge and taste about white asparagus. Thanks a bunch for Miss Catrina Sansan and Ayleen from InterConJakarta for inviting me. Wish we meet again in the other great events.


Icha Khairisa, Still craving for white asparagus


Scusa at InterContinental Jakarta MidPlaza
Jl. Jend. Sudirman Kav. 10-11
Jakarta 10220
Tel. 021-2510888
Fax.021-2511777
@InterConJakarta

Another Try: Tokyo Tabushi Ramen

0 komentar

Ramen seolah menjadi makanan uji coba di Negara ini. Mereka datang bergelombang seperti dikutip dari pernyataan my food blogger friend @wanderbites di salah satu post-nya “they come in waves. First, it was the little known pioneers. Then came the game-changer. Then came the followers to piggyback on the success. Then came the late bloomer.” 

Ya, that’s also popped out in my mind, ramen datang silih berganti mulai dari yang mengaku No.1 hingga yang mengakui kalau bahan-bahannya tidak dimiliki oleh gerai ramen lainnya. Bagi pecintanya, si masakan Jepang ini selalu dinanti-nanti baik yang menyukai tekstur mie tipis atau tebal, kuah kental atau encer. Salah satu gerai ramen Jepang yang kali ini mencoba membuat perubahan di pasar ramen Jakarta adalah Tokyo Ramen Tabushi. Gerai ramen ini sebelumnya sangat terkenal di daerah Tabushi, Jepang. Dengan 8 cabangnya mereka menjadi No. 1 dan satu-satunya gerai ramen yang menggunakan ikan Bonito baik dalam kuah ramennya atau dalam adonan handmade noodle mereka


Restorannya yang di Kelapa Gading merupakan satu-satunya gerai di Jakarta. Konsepnya pun simpel, sama dengan nuansa resto aslinya di Jepang. Saat memasuki resto ini, beberapa pelayan langsung menyambut saya dengan teriakan selamat datang a la Jepang. Dengan senyum manisnya mereka langsung mempersilahkan saya naik ke lantai dua karena di bawah kebetulan penuh. Bahkan mereka sedikit berpromosi dengan menjelaskan kalau kita LIKE Facebook mereka, kita bisa mendapatkan free Chicken Kaarage. Satu hal yang membuat saya heran itu, pengunjung disini mayoritas orang Jepang lho. Usut punya usut ternyata pangsa pasar mereka memang orang Jepang yang tinggal di Indonesia. Kebanyakan dari orang-orang Jepang tersebut mengetahui kalau Tokyo Ramen Tabushi ini memiliki citarasa ramen Jepang asli dibandingkan kebanyakan resto ramen yang sudah ada. Kebetulan hari ini saya memiliki kesempatan untuk berbincang dengan chef de executive Tokyo Tabushi Ramen, Chef Fukuda, pria berkebangsaan Jepang yang tidak ernal melepas handuk ikat hitam dikepalanya. Dengan ramah dan senyum malu-malunya ia bercerita kalau ia baru 7 bulan tinggal di Indonesia dan ingin memanjakan lidah orang Jepang yang kangen masakan Tabushi serta memperkenalkan masakan ramen khas Tabushi pada penikmat makanan Indonesia.


Tokyo Ramen Tabushi tidak hanya berbeda dalam penggunaan ikan bonito, mereka juga membedakan dirinya dengan menawarkan menu ramen kering (penyajiannya seperti mie yamin Indonesia) atau disebut Aburasoba serta ramen kering celup (dipisah dengan kuah dan cara makannya dicelup ke kuah) disebut Tsukemen. Selain itu, ada beragam jenis ramen yang bisa menjadi pilihan seperti Syouyu Ramen with soy sauce taste, Miso Ramen with Miso taste, atau buat yang suka pedas bisa mencoba Karami Ramen. For those who love Chicken Ramen, Tokyo Tabushi menawarkan Tokusei Chukasoba atau Chicken Soup Ramen. Setiap ramen bisa diupgrade dengan tambahan pilihan topping hanya dengan menambah Rp20.000. Mereka juga punya appetizer mulai dari gyoza, chicken kaarage hingga roast pork belly. Sayangnya, berhubung masih dalam tahap tes pasar dan terus berkembang, mereka belum mempunyai dessert untuk teman makan ramen. Chef Fukuda bilang dalam waktu dekat akan tersedia dessert. Hooray! Nah, yuk simak pengalaman saya mencicipi aneka makanan ala Tabushi, Jepang ini.

Tori Kaarage (25K)

This is a well opening appetizer! Kulitnya bagian luar ayamnya sangat crunchy dengan aroma kecap dan madu yang kuat, begitupun pas digigit saya bisa menikmati rasa asin, gurih dan manis sekaligus. Bagian dalamnya juga kenyal dan mudah digigit, adonan tepung sagu yang membalut daging ayamnya sangat lunak dan lembut menyatu sempurna dengan daging yang lembut. Ah enough to say! Oishiii!


Chicken Namban (28K)

Appetizer ini menurut saya unik selain daging dada ayam yang di marinated dan digoreng tepung, saus tar tar-nya sangat enak! Saus tar-tar yang jadi pelengkap cocolan ayam namban ini dibuat dari campuran saus tar-tar dengan potongan telur rebus dan menurut saya ada tambahan mayonnaise di dalamnya karena pas dimakan rasanya persis seperti mayonnaise gurih, sedikit asam da nada manisnya sedikit. I really love it!


Tabushi Ramen (48K)

Nah, ini dia signature ramen disini. Ramennya disajikan dalam mangkuk putih besar karena porsi disini juga porsi besar. Oiya, ramen disini tersedia dalam dua pilihan daging tonkotsu (babi) atau chicken. Sayangnya, khusus si Tabushi ini hanya tersedia dalam daging babi. Kalau saya lihat ramen ini kuahnya memang sangat pekat sampai berwarna cokelat, mie-nya sendiri tebal (bisa request kalau mau mie yang lebih tipis) dan ditambah dengan potongan daging babi, nori serta telur ayam setengah matang. Tapi ternyata rasa kuahnya sangat asin kalau melihat teman saya yang memakannya hihi…Dia sampai berkali-kali memastikan kuahnya memang sangat asin dan ternyata memang benar, karena ini signature dish yang notabenenya asli Jepang makanya dibuat asin sesuai dengan selera orang Jepang asli.


Mabo Ramen (52K)

Saya penasaran dengan ramen ini karena ini satu-satunya ramen yang ramah untuk vegetarian. Disajikan dalam mangkuk yang cukup besar, ramen dengan mie cukup tebal ini membuat saya tersenyum karena bertopping potongan tofu dan sayuran, seperti kol, tomat dan telur setengah matang. Ditambah dengan potongan chicken atau babi sesuai pilihan. Kuahnya menurut saya kurang gurih dan buat penyuka pedas sepertinya perlu menambahkan sedikit bubuk cabai kedalamnya.


Miso Ramen (52K)

Kalau sebelumnya Mabo Ramen cukup sehat karena bertopping sayur, si Miso Ramen ini lebih sehat lagi karena katanya kandungan kuah ramennya bisa membantu menurunkan kolesterol. Wah, saya terkejut sekali, masa sih? Ya, kuah ramen ini mengandung black garlic yang konon membantu menetralkan kolesterol dalam darah. Kuahnya sendiri seperti umumnya kuah miso, gurih dan sedikit terasa kari ayamnya. Kuahnya awalnya berwarna kuning tapi semakin menghitam jika diaduk karena ada black garlic didalamnya. Toppingnya sendiri terdiri dari chicken, telur setengah matang dan nori. Kita juga bisa menggantinya dengan babi. Saya suka sekali kuah misonya, rich of flavour!


Syouyou Tsukemen (48K)

Dipping ramen ini dibuat terpisah. Mie-nya disajikan kering dan kuahnya ditempatkan dalam mangkuk yang cukup besar. Tapi sayangnya, tekstur mie yang terpisah dengan kuahnya malah terlalu lengket dan keras. Saya butuh perjuangan untuk mengambil mie-nya loh hehe...Cara makannya ambil mie-nya dengan garpu atau sumpit kemudian makan bersama kuahnya atau istilahnya cocol dengan kuahnya. Sebenarnya agak repot memakannya apalagi mie-nya susah diambilnya hehehe...Tsukemen ini menurut saya kuahnya asin sekali seperti yang sebelumnya saya bilang, khasnya orang Jepang hehehe….Tapi tenang mereka menyediakan kuah gurih untuk penetral rasa asin. Tapi buat saya sih sebanyak apapun kuahnya, tetap saja asin banget hahaha!


Untuk harga mereka masih dalam range wajar. Aneka ramen dibanderol dari harga Rp48.000 - 52.000, sedangkan appetizernya bisa dinikmati mulai dari Rp.15.000 - 28.000. Minuman juga tidak terlalu banyak rata-rata harganya Rp10.000 - 15.000

So, bagi kamu pecinta ramen, silahkan mencicipi dan membandingkan ramen ini, apakah bisa menjadi tempat yang bikin kamu balik lagi atau tidak. It's your choice! Me? Well, maybe not maybe yes hehehe 

Tokyo Ramen Tabushi

Jl. Boulevard Kelapa Gading, Blok LA-4 No.18
Kelapa Gading

Tel. 021-4500368
@tabushi_ramen

Koh e Noor : Icip-Icip Pakistani Food

0 komentar

Masakan negara-negara Middle East memang tidak pernah ada matinya. Selalu saja ada yang berbeda dari tiap masakannya di tiap negara. Kali ini saya mencicipi restoran Koh e Noor yang merupakan Pakistani dan Indian restoran. Restoran ini terletak di lantai dasar Plaza Festival Kuningan disebelah 711. Dari luar restoran ini terkesan sanngat privat karena tertutupi tirai. Pencahayaannya pun redup dengan lampu-lampu hias kuning namun menimbulkan kesan romantis dan hangat. Di dominasi warna merah pada furniturnya, saya bersama teman-teman penasaran ingin mencicipi seperti apa menu ala Pakistan. Masuk ke dalam restorannya, interior berubah menjadi dominasi merah mulai dari sofa hingga napkin-nya. Lampu-lampu hias juga masih menghiasi langit-langit restoran di pinggir-pinggir jendelanya. Beberapa pigura berukir emas juga tampak di beberapa sudut dinding.

Saat saya kesini restoran ini sedang sepi, beruntunglah tidak sampai 1 menit pelayannya memberikan buku menu. Menu yang mereka tawarkan disini rata-rata mirip dengan masakan India hanya ada perpaduan juga dengan menu Pakistan. Sebut saja Chicken Tikka, Briyani Rice, Roti Prata menjadi jualan utama disini. Ada juga beberapa menu Pakistan yang tidka familiar di telinga aya, misalnya Daal, Paneer dan lainnya. Karena penasaran akhirnya saya mencoba beberapa menu Pakistan seperti berikut ini:

Daal Makhni (50K)

Ini berupa lentil (sejenis kacang-kacangan) yang dimasak dengan butter dan special bumbu sindhi masala. Agak rumit memang membaca bahan-bahannya tapi pas disajikan, makanan ini terlihat seperti bubur bayi berwarna kuning. Ewww awalnya saya nggak berani mencobanya, tapi pas dicicpi ini seperti bubur kari saja. Enak, rasa karinya begitu terasa namun nggak terlalu pekat dan ada sedikit remah-remah lentilnya yang sebenarnya sedikit mengganggu tenggorokan saya. 


Paneer Sagwala (55K)

Ini lebih aneh lagi penyajiannya. Hanya disebuah cawan kecil dan tekstur makanannya lagi-lagi seperti bubur bayi. Tapi ternyata ini memang bayam yang diblender bersama keju. Teksturnya lebih lembut dari Daal Makhni dan tidak menimbulkan rasa aneh di tenggorokan. Rasanya sih dominan bayam dengan rasa gurih dan sedikit asin. Tapi buat saya ini nagih banget loh.


Chicken Briyani (70K)

ini sebenarnya sudah sangat biasa buat saya. Nasi Briyani India ini terbuat dari beras basmati dengan ukuran lebih panjang dari beras Indoneisa. Warnanya juga kuning keoranye-an dan biasanya dimasak dengan aroma kari dan disajikan dengan chicken atau lamb. Nasi Briyani yang saya makan ini aroma dan rasa karinya sangat menyengat bahkan hingga kedalam daging ayamnya.


Chicken Tikka Makhanwala (70K)

Menu ini tidak pernah ketinggalan tiap kali saya pesan masakan India. Disini bumbu chicken tikka-nya sangat pekat bahkan sampai bagian kulit daging ayamnya dibuat berwarna merah yang membuat aroma dan rasa campuran kari dan bumbu masala sangat menyengat namun tidak pedas sama sekali.


Untuk dessertnya, saya mencicipi sesuatu yang unik juga. Ini dia:

Gajar Halwah (25K)

Pernah membayangkan wortel dijadikan dessert? Nah jangan heran, menu ala Pakistan ini berupa wortel yang diparut kemudian dicampur dengan susu cair, jadilah si Gajar Halwah ini. Enak banget! Tekstur wortelnya sudah sangat halus dan menjadi sedikit kaku karena dicampur dengan susu kental manis. Meskipun menggunakan susu kental manis, tapi rasa wortelnya manisnya pas dan tidak membuat eneg.


Gulab Jamun (22K)

Dessert yang ini lebih aneh lagi, saya pikir awalnya ini mocha ternyata ini berupa fried milk balls yang disajikan dengan sirup manis dan ditaburi dengan parutan almond dan kacang-kacangan. Jadi, kalau kata pelayannya ini berupa susu skim yang dibentuk bulat dan digoreng kemudian disiram dengan sirup manis dan beraroma vanilla. Duh, mendengarnya saja sudah membuat saya merinding, nggak kebayang manisnya dan ternyata benar saja, cukup dua suapan saya menyerah. Too much sweet!


Harga makan disini cukup high dan porsinya juga menurut saya kecil jadi lebih baik dinikmati dengan makan bersama, jadi bisa pesan makanan kecil banyak untuk rame-rame. Rangenya mulai dari Rp33.000 - 85.000 untuk makanan sedangkan minuman mulai dari Rp15.000 - 30.000

Overall, saya suka sekali dinner disini, selain sepi dan terkesan private, makanannya pun unik-unik. Pelayannya juga ramah dan dengan snenang hati menjelaskan pada saya bahan-bahan yang terkandung dalam makanan Pakistan yang unik dan aneh-aneh itu hihihi…Buat yang suka kulineran, wajib banget nyobain masakan disini, apalagi carrot dessertnya! 

Koh e Noor
Indian & Pakistani Restaurant

Plaza Festival GF 03-04,

Jl. HR Rasuna Said Kav. C-22

Kuningan

Madame Lily: Their Food & Price Honestly Speak With Attitude

2 komentar

Actually I do not particularly like to dinner in ​​Plaza Indonesia area, not only because this is a high class mall but I feel like it’s too 'lame' to join with socialites women or aunties who dress up glamorously while carrying their favourite branded bag and dining in several resto here hahaha (yeah okay it’s just in my mind, I’m not judging). But then, how can I resist an invitation from my friends to taste a recently-established restaurant even though I should again sit next to the ladies carrying Hermes. Oh God not again! Well, first thing on my mind when I stared at a word ‘Honest Food with Attitude’, in front of the resto, was ‘Do they serve that?’. I kept my thought first while waiting for some of other friends and looked around this fancy resto. Anyway, I adore their interior, how they could arrange a not-so-spacious place to one minimalist but looking glamour and chic by putting grey and silver in most of their furniture also with many mirrors embedded on the wall. It’s Victorian style indeed, but juggled adequately. At least I don’t have to bring the Hermes or LV to dine here hahaha…


I love how they set their entire interior, from the broken white engraved lamp to wine buffet, from the cake tire which make the cake seems delish to a tissue embellished with a word ‘Call Me 2992 3868’. It quite honest like a guy put his cell phone number in the club to ask you join his next drink invitation or sort of ask you a date ;-) . Talking about honest, Madame honestly is declaring that they serve Indonesian fusion cuisines which again raise my curiousness. As I opened the menu book, I saw their honest trying to serve various kind of Indonesian with internasional fusion such as in Pizza Tuna Sambal Matah or Spaghetti Tuna Sambal Matah. The rest is various kind of Indonesian food such as Rendang Wagyu, Sop Buntut, Nasi Bali paired with various kind of western and Italian food such as pasta, salad, roast chicken, grilled chicken and of course desserts that I could not resist.


So, here’s I tried to open my stomach honestly tasted their food. The first I tasted Dory Cream Chowder (52K). This is a thick condensed soup consists of dory and cream. I thought it’s more like cream soup with dory and some potatoes, carrots and chicken cutlets inside. It’s a lil bit tasty, not too creamy. It just went well on my stomach and great to open my taste buds.


Next is Nasi Bali (89,5K) which I wanna say honestly that the portion is inversely disproportional with the price. However, I still interest with the overall combination served. The tiny satays (sate lilit) were delish, flavourful and quite tender, so did the shredded chicken and Pindang boiled egg, but I didn’t find any surprising flavour in its shredded vegetables or Indonesian called it ‘urap’. It is too plain for me. Overall, it’s good trying, if I can tell Madame directly, I wanna say please reconsider the portion, Madame. It’s too tiny for the high price.


After Indonesian fusion, I had BBQ Chicken Pizza (78K) with an unusual kind of serving; the pizza was made in a rectangular shape and placed in also wooden rectangular pan. Soft dough with rich of BBQ flavour and their melted cheese just make me feel head over heels. 


Cream Dory Mille Feuille (88K). Ah this dish too fancy for me. At first, I worried the taste wasn’t as good as its appearance but after munching the crunchy chips covered with melted cream and the juicy dory, I could say to myself to not judge a book by its cover. One thing I, again, regretted was only the price and the portion. Compared to the previous Nasi Bali, this is much more overrated! Do you think the same, Madame?



Finally, the night was closed with Honey Comb Crunch Cake (40,5K). It had a soft texture more like chiffon cake with a sweet cream and honey comb crunch cutlets. I didn’t put my interest on the cake, but I love the honey comb crunch, the caramel flavour made me want to munch it more and more. Satisfy my sweet tooth madness!


And oh the drink, I tasted several mocktails and latte of them (left to right, clockwise):

Apple Kiwi Crumble (44.5K). This is fresh kiwi and apple topped up with soda. It’s indeed refreshing!
Strawberry Peach Crumble (44.5K). This is fresh strawberry and peach topped up with soda, compared to the previous, this one more bitter and the soda I didn’t know more shocking in my tongue.
Berries Ice Tea (44.5K). This is a great fusion of strawberry and cranberry. Sweet enough and also refreshing!
Green Tea Latte. The green tea was well-blended with the latte. It just great for me.


If I should be honest about their price, I would say that they are overrated. They start the appetizer to main course from to dessert in range of IDR38.000 to 300.000, while the desserts are from IDR IDR25.000 to 97.500. Beverages start from IDR35.500 to 95.500.

Overall, I really enjoy dinner here but after I leave the resto, I feel like I wanna drop my honest comment about what actually they want to offer. They are not a fine dining restaurant but why should they embed an overrated price for a very tiny portion. They might be located at a high class mal but I thought their competitor doesn’t put too much price for a tiny portion. I thought that…ah too many thought in my mind…Let Madame answer the reason with their heart honestly and action with their respectable attitude. 

Madame Lily

Plaza Indonesia, Beauty Floor, 4th FloorJl. MH Thamrin Kav. 28-30
Jakarta
021 29923868 
@mdmlily

Decanter Wine House Dining Story

0 komentar

Setelah puas menikmati wine tasting yang diadakan di Decanter Wine House, saya dan beberapa teman-teman food blogger melanjutkan malam sambil ngobrol dan makan. Rasanya sayang sekali meninggalkan tempat hangout yang suasanya cozy banget seperti Decanter. Interior yang mereka usung sebenarnya seperti normalnya sebuah wine house atau lounge. Khusus di bagian lounge-nya konsep industrial sangat kental dengan bar table dan bar chairs terbuat dari kayu ditambah dengan deretan bohlam yang sangat banyak menghiasi langit-langit dan membawa nuansa romantis saat malam tiba. Di area resto-nya terdapat dua area, area sayap sebelah kiri resto terdapat sofa/bangku dan meja panjang dengan ukuran rendan, sementara di sayap kanan resto terdapat wine chiller dan bar table juga. Di area tengahnya terdapat set dining table panjang lengkap dengan gelas wine dan perlengkapan makannya. Masuk ke area agak dalam, kita dapat melihat semi open kitchen-nya serta toilet yang bergaya sedikit eklektik. Semakin malam nuansa bar & lounge ini semakin romantis, lampu-lampu kuning semakin meredup dan menghantarkan cahaya hangat yang cocok untuk menikmati private dining.


Saya pun menikmati private dining saya bersama teman-teman sambi menyicipi beberapa menu andalan Decanter. Berhubung perut sudah sedikit penuh dengan tegukan-tegukan wine, jadi kebanyakan dari kami hanya memesan menu appetizer untuk di sharing.

Escargot in Beer Batter Blanket (40K) yang disajikan dengan Garlic & Herbs Butter menjadi the best opening for that night. Tekstur escargot-nya begitu empuk meskipun sudah dibalut tepung dan direndam dalam beer batter. Sayangnya, agak terlalu asin, maybe next time saya bisa request untuk tingkat keasinannya ya.


Blackpepper Crusted Tuna Loin (82,5K) disajikan dengan Arugula and Fennel Salad serta Caramelized Onion and Balsamic Mustard Dressing. This is the very first time I met Arugula and Fennel which I thought inedible but this time it’s served as salad haha…The leaves are plain and smells like mint and left a highly herb aroma on my mouth. Ditambah daun Arugulanya agak tajam di pinggirannya, jadi lucu terasa ada yang menggigit di lidah. Blakpepper Crusted Tuna-nya sendiri very juicy, blackpepper-nya menempel di bagian pingir tuna dan tidak pedas sama sekali buat saya, malah cenderung asin. Dengan beragam sensasi rasa yang ‘baru’ dari tiap ingredients-nya, I thought I’m not into this food.


Grilled Calamari (50K) disajikan dengan Spicy Tomato Fondue. Satu kata. Scrumptious! Daging cuminya empuk dan kenyal banget, sangat fresh. Sambalnya juga agak pedas jadi bisa menetralkan si calamari yang plain dan hanya half-grilled ini.



Classic BLT (65K), sandwich disajikan dengan beef, lettuce, tomato, egg dan friench fries. Penutup malam kami kali ini malah agak berat hehe…but it’s worth to try, sandwich dengan isi daging, tomat, lettuce, dan telur yang segar itu nggak pernah salah. Berhasil membuat saya say enough! I’m full hihi…


Harga makanan dan minuman disini sedikit middle-range, mulai dari Rp40.000 – 250.000, sedangkan minumannya lebih sangat bervariasi apalagi mereka juga menyediakan wine. Range minuman non wine-nya mulai dari Rp25.000 – 45.000 sedangkan wine per bottle-nya biasanya berbeda harga tergantung jenis dan mereknyaPelayanan disini sangat ramah dan cekatan. Ditambah dengan owner dan manager-nya yang siap menampung segala masukkan dari saya dan teman-teman blogger malam itu tentang makanan dan wine-nya. Anyway, I really enjoy to have dinner here, most of all paired with bottles of wine. Suasana, makanan, orang-orangnya semuanya ramah dan serasa menyatu malam ini. Pun saya nanti akan kesini lagi, saya rasa nggak ada salahnya membawa orang tercinta untuk menghabiskan malam disini.                                                                                            




Decanter Wine House

Plaza Kuningan
Menara Utara. Ground Floor
Jl. H.R. Rasuna Said Kav. C11-14
Jakarta 12940, Indonesia
T +62 21 529 63888
F +62 21 529 22215

@DecanterJakarta

 
  • Eating Until Die © 2012 | Designed by Rumah Dijual, in collaboration with Web Hosting , Blogger Templates and WP Themes